Breaking News

Pasar Saingan Makin Merajalela 

 

SANGATTA – Pasar Induk Sangatta dan Pasar Sangatta Selatan memiliki pesaing ketat. Yakni pasar yang banyak bertebaran di pinggir jalan. Baik di sepanjang jalan Jalan Poros Yossudarso, Diponegoro, ATP. Pranoto dan beberapa jalan lainnya. Dari pantauan Radar Kutim, ada puluhan lapak baru yang membuka dagangannya di bibir jalan. Mulai dari pasar ikan, pasar sayur, buah, makanan dan lain sebagainya.

Dikatakan Ainun, salah seorang pedagang Diponegoro, dirinya membuka lapak baru lantaran potensi pembeli sangat besar. Selain merupakan perlintasan masyarakat yang beraktivitas dalam setiap waktunya, saingan juga sangat sedikit. Tidak seperti halnya di pasar resmi, pedagang seperti dirinya sangat banyak sekali.

“Saya jual udang, kalau ada jual ikan juga. Alhamdulillah, laris jualan saya. Karena orang lewat, lihat kami jual udang, langsung singgah saja. Kan kami saja pilihannya, kalau di pasar, banyak sekali pilihan,” kata Ainun.

Alasan lain, dirinya tidak memiliki lapak di Pasar Induk Sangatta. Kalaupun ada, besar kemungkinan dirinya menolak hal tersebut. Pasalnya, selain bayar, dirinya juga harus bersaing dengan puluhan pedagang lainnya. Sedangkan di pinggir jalan, banyak keuntungan yang didapatkannya.

”Utama, dekat rumah, ramai, dan terpenting tidak bayar. Lagian kalau jualan di pasar, kami juga enggak punya lapak. Kalau dikasih, saya mau gratis. Paling tidak, lapak kami tarifnya lebih rendah dari tarif pedagang besar lainnya,” katanya.

Dimanapun tempatnya, yang jelas dirinya menganggap tidak mengganggu ketertiban masyarakat dan arus lalu lintas. Kalaupun tetap dilarang, maka dirinya mempersilahkan untuk menertibkan pedagang besar lainnya terlebih dahulu sebelum dirinya. Misalnya di daerah kelurahan Teluk Lingga. Karena setahu dia, Pasar Teluk Lingga, pasar Gang Rejeki, semuanya tidak mengantongi izin.

“Kalau saya hanya jual udang dan ikan saja. Kalau mau dilarang, di sana (Teluk Lingga, red) tu banyak yang besar. Motor, mobil juga padati jalan untuk parkir. Nah yang seperti itu layak dilarang. Kalau kami tidak ganggu sama sekali,” katanya.

Sementara itu, Risa, salah seorang konsumen menuturkan, dirinya berbelanja dipedagang pinggir jalan karena langsung berpapasan pada saat pulang bekerja. Sehingga tidak menyulitkannya untuk kembali ke pasar Induk atau Sangatta Selatan. “Udang saja masih hidup. Ikannya juga segar-segar. Harganya juga sedikit lebih murah dari di pasar. Jadi tempat ini sudah jadi langganan saya beli ikan atau udang. Kalau mau beli sayur, tinggal melangkah saja ke depan. Jadi cukup lengkap juga di sini (Poros Diponegoro,red),” katanya. (dy)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Related Articles

Back to top button