Bontang

Klaim Kuota Tabung Melon Aman

BONTANG – Kuota tabung melon atau elpiji 3 kilogram di Kota Taman masih terbilang aman. Pasalnya, hasil pemantauan dan pendataan Kabag Sosial dan Ekonomi (Sosek) Bontang mendapati pasokan tabung melon masih mencukupi dan harga jual sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET). Bahkan, Agustus lalu, Pertamina sempat menambah kuota gas elpiji 3 kg untuk Bontang sebanyak 4 persen.

Kabag Sosek Setda Bontang, Aguswati menuturkan, hasil pemantauan dan monitoring lapangan mendapati beberapa pangkalan memang sedang kosong stoknya. Namun di pangkalan lainnya stok elpiji 3 kg masih ada dan tersedia cukup banyak ada yang tersisa 40 tabung, 19 tabung, 10 tabung, dan 19 tabung.

“Dari hasil pantauan kami, stok tabung masih mencukupi, dan harga jualnya juga sesuai. Ketidaksesuaian hanya ada pada tingkat pengecer,” jelas Aguswati, Rabu (5/9) kemarin.

Sementara kelangkaan yang sempat terjadi beberapa waktu lalu, dikatakan Agus karena pada bulan Agustus tempat pengisian gas di Samarinda sempat terjadi kerusakan pada alatnya. Sehingga ada sedikit pengurangan pada kuota per hari yang diterima oleh agen.

Hal tersebut, lanjut Agus tentu memengaruhi pada kuota para pangkalan-pangkalan yang berujung kelangkaan di beberapa lokasi.

“Tetapi dari hasil monitoring dapat terlihat bahwa stok saat ini aman, dan kami akan tetap melakukan pemantauan,” ujarnya.

Pemantauan dan monitoring lapangan oleh tim bagian Sosek serta Satpol PP Bontang ini dilakukan di 6 lokasi. Terdiri dari 5 pangkalan dan 1 pengecer. Data yang diterima di satu pangkalan dan satu pengecer stok gas elpiji 3 kg habis, namun 4 pangkalan lainnya masih aman.

Sementara itu dari pihak Pertamina, Sales Executive LPG Kaltim Muhajir Kahuripan mengatakan pihaknya sudah mendapat informasi adanya kelangkaan dan harga yang melambung di Bontang. Padahal, saat momen Iduladha bulan Agustus, Pertamina menambahkan kuota elpiji 3 kg sebanyak empat persen. Dari kuota per hari 4.700 tabung, menjadi 5.600 tabung perharinya selama Agustus.

“Bahkan, penambahan kuota tersebut, sampai sekarang masih sisa dan belum terserap semua,” ujar Muhajir.

Memang diakuinya, pada Agustus lalu sempat terjadi kendala pada mobil tangki LPG atau Skidtank di salah satu tempat pengisian. Namun, tempat pengisian lainnya masih berjalan normal. Sehingga, distribusi elpiji ke setiap daerah masih sesuai kuota.

“Pertamina komitmen menyediakan LPG dan masyarakat tidak perlu panik sehingga melakukan pembelian secara berlebihan,” ungkapnya.

Pembelian LPG berlebihan ini yang memicu kelangkaan dan harga mahal. Belum lagi masih banyaknya penggunaan gas 3 kg yang tidak tepat sasaran. Seperti rumah makan, usaha mikro, pengusaha laundry, serta peternak juga seharusnya tidak lagi menggunakan tabung gas melon. Mengingat pendapatan usaha atau rumah makan diatas Rp 800 ribu dilarang menggunakan tabung bersubsidi.

“Biasanya saat disidak atau ditegur, mereka ganti.Tetapi dua minggu setelahnya kembali menggunakan gas bersubsidi lagi,” terang dia.

Hal seperti itu tentu perlu kesadaran dari semua masyarakat Bontang. Sehingga yang merasa mampu, seharusnya malu menggunakan gas bersubsidi. “Jika kesadaran itu dimiliki maka tidak ada lagi kelangkaan yang memicu harga melambung,” pungkasnya. (mga)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button