Bontang

Dolar Menguat, Produsen Tahu Tempe Cemas

BONTANG – Tingginya nilai dolar AS terhadap mata uang rupiah bisa berdampak ke berbagai sektor ekonomi, tanpa kecuali bidang usaha skala kecil-menengah yang masih mengandalkan bahan baku impor.

Usaha pembuatan tahu tempe salah satunya, di mana kedelai sebagai bahan baku utama hingga kini masih tergantung pasokan dari luar negeri. Meski pengusaha tahu tempe ketar-ketir terkait menguatnya dolar AS, namun hingga saat ini kondisi tersebut belum begitu berpengaruh terhadap usaha pembuatan tahu tempe yang ada di Bontang.

“Biasanya jika kurs dolar naik, harga kedelai juga akan ikut naik. Namun sejauh ini di kami harganya masih sama. Belum ada kenaikan. Terakhir ada kenaikan setengah tahun yang lalu. Harapan kami jangan naik harganuya,” ujar Mudawam, salah satu pengusaha industri tahu-tempe di Gang Rawa Indah, Kelurahan Api-Api saat dikonfirmasi Bontang Post, Kamis (6/9) kemarin.

Dijelaskan Mudawam, perjalanan kedelai sebelum masuk ke pabriknya sangat panjang. Kedelai yang dia pakai sebagai bahan baku sehari-harinya merupakan kedelai yang diimpor dari Amerika, Vietnam, Thailand, dan India. Kedelai tersebut dikirim ke Surabaya dan Jakarta, lalu diteruskan kembali ke Pelabuhan Palaran Samarinda dan akhirnya sampai di tangan Mudawam.

“Kalau membeli kedelai lokal. Harganya malah lebih mahal. Sehingga rata-rata pengusaha tahu-tempe banyak mengambil dari luar negeri,” ucapnya.

Pria yang sudah menekuni usaha industri tahu-tempe sejak 1991 tersebut berujar, pihaknya sudah menyiapkan beberapa opsi jika memang nantinya usahanya ikut terdampak terhadap kenaikan harga kedelai. Jika kenaikannya tidak signifikan, maka dirinya tidak menaikkan harga jualnya. Namun apabila kenaikannya signifikan, maka akan dua opsi yang akan dipilih. Harga jualnya dinaikkan atau ukuran tahu tempenya yang dikecilkan. “Itu hanya pilihan jika harga kedelai naik. Namun harapan kami jangan sampai harganya naik,” harapnya.

Meski terjadi kenaikan harga kata Mudawam, untuk produksi dan penjualan tidak pernah mengalami penurunan. Dia menyebut, hal ini bisa jadi dikarenakan kebutuhan masyarakat terhadap tahu dan tempe masih menjadi pilihan utama dan harganya yang terjangkau. Sehingga meski harganya naik, tapi masih tetap menjadi pilihan.

“Produksi kami setiap harinya tidak pernah berkurang. Pelayanan ke pasar-pasar tradisional, usaha-usaha katering, dan pedagang-pedagang baik di Bontang maupun sampai di Kutim masih tetap berjalan seperti biasanya,” tukasnya. (bbg)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button