Kaltim

Tak Mau Kaltim Bernasib seperti Aceh

SAMARINDA – Rencana pemasangan pipa gas sepanjang 340 kilometer (km) yang akan dilakukan PT Bakrie and Brothers mendapat penolakan dari Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak. Terdapat beberapa alasan dari Awang menolak rencana tersebut. Salah satunya pipanisasi gas disebut akan merugikan masyarakat Kaltim.

Menurut dia, pemasangan pipa gas yang akan memakan investasi USD 500 juta itu akan membawa banyak dapat negatif bagi daerah. Antara lain gas akan diangkut ke Pulau Jawa, sehingga akan menciptakan kelangkaan gas di Kaltim.

“Gas kita akan keluar lebih cepat. Cepat habisnya, cepat deadline-nya, dan cepat pemiskinan kepada daerah,” tegas Awang Faroek, Kamis (6/9) kemarin.

Kata dia, pengangkutan gas menggunakan pipa justru akan mempercepat eksploitasi gas di Benua Etam. Otomatis gas yang diangkut tidak digunakan masyarakat Kaltim. Melainkan akan diangkut dan digunakan di luar daerah.

“Saya ngeri dengan pembangunan pipa ini. Kita akan persis sama dengan Lhokseumawe Aceh yang akhirnya jadi kota mati. Dulu bisa dicontoh. Tetapi sekarang tidak ada lagi yang bisa dicontoh dari Lhokseumawe. Karena semuanya sudah tutup,” ungkapnya.

Cara demikian, lanjut Awang, hanya akan merugikan Kaltim. Padahal provinsi ini masih membutuhkan banyak pasokan gas. Baik untuk kepentingan rumah tangga maupun gas di sejumlah industri yang beroperasi di Kaltim.

Selain itu, mantan Bupati Kutai Timur itu berpendapat, beragam kawasan industri strategis yang telah dibangun di Kaltim masih membutuhkan dukungan pasokan gas dalam jumlah besar.

“Kecuali kalau mereka ingin menyukseskan KEK Maloy, Kawasan Industri Buluminung, kerja sama dengan Rusia, kemudian kawasan Kariangau. Boleh saja. Tapi kalau sampai dibawa ke Jawa, habis kita,” ucapnya.

Awang Faroek menegaskan, sejatinya Kaltim lewat beberapa blok minyak seperti Blok Mahakam dan Blok Sangasanga, menyimpan potensi gas yang sangat besar. Namun belum sepenuhnya dapat mendukung Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG).

“Kita kaya dengan gas. Tetapi baru satu PLTG yang bisa dibangun. PLTG di Senipa. Padahal kita perlu membangun PLTG lain. Semuanya memerlukan gas,” katanya.

Pun demikian, Awang Faroek khawatir dana yang digunakan untuk investasi pemasangan pipa menggunakan dana asing. Dengan mengajak pihak asing, sama saja memberikan kemudahan bagi investor luar negeri untuk mengeruk gas di Kaltim.

“Saya yakin ini pasti ada rencana jangka panjang yang telah diatur pihak luar negeri untuk memanfaatkan dan mengambil gas di Kaltim. Sebab Blok Mahakam, Blok Sangasanga, dan semuanya masih berpotensi menghasilkan gas,” terangnya.

Awang Faroek menjelaskan, dirinya belum pernah mendapat laporan dari pemerintah pusat terkait rencana tersebut. Bahkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan belum pernah menyampaikan rencana pemasangan pipa gas oleh PT Bakrie dan Brothers tersebut.

Terakhir di Penajam Paser Utara (PPU), Awang Faroek bersama Jonan pernah duduk satu meja. Keduanya membicarakan pemenuhan gas rumah tangga di Samarinda, Bontang, Tenggarong, dan Tarakan.

Namun  Jonan tidak menyinggung rencana pipanisasi gas di Kaltim. Karena itu Awang mengaku heran dengan adanya proyek yang mendapat kesepakatan dari Badan Pengatur Hilir (BPH) Minyak dan Gas (Migas) itu. “Sekarang BPH Migas yang mengizinkan pembangunan pipa. BPH Migas ini saya belum tanya lagi. BPH Migas ini kan enggak jelas,” ucapnya.

Sejatinya rencana pembangunan pipa tersebut telah diembuskan sejak era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kala itu, Awang konsisten menolak proyek tersebut. “Waktu itu saya sendiri yang menyampaikan pada DPR RI dan Pak SBY. Dan beliau menyatakan setuju dengan pendapat saya,” katanya.

Namun demikian, Gubernur Kaltim dua periode itu akan membahas secara terbuka rencana tersebut. Dia akan menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), tokoh masyarakat, PT Bakrie and Brothers, serta DPRD.

“Secepatnya akan kami laksanakan. Kalau bisa Bagian Humas segera laksanakan FGD. Adakan secepatnya dalam satu atau dua hari ini,” imbuhnya.

Diketahui, PT Bakrie and Brothers telah ditunjuk untuk memasang pipa gas sepanjang 340 km. Pipa tersebut akan melintasi Bontang, Kukar, PPU, Balikpapan, dan Paser.

Pipa tersebut dipasang untuk mengalirkan gas yang dieksploitasi oleh perusahaan di Kaltim. PT Bakrie hanya memasang pipa yang nantinya akan digunakan untuk mengalirkan gas yang dimiliki perusahaan.

Sedianya, proyek tersebut akan dimulai tahun ini. Diperkirakan, pemasangan pipa akan memakan waktu hingga empat tahun ke depan. Pasalnya proyek itu membutuhkan lahan dan perizinan dari pemerintah daerah hingga pemerintah pusat. (*/um)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button