Breaking News

Pernah Alami Hal Mistis, Rangkap Profesi Buruh Bangunan

Nasib pengrajin patung berbahan baku semen dan pasir, di Bumi Etam, Desa Sangatta Utara kini kian merosot. Kerajinan yang pernah berjaya pada masa 1980an ini semakin sepi peminat. Kondisi itu diperparah dengan perkembangan zaman.

—–LELA RATU SIMI, Sangatta——

Salah seorang pengrajin patung, Wayan (44) mengatakan, saat ini peminat hasil kerajinannya kian menurun. Pria kelahiran Bali itu, mengaku sangat jarang menerima pesanan. Sehingga dirinya harus merangkap profesi menjadi buruh bangunan.

“Saya bikin patung sudah hobi dari 25 tahun yang lalu. Tapi jarang ada yang beli, paling kalau ada pesanan baru buat,” ungkapnya saat disambangi belum lama ini.

Dia mengawali karirnya sejak menetap di Bali, sesaat akan mengabdikan diri di Kutim. Pengrajin ukir ini mengaku kerap kesulitan dalam pembuatan, yakni anatomi yang ditampilkan teramat menyulitkan, ukiran yang harus sesuai dengan sejarahnya hingga sulit untuk memasarkannya.

“Sebenarnya susah-susah gampang. Tapi dengan belajar, saya bisa buat patung apapun. Yang susah itu menjualnya,” tuturnya.

Mendasar dari hobi itu, sekira Rp 2 juta merupakan modal yang dikeluarkan untuk pembuatan satu patung berukuran sekira 2,5 meter. Sehingga kadang, dirinya menjual dengan kisaran Rp 3 juta. “Kalau dicat warna ya bayar lagi. Sekarang saja minim peminat, kalau naikan harga, saya rasa tidak bakal laku,” jelasnya.

Ia menceritakan sejumlah pengalaman yang telah dilalui. Saat Wayan akan membuat salah satu patung di Kecamatan Long Mesangat, ia tertimpa sakit yang tak diketahui asal-usulnya. Menurut anggapan orang banyak, dirinya telah pembuat patung yang menyeramkan, sehingga mengalami kejadian mistis.

“Dokter bilang saya sehat saja, padahal sakit. Tapi tidak tahu kenapa. Bilang orang pintar, saya salah mengukir rupa patung, sehingga dikenai penyakit. Lalu saya diajak meminta maaf di kawasan itu, baru bisa sembuh,” paparnya.

Menurutnya, pembuat patung sekadar membuat saja sangat banyak. Yang langka itu, pengrajin yang berkarya, mampu memahami karakter patung apa yang akan dibuat, sehingga mudah menyelesaikannya.

“Rata-rata patung besar saya bisa selesaikan selama seminggu, tapi jarang yang menghayati, ya kadang banyak juga yang asal buat tanpa persembahan,” katanya. (*/la)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button