Kolom Redaksi

Memetik Hikmah dari Cinderella Man

Banyak pelajaran menarik bisa kita dapatkan dari lingkungan sekitar kita. Tak melulu dari sekolah, atau nasehat orang tua. Dari mana saja bisa. Bahkan dari menonton film sekalipun.

Saya merupakan salah seorang penghobi nonton film. Film apapun akan saya tonton asal sesuai dengan kriteria. Tidak harus genre action ataupun film dengan efek-efek canggih. Cukup film drama sederhana asalkan punya cerita menarik, saya pasti senang. Intinya adalah pesan-pesan menarik yang ada pada sebuah film. Itulah yang menarik bagi saya.

Cinderella Man. Film yang sangat-sangat baik menurut saya. Beberapa hari terakhir ini saya tonton kembali filmnya. Artinya, sudah kedua kalinya saya menyaksikannya.

Film diangkat dari kisah nyata seorang petinju professional di tahun 1920an, James J Braddock. Bukan kisah kejayaannya di ring tinju, tetapi bagaimana kehidupan di luar ring tinju itu yang cukup menarik untuk diambil hikmahnya.

Singkat cerita, petinju keturunan Irlandia – Amerika Serikat ini awalnya seorang petinju yang disegani. Pernah Berjaya di kelas berat. Bahkan kehidupan ekonomi keluarganya pun termasuk high class. Sayangnya, masa depresi yang dialami Amerika saat itu, ikut menjatuhkan kondisi perekonomiannya. James jatuh miskin. Seperti juga kebanyakan warga Amerika saat itu.

Cukup miris kehidupannya yang diceritakan di film ini. Tidak hanya untuk makan, bayar tagihan listrik dan air pun susah. Sampai harus diputus dan menggunakan lilin sebagai penerang. Tak mampu beli susu, sampai-sampai sisa susu sedikit dicampur dengan air putih sebotol. Bahkan James rela jatah makannya diberikan kepada sang anak. Hingga Ia tak makan saat harus bekerja.

Hikmah yang dapat saya petik dari kisah ini adalah kekuatan dan kesabarannya dalam menghadapi kemiskinan. Dengan tidak mengabaikan dan melanggar norma-norma sosial di masyarakat. Walaupun miskin, James tidak pernah mencuri atau tindakan kriminal lainnya. Prinsip ini juga sangat ditekankan kepada sang anak.

Diceritakan pula, saat sang anak ketahuan mencuri sosis dari toko daging, James justru mengajak anak itu mengembalikan barang yang dicurinya ke toko daging. Lalu menasehati sang anak agar tidak mengulangnya.

Sekalipun miskin, Ia pun tetap menjaga keutuhan keluarganya. Tidak ingin menitipkan anak-anaknya ke orang lain maupun saudara, seperti yang kebanyakan dilakukan warga Amerika saat itu. Agar meringankan beban hidup mereka.

Saat sang istri dengan sangat terpaksa menitipkan anak-anak mereka kepada orang tuanya, James berupaya mengambil kembali. Sekali lagi, tidak dengan jalan pintas seperti mencuri atau merampok. James rela mengemis kepada para promotor tinju. Yang akhirnya bisa membayar tagihan listrik dan air, sehingga Ia dapat kembali mengambil anak-anaknya. Rumah sewaannya pun kembali hangat.

Setiap manusia pasti memiliki potensi kehidupan, yaitu naluri dan kebutuhan jasmani. Keduanya fitrah dan harus dipenuhi. Syaikh Taqiyudin An Nabhani menjelaskan, naluri terbagi menjadi 3. Naluri mempertahankan diri (ghariza baqa), naluri melestarikan jenis (ghariza an nau), dan naluri mensucikan sesuatu (ghariza tadayun). Sedangkan kebutuhan jasmani seperti makan, minum, buang air besar, dan lain sebagainya.

Naluri harus dipenuhi. Namun tidak menimbulkan kerusakan fisik. Hanya menimbulkan kegelisahan jika tidak dipenuhi. Sedangkan kebutuhan jasmani wajib dipenuhi. Karena bakal menimbulkan kerusakan fisik, seperti sakit atau bahkan kematian jika tidak terpenuhi. Pemenuhannya pun harus diatur, sehingga tidak liar dan justru menyengsarakan manusia. Maka di sinilah peran Islam untuk mengatur masalah pemenuhan tersebut. Agar pemenuhan naluri dan kebutuhan jasmani tersebut dapat sesuai dengan fitrah manusia dan mendapatkan nilai pahala di sisi Allah SWT.

Dalam kisah ini, James berupaya untuk memenuhi naluri mempertahankan diri dan kebutuhan jasmani yaitu makan. Ia melakukan apapun untuk mendapatkan uang agar dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia rela menjadi kuli di pelabuhan yang tidak setiap hari dapat bekerja. Rela mengemis kepada promotornya. Bertanding dengan kondisi tangan patah, sampai harus disanksi tak boleh bertinju. Bahkan rela bertanding tanpa berlatih saat mendapatkan kesempatan satu kali pertandingan yang mendapatkan bayaran cukup tinggi.

James benar-benar berupaya maksimal mempertahankan eksistensi diri dan keluarganya. Tetapi tidak dengan cara melanggar nilai-nilai moral yang berlaku di masyarakat.

Walaupun bukan seorang muslim, James Braddock memberikan pelajaran berarti bagi kita yang muslim. Sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita tetap menjaga kuat keimanan kita. Dalam kondisi apapun. Miskin maupun dalam tekanan masalah yang berat. Tetap dalam koridor syariat Islam saat memenuhi naluri dan kebutuhan jasmani. Sehingga tak hanya memberikan kemaslahatan kepada kita di dunia, juga kebaikan di akhirat kelak. (*)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button