Opini

Menjadi Pendidik Profesional di Era Milenial

Oleh: Ratna Juwita, M.Pd (Guru SMAN 1 Bontang) 

Banyak orang yang bertanya, bahkan di kalangan dunia pendidikan sendiri, apakah guru kita profesional?  Tidak mudah menjawab pertanyaan tersebut. Perlu indikator yang tepat untuk dapat menjawab pertanyaan itu. Salah satu indikatornya tentu pendidik harus menguasai empat kompetensi guru. Namun di era milennial ini, seorang guru profesional juga dituntut menguasai teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Meski tugas guru tidak bisa digantikan robot, tetap kita mendidik sesuai dengan zamannya, karena pendidikan itu dilakukan untuk menghadapi problematika yang terjadi pada masanya.

Disadari betul, bahwa siswa yang hidup di era milenial ini dalam sehari bisa menghabiskan 6,5 jam untuk membaca media cetak, elektronik, digital, broadcast dan berita. Mereka mendengarkan dan merekam musik; melihat, membuat, dan mempublikasikan konten Internet serta tidak ketinggalan menggunakan smartphone. Disadari pula bahwa generasi muda pada era kekinian memiliki berbagai macam karakteristik. Mereka suka memegang kendali, tidak mau terikat dengan jadwal tambahan, dan mereka tidak terlalu suka duduk di ruang kelas untuk belajar atau di kantor untuk bekerja. Sebaliknya, mereka lebih suka menggunakan teknologi untuk belajar kapan saja, siang, atau malam, melakukan telekomunikasi dari mana saja dan mendefinisikan “keseimbangan” dengan cara masing-masing.

Generasi milenial tidak bisa terpisahkan dari “setan gepeng” alias telepon genggam. Bahkan, bisa dikatakan alat-alat high technology telah menjadi bagian pokok dari kehidupannya. Benda itu menjadi teman setianya sepanjang hari, yang menempel dengan tubuhnya. Bahkan ketika beribadah, seakan benda itu tidak mau terpisah. Lihatlah pemandangan dalam perjalanan ke sekolah, anak-anak generasi milenial ini seperti tidak mau lepas dengan “setan gepeng”. Tidak heran, ada banyak peristiwa anak-anak ini terluka akibat ditarik oleh penjambret, bahkan berujung maut akibat menggunakan “setan gepeng”  tersebut.  Ada juga kita temui dimana seseorang yang akan berpergian dan kemudian lupa membawa HP, kira-kira apa yang akan mereka lakukan?. Tentu saja, banyak yang akan kembali untuk mengambil HP tersebut. Adapula, seseorang yang kemudian “galau” jika tidak update status di sosial media, dan tentu saja masih banyak contoh lainnya.

Tidak sebatas itu, generasi milenial juga kebanyakan mengandalkan kecepatan yang serba instan, sehingga real time menjadi prasyarat utama bagi generasi ini. Bukan tanpa masalah, jika ini terus menerus terjadi maka yang akan terjadi adalah banyak anak muda yang cuek terhadap kehidupan sosial. Bahkan, hal ini akan bertendensi pada pembentukan karakter anak yang kurang menyukai komunikasi verbal langsung, bersikap individualis dan egosentris, ingin hasil yang instan, serba mudah, serta tidak mampu menghargai proses.

 

Melihat kondisi demikian memang tidak serta merta perkembangan generasi milenial identik dengan sifat karakteristik negative. Sifatnya yang multifaset memang menjadikan sebagian orang berbeda-beda dalam merespon perkembangan generasi milenial.

 

Dalam dunia pendidikan sendiri, perkembangan generasi millineal saat ini tengah memasuki pendidikan menengah atas dan tinggi. Namun, implikasinya benar-benar sangat terasa dimana, banyak guru yang kemudian merasa “galau” dalam menanggapi perkembangan generasi yang satu ini. Disatu sisi, banyak guru yang menginginkan anak didiknya tidak gagap teknologi, namun sisi lainnya mereka juga tidak menghendaki perkembangan teknologi disalahgunakan.

 

Sisi positifnya, generasi milenial telah diajarkan untuk toleran. Mereka tidak dibatasi oleh informasi yang tersedia di perpustakaan lokal atau oleh pencarian linear dalam ensiklopedi. Sebaliknya, mereka menggunakan Internet untuk mencari informasi di seluruh dunia dan menggunakan tautan hypertext untuk belajar tentang subjek baru.

Pertanyaannya, mampukah guru yang terlahir di era generasi masa silam, mengajar siswa yang lahir pada generasi milenial? Jawabnya, tentu sangat ditentukan oleh sejauhmana guru atau tenaga kependidikan mampu menyesuaikan diri. Masih banyak guru yang perlu dilatih menguasai literasi teknologi kekinian, seperti menggunakan aplikasi laptop. Menurut pengalaman dari pengawas sekolah,  masih banyak pendidik dan tendik, khususnya guru yang belum menguasai literasi komputer. Alasannya, mereka masih bisa menyuruh tenaga administrasi sekolah, teknisi, atau teman sesama guru yang menguasai literasi komputer.

Berkaitan dengan teknologi kekinian, ada banyak tantangan yang harus ditaklukkan oleh guru agar mampu menjadi pengajar/pendidik di dalam kelas siswa generasi milenial, diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, pembelajaran harus relevan dengan siswa. Belajar menjadi lebih berarti ketika mereka memahami aplikasi praktis informasi yang mereka terima. Konten harus spesifik, ringkas, dan cepat. Generasi millenal haus informasi dan akan mencarinya sendiri jika guru tidak menyajikan apa yang mereka anggap relevan. Karena begitu banyak informasi yang selalu tersedia, mereka tidak merasa perlu belajar setiap hal segera. Sebaliknya, mereka ingin diajari bagaimana dan di mana mereka dapat menemukan apa yang mereka butuhkan.

Kedua, teknologi dapat mengalihkan perhatian. guru hendaknya melakukan pendekatan dengan mengutamakan pendekatan yang rileks dan responsif terhadap anak. Mereka menghargai waktu bermain yang tidak terstruktur, sama pentingnya dengan aktivitas yang lain. Mereka juga memberikan anak ruang yang mereka butuhkan untuk belajar dan tumbuh secara mandiri. Selain itu, guru hendaknya mampu menerapkan relasi pembelajaran yang lebih demokratis. Plus, guru jangan lupa menekankan fokus baru pada empati, untuk membantu anak berinteraksi dan memahami dunia mereka dengan baik.

Ketiga, teknologi bisa mahal. Biaya yang terkait dengan penerapan sumber daya teknologi baru di lembaga akademis merupakan hal yang menakutkan. Pendanaan perangkat keras, perangkat lunak, infrastruktur, pengembangan profesional, dan dukungan teknis harus menjadi prioritas berkelanjutan.

Keempat, beberapa generasi milenial cenderung tidak melanjutkan pendidikan pasca sekolah menengah. Ketika pendidikan formal tidak menarik, generasi Milenium beralih ke kelompok karier, yang memberikan pendidikan keterampilan, alih-alih masuk ke universitas.

Gaptek, menjadi salah satu penyakit yang harus dihilangkan dari sosok seorang guru profesional di era milenial. Disadari atau tidak, teknologi informasi mampu mengantar paket pengetahuan melampaui segala rintangan alam, seperti terjalnya lembah, luasnya lautan, dan tingginya bebukitan. Melalui aplikasi yang ada di Laptop maupun handphone, pengetahuan dengan cepat hadir di tengah kita. Sesuatu yang mustahil, sekarang menjadi mudah dan cepat. Kemdikbud misalnya, menyediakan repository perpustakaan. Semua jenis bahan ajar, baik berupa buku, modul, artikel, gambar, video dapat diunduh dengan mudah. Guru tidak perlu repot-repot melakukan perjalanan panjang dan melelahkan untuk mengambil bahan itu ke suatu tempat.

Seorang guru yang ingin berprestasi, tidak perlu mendaftarkan hardcopy dari hasil karyanya. Semua persyaratan diubah dalam bentuk softcopy yang tidak perlu diantar melalui Pos, melainkan cukup dikirim via email. Bayangkan, seorang guru yang baik, profesional, tetapi tidak menguasai teknologi informasi, tidak bisa mendaftarkan secara online hasil karyanya, maka dia tidak akan pernah mencicipi manisnya penghargaan dari pemerintah, seperti penghargaan yang diberikan oleh Subdit Kesharlindung, misalnya, Gupres (Guru Berprestasi), Tendikpres (Tenaga Kependidikan berprestasi), Best Practice, Inobel, atau lainnya.

Sebagai bentuk penghargaan terhadap guru atau tendik berprestasi yang memenuhi unsur-unsur keprofesian berkelanjutan di zaman milenial, maka penilaian terhadap guru yang terpilih sebagai guru berprestasi, dinilai atas empat aspek, yakni: portopolio, tes, karya tulis dalam bentuk makalah atau artikel, dan persentasi terhadap karya tulis tersebut. Untuk tes online, soal-soalnya berkaitan dengan teknologi informasi, kurikulum, kompetensi guru, dan pengetahuan tentang kependidikan lainnya.

Berubahnya zaman konvensional ke zaman milenial, sedikitnya ada empat tantangan pendidikan yang dihadapi oleh guru zaman milenial, yakni yang berkaitan dengan, (1) Revolusi  industri 4.0. Pengaruh teknologi digital semakin menyatu dengan hidup manusia. Itulah esensi dari revoluasi industri 4.0 saat ini. Segala sesuatunya mulai melekat dengan penggunaan internet (internet of things). Disadari betul, di masa depan akan banyak pekerjaan yang hilang tergantikan oleh teknologi, seperti petugas gerbang tol, yang sudah menggunakan e-toll, bahkan tukang parkir sudah ada yang menggunakan e.parking; (2) Globalisasi. Dunia yang mondial, mengglobal, sangat memungkinkan kompetisi bukan antarsesama tenaga kerja di dalam negeri, melainkan kompetisi antarnegara yang diyakini akan semakin teringginas dalam beberapa waktu ke depan. Saat ini pun, negara kita sudah menyatu dalam Masyarakat Ekononomi ASEAN (MEA), bahkan banyak tenaga asing yang berbondong-bondong memasuki Indonesia. Persaingan global tersebut harus dipandang sebagai tantangan bagi para guru agar mampu meningkatkan kualitas siswa, dimulai dari kualitas guru. Dengan kompetensi guru yang semakin baik maka siswa pun akan meningkat kompetensinya; (3) Kebutuhan domestik. Indonesia sebagai negara yang ekonominya tengah berkembang membutuhkan pasokan sumber daya manusia yang banyak pula. Agar ekonomi suatu negara kuat, tentunya dibutuhkan keandalan dari para penduduknya. Karena itu, manjadi tugas Pemerintah mencetak generasi unggul di masa depan melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan; (4) Besarnya penduduk muda Indonesia dipandang sebagai suatu tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Pola-pola pengajaran monoton selayaknya mulai ditiinggalkan. Sebab, generasi milenial lazimnya cepat jenuh dan menyukai kegiatan yang dinamis.

Seperti yang dikatakan oleh Mendikbud, bahwa seorang guru atau tenaga kependidikan merupakan profesi dengan tanggung jawab besar. Mereka menjadi tulang punggung keberlangsungan generasi penerus bangsa. Bercermin pada kenyataan tersebut, menjadi penting untuk secara terus-menerus mendongkrak kompetensi guru. Guru disebut sebagai akar rumput dalam pendidikan. Dikatakan bahwa tanpa guru, tidak akan ada pendidikan yang menghijau, dan selamanya pendidikan tidak akan subur, kalau gurunya tidak subur.

KEPUSTAKAAN

Haris Prahaha. Empat Tantangan bagi guru Masa Kini. Kompas.com diunduh tanggal 12 Oktober 2018.

_____________. Mendikbud Ungkap 3 Ciri Guru Profesional. Kompas.com, diunduh tanggal 12 Oktober 2018.

Nasin Elkabumaini. 2011. Pemutahiran Metode Pembelajaran. Bandung: Wahana Iptek

Tabrani Rusyan. 1990. Profesionalisme Guru. Bandung: Rosda Karya

Uzeir Usman. 2014. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Rosda Karya

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga

Close
Back to top button