Feature

Gapai Mimpi dari Papan Panjat

Segudang prestasi ditorehkan. Mulai dari kejuaraan daerah hingga dunia. Mengukir prestasi demi kebahagian orangtua.

MATANYA fokus menatap deretan point berwarna merah di papan panjat dinding. Tangannya berlumur bubuk putih magnesium. Bel berbunyi. Dengan sigap tubuh mungil itu menapaki papan setinggi 15 meter. Mengalahkan lawannya yang tertunduk lesu.

Untuk kali kesekian, Juskerina naik podium. Kali ini medali perak kelas speed di Kejurnas KU XIII di Riau 2018.

Rutinitas Juskerina membantu ibunya berdagang di MAN 1 Bontang menjadi pembuka kariernya sebagai atlet berprestasi. Heriana, guru di sekolah itu, memiliki murid seorang pemanjat dinding. Lalu mengajak Juskerina bergabung.

Setelah jam pelajaran di SDN 010 Bontang Selatan rampung, anak kedua dari M Anas dan Sakka S ini terkenal rajin membantu ibunya.”Saya selalu bawa baju ganti untuk latihan. Bahkan hingga tertidur di kursi tempat ibu berjualan,” ucapnya.

Seminggu berlatih, Juskerina ikut kejuaraan provinsi (kejurprov) tingkat junior di Sangatta, Kutai Timur. Tak disangka, prestasi pun tergenggam. Dia mampu mempersembahkan medali perak di nomor tanding speed.

“Saya waktu itu harus melawan atlet yang pernah mengikuti kejuaraan Asia,” ungkapnya.

Juskerina mengaku saat itu ia masih belum memahami spesialis nomor pertandingannya. Speed, lead, atau bahkan boulder. Belakangan dia lebih moncer di speed.

Melaju ke kejuaraan nasional (kejurnas) di Jakarta pada tahun sama. Di ajang ini, Juskerina kembali meraih prestasi. Dua medali. Emas untuk speed dan perak di nomor lead.

“Saat itu perasaan saya bercampur aduk. Karena saat itu pertama kali jauh dari orangtua. Tetapi di sisi lain saya senang bisa tampil baik,” ucapnya.

Setahun berselang, perempuan kelahiran 4 Februari 1999 ini kembali meraih prestasi. Kali ini tiga. Dari kelas speed, lead, dan boulder. Juskerina pun semakin akrab dengan podium juara.

Pada 2013 Juskerina berlaga di kejuaraan Asia di Surabaya. Tak ada rasa minder harus bersaing dengan atlet luar negeri. Postur lawan yang lebih tinggi pun cuma sedikit membuatnya kaget. Berbekal semangat berlipat, dia mampu meraih emas. Melewati raihan atlet Tiongkok dan India.

“Setiap latihan saya melakukan yang terbaik. Harus buktikan ketika dipercaya mewakili Indonesia,” ungkapnya.

EKONOMI SULIT

Meraih peringkat ke-22 junior di kejuaraan dunia di Italia pada 2013, menjadi kebanggaan tersendiri baginya. Namun pada tahun itu juga Juskerina mendapat guncangan.

Ekonomi keluarganya terpuruk. Sang ibu terpaksa merantau ke Papua. Membuatnya harus hidup jauh dari orangtua. Ayahnya sendiri sudah lama angkat kaki dari rumah. Tak lagi mengurusinya.

“Saya harus pindah rumah. Rumah yang di Berbas dijual karena ekonomi saat itu susah sekali,” tuturnya.

Walau mengantongi segudang prestasi, ibunya pesemistis Juskerina bisa mengangkat perekonomian keluarga. Alih-alih mendapat pundi rupiah dari gelar yang didapat, Juskerina dan ibunya harus merogoh kocek tambahan untuk membeli perlengkapan panjat dinding.

“Sepatu tiap tahun pasti alasnya sudah mulai terkikis. Padahal harganya tidak murah. Rp 2 juta. Sementara saya tidak mendapat materi yang setimpal dengan itu,” kata Juskerina.

Pada 2015, perekonomiannya mulai membaik. Di momen peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) Juskerina menerima Rp 3,5 juta. Selama mengikuti TC PON 2016, perempuan yang akrab disapa Rima itu menerima Rp 2 juta setiap bulan. Selama dua tahun. Sebagian besar ditabung untuk kebutuhan kakaknya yang menimba ilmu di Universitas Mulawarman (Unmul). Juga biaya pengobatan ibunya.

Ia percaya bahwa rezekinya di dunia panjat dinding. Berkat prestasinya, dia mendapat penghargaan dari Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni dan salah satu pengusaha kuliner.

Uang yang didapat dari penghargaan tersebut lantas digunakan untuk mewujudkan mimpinya. Membelikan orangtuanya rumah.

“Soal beli rumah, itu juga dibantu Bang Andi Faiz, Pak Joni Muslim, dan Bunda (Neni Moerniaeni, Red). Kebetulan waktu syukuran rumah, Bunda juga datang ke rumah saya. Saya bersyukur dan percaya itu rezeki,” tutur warga Jalan Pontianak 6, Gunung Telihan, itu.

Sisa satu lagi mimpinya yang ingin diwujudkan. Memberangkatkan ibunya umrah. Ia berjanji akan berlatih keras untuk menggapainya.

Kini, Juskerina menatap kejuaraan terbuka di Makassar, 7-12 November untuk kelas senior. Dia harus mempersiapkan dana sendiri. Belum ada bantuan masuk. Dari Rp 8,2 juta yang dibutuhkan, baru terkumpul Rp 1,2 juta.

Dia rencana berangkat bersama Siti Fatimah, rekannya di nomor beregu. Peraih medali emas untuk Kaltim di PON 2016 Jawa Barat.

“Saya ingin menambah jam bertanding, karena kalau hanya mengikuti pertandingan yang diselenggarakan oleh pusat sangat kurang,” terangnya.

Dua pekan setelah kejuaraan tersebut, Juskerina harus terbang ke Solo. Ia akan mengikuti Kejurnas Senior. Sehari kemudian kembali ke Bontang untuk mengikuti Porprov yang akan dihelat di Kutim.

“Saya targetkan tampil yang terbaik. Perkara medali apa yang diraih itu saya serahkan kepada Allah,” ujar asisten pribadi wali kota itu.

Kepada para pemuda khususnya juniornya, Juskerina berpesan agar selalu menghormati seluruh rekan sejawat. Tak hanya itu, latihan juga wajib dijalani secara rutin. Mengingat kesuksesan itu pasti membutuhkan pengorbanan.

“Jadilah pemuda yang memiliki etika. Menghormati orang lain yang lebih tua dan tidak melupakan Tuhan dalam setiap langkah. Karena percuma hebat kalau tidak memiliki etika,” pungkasnya. (ak)

Nama : Juskerina

TTL : Bontang,  4 Februari 1999

Alamat : Jalan Pontianak VI,  Gunung Telihan

Nama Orang Tua :

Ibu: Sakka S

Ayah: M Anas

Kakak : Imro Atun Sukriana

Pendidikan

SDN 010 Bontang Selatan  dan SDN 001 Bontang Utara

SMPN 4 Bontang Barat

SMAN 3 Bontang

Prestasi Juskerina 

2008

Kejurprov di Kutim

Juara 2 Speed Klasik

Bupati Cup 2008 Kutim

Juara 3 Boulder

Juara 3 Lead

Juara 2 Speed

Kejurnas 2008 Jakarta

Juara 1 Lead

Juara 2 Speed

2009

Kejurprov Samarinda 2009

Juara 3 Lead

Juara3 Boulder

Juara 2 Speed

Piala Bergilir Dispora Kota Samarinda 2009

Juara 2 Lead

Juara 1 Speed

Kejurnas 2009 Jakarta

Juara 1 Speed

Juara 2 Lead

2010

2010 Kejurprov Balikpapan

Juara 1 Boulder

Juara 1 Speed

Juara 1 Lead

2011

Kejurprov Sangatta 2011

Juara 2 Lead

Juara 3 Boulder

Juara 1 Speed

2012

Kejurprov 2012 Bulungan

Juara 1 Speed

Juara 1 Lead

Wali Kota Cup 2012 Bontang

Juara 1 Speed

Juara 2 Lead

Kejurnas Bali 2012

Juara 3 Lead

2013

Kejuaraan Asian Youth 2013 Surabaya

Juara 1 Speed

Kejurnas 2013 Lombok NTB

Juara 1 Boulder

Juara 3 Lead

Kejurprov Junior&Senior Nunukan

Juara 1 Speed Youth B

Juara 2 Lead Beregu Putri

Juara 1 Lead Youth B Putri

Juara 1 Boulder Youth B Putri

Juara 1 Blulder Campuran

Juara 3 Speed Campuran

Juara 3 Boulder Tim Putri

Juara 1 Speed Tim Putri

Kejurnas Piala Menpora RI

Juara 1 Lead

Juara 1 Speed

Juara 1 Boulder

2014

Porprov Samarinda

Juara 3 Lead Campuran

Juara 3 Boulder Putri

Juara 3 Lead Tim Putri

Juara 3 Lead Putri

Kejurprov 2014 Samarinda

Juara 1 Lead

Juara 1 Boulder

Juara 1 Speed

2015

Kejurprov Junior Samarinda

Juara 2 Boulder

Juara 1 Speed

Juara 1 Lead

Kejurprov Tingkat Senior  Samarinda

Juara 2 Lead Beregu Putri

Juara 2 Boulder Beregu Campuran

Juara 1 Boulder Putri

Juara 3 Boulder Beregu Putri

Juara 3 Speed Klasik Putri

2017

Pra Porprov Kutim

Juara 1 Lead Tim Putri

Juara 2 Boulder Tim Putri

Juara 2 Lead Campuran

Juara 1 Speed Klasik

Juara 1 Speed Record

Kejuraan Panjat Tebing Kalsel

Juara 1 Lead Umum Putri

Juara 1 Speed Track

Juara 1 Speed Klasik

Kejuprov Junior

Juara 1 Lead

Juara 1 Boulder

Juara 1 Speed

Kejurnas Senior Yogyakarta

Juara 1 Lead Tim Putri

Kejurprov 2018

Juara 1 Speed

Juara 1 Lead

Juara 2 Boulder

Kejurnas Riau

Juara 1 Lead

Juara 3 Boulder

Juara 2 Comnined

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button