Opini

Mengenang Korban Lion Air JT 610

Oleh : Muthi Masfu’ah / Yattini

(Owner Rumah Kreatif Salsabila dan Ketua Literasi DPW Kaltim)

Indonesia kembali berduka. Pesawat Lion Air JT 610 jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10) pagi. Pesawat dengan nomor registrasi PK-LQP dilaporkan terakhir tertangkap radar pada koordinat 05 46.15 S – 107 07.16 E. Berangkat dari Jakarta pukul 06.10 WIB dan sesuai jadwal tiba di Pangkal Pinang pukul 07.10 WIB.

Pesawat sempat meminta kembali ke bandara sebelum akhirnya hilang dari radar. Diperkirakan ada 189 orang menjadi korban. Ada beberapa sosok korban yang turut dalam pesawat JT 610 tersebut, yang dapat dijadikan pelajaran yang sangat berharga menurut penuturan beberapa sahabat saya.

Hesty Sari Wijayanti istri dari Fery Hadikarya yang pernah berkantor di Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Bontang sekitar tahun 2007, berkisah padaku.

Senin, bakda subuh rutinitas berjalan seperti biasanya. Sampai di kantor teman-teman sudah mulai “tune in” dengan aktifitas masing-masing sembari menunggu waktu Morning Call. Morning Call adalah kegiatan rutin setiap Senin pagi di kantor kami untuk membahas capaian kinerja, dan apa yang masih harus diupayakan. Forum tersebut juga merupakan wadah sharing knowledge (menyampaikan materi terkait diklat yang diikuti salah seorang pegawai) maupun info-info penting lain yang perlu disampaikan.

Suasana pagi yang bersemangat. Morning Call dibuka dengan budaya kerja dan nilai-nilai Kementerian Keuangan. Diteruskan dengan yel-yel kantor kami dan semangat ISO 9001 2015. Di tengah-tengah penyampaian materi mengenai Diklat Metodologi Survei Pasar, terbetiklah berita itu. Berita yang dalam sesaat merubah suasana pagi kami.

Ibu kami (Kepala Kantor biasa panggil dengan sebutan itu) menyampaikan, bahwa pesawat Lion Air JT 610 tujuan Pangkal Pinang dilaporkan hilang kontak setelah 13 menit lepas landas. Disampaikan pula nama-nama penumpang yang diduga ikut dalam penerbangan tersebut. Sebanyak 20 orang dari Kementerian Keuangan, 3 di antaranya dari eselon kami. Ibu meminta kami untuk mendoakan yang terbaik untuk semua penumpang pesawat tersebut. Mood kami langsung berubah tidak bergairah, sungguh pagi yang sendu.

Semua orang yang ada di ruangan itu merasa sedih, bingung, dan penuh harap. Sedih karena kami mengenal sebagian dari nama-nama yang disebut. Rasanya seperti ada separuh hati yang hilang. Apalagi salah satunya, Dwinanto pernah sekantor. Pernah mengenal istrinya, berjumpa dengan anak-anaknya. Di saat yang sama kami bingung karena informasi yang  diterima simpang siur. Sempat tersiar kabar bahwa pesawat tersebut sudah mendarat dengan selamat di Pangkal Pinang. Setelah dikonfirmasi dengan teman di sana, ternyata belum mendarat. Bahkan sopir yang ditugaskan menjemput masih stand by di bandara. Kami hanya berharap kepada Sang Pemilik Kehidupan, semoga ada kabar baik. Dari menit ke menit, sampai berbilang jam masih melantunkan doa dan harapan terbaik bagi para korban. Ternyata Allah berkehendak lain. Takdir rekan kami berakhir saat pesawat yang membawanya untuk memenuhi sumpah dan janji pada negeri ini tak pernah sampai. Penerbangan itu berakhir di Tanjung Karawang.

Masih segar dalam ingatan saat medio 2007 kami memperoleh SK Mutasi ke Kota Bontang. Saat itu instansi kami mengadakan reorganisasi dengan membuka beberapa kantor baru. Salah satunya di Bontang. Kami ber-14 merupakan ashabiqunal awalun (para pendahulu) KPKNL Bontang. Apapun yang terjadi, harus dihadapi.

Berbekal SK di tangan, berangkatlah kami ke Samarinda. Menghadap ke kantor wilayah. Karena sebagai kantor pemekaran, kami belum mempunyai kantor. Untuk sementara kami berkantor di Kanwil Samarinda. Saat itu Dwinanto dan Wid yang aktif mencari info bangunan yang pas, cocok bangunan dan harga sewanya, untuk kami berkantor.

Sampai 2 bulan berikutnya, kami pindah ke Bontang. Pindahannya ala bedol desa. Menyewa 2 truk besar untuk mengangkut berkas-berkas, perabotan rumah tangga, motor-motor, sampai kucing. Ramai, seru, meriah, semua orang bahagia.

Sampai di Bontang, segera kerja bakti membersihkan bangunan kantor yang telah kami sewa. Kantor baru kami, walaupun kecil, tetap kami syukuri. Akhirnya bisa berkantor dengan nyaman. Sebelumnya di Kanwil kami semua berkantor dalam satu ruangan. Sungguh terasa sempit dan panas.

Kegiatan hari berikutnya adalah membeli perabotan kantor. Kepala kantor sampe office boy ke toko furniture di depan Den Arhanud Rudal-002. Memilih dan mendiskusikan furniture yang kami pilih untuk kantor kami. Terasa sekali semangat kekeluargaannya.

Dwinanto yang supel, ramah, menyapa siapa saja. Semangat melayaninya luar biasa. Cekatan dalam bekerja. Masih segar dalam ingatan,  Dwi masih sibuk di  ruangannya menyelesaikan Laporan Penilaian IP 2007. Tak jarang sampai malam sembari merokok dan menyeruput kopi hitam. Kalau ingat ini, sampai sekarang rasanya masih sedih. Hesty sahabatku mengakhiri ceritanya dengan duka mendalam.

Tri Haska Hafidzi Berbekal Tamat Satu Juz.

Sahabatku Riza Almanfaluthi tentang teman sekantornya, kenangan Tri Haska Hafidzi yang turut menjadi korban tragedi Jt610.

Sebelum dipromosi ke Pangkalpinang pada Juli 2017, Haska menjadi pelaksana di Direktorat P2humas DJP. “Terlalu banyak hal baik tentang Haska untuk diceritakan,” kata Septiana Asti Buana Pratiwi.

Septi adalah teman Haska di Subdirektorat Penyuluhan Perpajakan Direktorat P2humas. Septi ikut dipromosi di periode yang sama dengan Haska.

Menurut Septi, teman-teman di Direktorat P2humas yang mengenalnya juga sepakat kalau Haska adalah pribadi yang ringan tangan, kreatif, dan pembelajar yang baik.

Waktu ada pengumuman promosi sebagai fungsional pemeriksa pajak di Pangkalpinang, Haska sempat bilang, “Alhamdulillah ya Mbak aku di Pangkalpinang, tak jauh dari Jakarta. Aku bisa pulang tiap minggu menengok anak-anak. Tiket pesawat juga murah.”

Pagi itu. Haska  menyentuh layar telepon genggam dengan ujung jari jempolnya. Ia baru saja melaporkan kewajibannya pada pukul 05.46 pagi. Entah di ruang tunggu terminal Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng atau di dalam kabin pesawat Lion Air JT-610, ia memberi tanda centang hijau pada daftar yang tersedia.

Ini berarti sebagai anggota grup Whatsapp DJP Bertilawah P2humas, Haska sudah menyelesaikan tugasnya membaca Alquran satu juz dalam sepekan.

Grup ini merupakan kumpulan pegawai Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat (P2humas), Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang berkomitmen untuk menyelesaikan membaca Alquran, One Week One Juz, sejak 2017. Dibentuk saat gerakan Pajak Bertilawah pertama kali diluncurkan tahun lalu.

Haska terakhir terlihat online pada 05.56. Haska menjadi salah satu dari 189 penumpang Lion Air JT-610 jurusan Jakarta-Pangkalpinang yang take-off pada 06.20 dan jatuh di perairan Tanjung Karawang, pukul 06.31.

Seperti biasa setiap Senin subuh, Haska menjalani rutinitas mingguan. Jumat malam pulang ke Jakarta, karena istri dan dua orang anaknya tinggal di sana. Minggu malam atau Senin pagi ia terbang lagi menuju Pangkal Pinang sebagai Pemeriksa Pajak di Kantor Pelayanan Pajak (Pratama) Pangkal Pinang.

Di hari itu, Haska tercatat menjadi satu dari tujuh pegawai KPP Pratama Pangkal Pinang yang memiliki jadwal sama untuk terbang. Selain lima pegawai lainnya dari KPP Pratama Bangka.

Secara keseluruhan DJP kehilangan dua belas pegawai terbaiknya. Apabila digabung dengan jumlah korban dari unit eselon satu lainnya di Kementerian Keuangan maka total ada 20 korban jiwa.

Begitu banyak korban yang jatuh dan meninggalkan banyak cerita duka. Dwinanto dan Haska serta masih banyak korban yang lainnya. Betapa kematian adalah rahasia Allah SWT, kematian akan datang kapan saja dan di mana saja. Tidak menunggu siap, baru kita dijemput. Sungguh, semoga kita yang mampu mengambil pelajaran ini.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Al Baqarah/2:155-157)

*) Penulis pernah meraih Kaltim Edukasi Award 2010, Juara 2 dan 3 dalam Lomba Penulisan Buku juga Inovasi Pembelajaran Tingkat Nasional, serta berbagai penghargaan tingkat nasional lainnya, telah menulis lebih dari 20 buku dan terus akan menulis.

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga

Close
Back to top button