Bontang

40 Tahun Tak Tersentuh Pembangunan

BONTANG – Warga yang berdomisili di wilayah Sidrap menyatakan 40 tahun sejak ditinggali, di daerahnya tak pernah mendapatkan perhatian pemerintah. Hal ini buntut ketidakjelasan status wilayah Sidrap, masuk Bontang atau Kutai Timur (Kutim).

Edy Setiawan, Ketua RT 24 Kelurahan Guntung yang masuk wilayah Sidrap mengucapkan terima kasih atas kebijakan gubernur. Karena sudah 40 tahun sejak dirinya menjadi warga Sidrap, tak pernah mendapat hak seperti warga lainnya. “Jika memang mau dimasukkan menjadi wilayah Bontang, artinya semua infrastruktur di Sidrap mulai bisa tersentuh pemerintah,” jelas Edy.

Yang paling memprihatinkan kata Edy jalanan di wilayah Sidrap tak ada yang mulus. Semua masih beralaskan tanah uruk yang akan becek ketika hujan. “Kami biasanya swadaya untuk memperbaiki akses jalan di wilayah kami. Tetapi memang tak ada perubahan yang berarti. Karena setiap hujan tetap jalanan akan becek,” paparnya.

Bukan hanya jalanan yang jauh dari kata layak, berbagai fasilitas umum pun sama. Mulai dari layanan kesehatan, sekolah, hingga jaminan sosial dari Kemensos yang tak bisa dinikmati masyarakat Sidrap. Belum lagi, kebutuhan pokok seperti air bersih yang tak bisa dinikmati. “Selama ini, masyarakat Sidrap ambil air dari PT Pupuk Kaltim, ada yang ngambil di RS Pupuk Kaltim,  juga Hotel Equator,” ungkap Edy.

Hak lain yang tak di dapat oleh warga Sidrap yaitu lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang dibangun di luar wilayah Sidrap. “Kami juga tak ada yang mendapat bantuan beras sejahtera serta KIS, bahkan selama 5 tahun saya sebagai RT tak pernah dapat insentif,” imbuhnya.

Edy merincikan jumlah RT di Sidrap yakni 7 RT. Satu RT bisa memiliki ratusan KK. Tapi ada satu RT yang masuk wilayah Kutim walaupun hanya terdapat 5 KK. “Mereka ingin dapat beras murah, makanya KTP Kutim. Tapi kalau infrastruktur sama saja,” ujarnya.

Mata pencarian warga Sidrap rata-rata berkebun dan bertani. Sehingga bagi mereka mendapat bantuan beras murah sangatlah berarti. “Ada memang beberapa karyawan swasta. Makanya pernyataan gubernur kemarin menurut kami titik terang untuk Sidrap. Karena kami sangat berharap masuk Bontang, agar menjadi warna negara sejati tidak lagi di wilayah sengketa,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Forum RT Sidrap Yohanis. Pernyataan gubernur bakal disambut baik warga Sidrap. Karena sudah puluhan tahun berjuang agar Sidrap masuk Bontang. mengingat banyaknya pelayanan yang tidak dapat dinikmati warga Sidrap. “Kalau sudah masuk Bontang, diharapkan warga Sidrap tak lagi dibedakan oleh pemkot,” tukasnya. (mga)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga

Close
Back to top button