Bontang

BPR Ingin “Cerai” dari Perusda AUJ

BONTANG – Niat direksi PT Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Bontang Sejahtera untuk berpisah dengan PT Perusda AUJ sebagai pemegang saham sudah tak terbendung lagi. Pasalnya saat ini proses kajian akademik sudah berlangsung.

Direktur PT BPR Bontang Sejahtera Yudi Lesmana menyebut, kajian akademik digarap oleh akademisi dari Universitas Mulawarman, Samarinda. Targetnya awal tahun depan diharapkan selesai.

“Awal tahun 2019 sudah jadi, termasuk kajian pemilik saham dari Perusda AUJ,” kata Yudi kepada Bontang Post, Selasa (12/4) kemarin.

Dengan adanya pemisahan ini, nominal penyertaan modal dari Pemkot Bontang diharapkan lebih besar. Mengingat sebelumnya jumlah tersebut harus dibagi kepada unit yang dimiliki Perusda AUJ. Besaran nominal penyertaan modal nantinya juga masuk dalam kajian naskah akademik.

Tak hanya itu, penyertaan modal pun langsung terdistribusi tanpa perantara lagi. Alur ke depan, dari Bagian Ekonomi Setkot Bontang langsung diberikan kepada direksi PT BPR Bontang Sejahtera.

“Kalau sebelumnya ibarat seperti anak tetapi tidak ada induk. Anak (BPR, Red.) biasanya meminta uang kepada bapak (Perusda AUJ, Red.). Tetapi justru menunggu dulu dari nenek (pemkot, Red.),” sebutnya.

Dengan perpisahan ini, Yudi berharap adanya penambahan kepercayaan nasabah. Seiring dengan peningkatan angka transaksi berupa tabungan, deposito, maupun investasi berupa pinjaman.

Senada, Komisaris PT BPR Bontang Sejahtera Fauziah mengatakan, dengan berpisah dengan Perusda AUJ merupakan langkah mencapai kemandirian. Pasalnya, satu-satunya BPR yang masih di bawah perusahaan lain hanya terjadi di Bontang.

“Se-Indonesia hanya Bontang yang masih dibawah naungan perusahaan daerah. Semua langsung di bawah bagian ekonomi pemerintah daerah setempat,” kata Fauziah.

Ia pun berujar seharusnya masyarakat Bontang bangga dengan kehadiran BPR Bontang Sejahtera. Mengingat, nantinya terjadi multiplier effect terhadap perekonomian di Bontang.

“Harusnya masyarat support bank milik pemerintah daerah. Karena multiplier effect-nya ke masyarakat itu banyak. Nantinya pun bisa menyumbang PAD ke pemkot,” ujarnya.

Meskipun hingga saat ini BPR Bontang Sejahtera belum dapat melakukan itu. Lantaran terkendala kecilnya nominal modal yang diterimanya.

Sebelumnya diberitakan, Direksi PT Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Bontang Sejahtera mengeluhkan penyertaan modal yang diberikan. Pasalnya nominal yang diperoleh tidak berbanding dengan beban target yang dipikul.

Kucuran modal dari Perusda AUJ sejumlah Rp 4 miliar. Nominal tersebut tidak diberikan tiap tahun hanya dua kali selama kurun waktu 9 tahun.

Rinciannya pada 2009, bank pelat merah tersebut menerima modal senilai Rp 1 miliar. Waktu itu tepat dengan momen pendirian bank. Namun, modal tersebut harus terpotong. Mengingat pengadaan meja dan kursi masih memakai uang Perusda AUJ. Totalnya mencapai Rp 363 juta. (ak)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button