Breaking News

Serial Karang Mumus (07): Bernapas dalam Lumpur Karang Mumus

“Mus … Mumus, tolong Mus,”

Mustofa mendengar suara memanggil namanya. Dicarinya dari arah mana suara itu muncul namun tak ditemukan. Tak nampak seorangpun yang mengeluarkan suara minta tolong tadi. Hati Mustofa mulai berdegup dan muncul tanya “Jangan-jangan suara itu adalah suara hantu banyu?”  Tapi masa iya hantu banyu bisa berbahasa Indonesia sergah Mustofa pada dirinya sendiri.

“Mus… Mumus, tolong Mus,”

Kembali suara itu terdengar. Mustofa semakin kebingungan. Dia mencari-cari dari mana datangnya suara itu dan siapa yang mengatakannya namun tak juga ketemu.

“Sini Mus, aku di bawah,”

Suara itu memberi petunjuk. Mustofa melangkah ke arah pinggir batang, untuk melihat dasar sungai yang surut. Namun tak juga menemukan apa-apa. Yang dilihatnya hanyalah hamparan lumpur hitam dasar sungai, batang tergeletak dan sampah yang berserak. Bahkan Mustofa terpaksa menutup hidungnya karena bau dari bangkai ayam yang sudah mengelembung terendam air serta tak utuh lagi.

“Sini Mus, aku di bawah,”

Mustofa makin penasaran, suara itu begitu dekat. Namun pekatnya lumpur membuat dia tak melihat apa-apa. Mustofa berjongkok, membelalakkan mata, mencari dengan seksama.

Akhirnya mata Mustofa terhenti pada sosok kecil, tak lebih dari jempol tangannya. Sosok dengan kepala dan mata besar, menempel di batang namun sebagian besar badannya terhimpit oleh kantongan sampah sehingga tak bisa bergerak.

“Timpakul, kamu yang bicara ya?”

“Iya … ini aku,”

Dari sebuah buku cerita dan omong-omong tetangga, Mustofa tahu kalau Timpakul adalah salah satu jenis ikan yang senang meloncat ke daratan, terutama di daerah yang berlumpur atau dangkal, disekitar hutan bakau. Ikan ini dalam bahasa Inggris di sebut Mudskipper, sementara sebutan dalam bahasa setempat adalah tempakul, gelodog, belodog, belodok, belacak, gabus laut, lunjat dan lain sebagainya.

“Ternyata, Timpakul Sungai Karang Mumus berbeda dengan yang ada di hutan bakau Balikpapan dan Tarakan, lebih kecil dan hitam,” ujar Mustofa dalam hati.

Mustofa sebenarnya belum pernah melihat Timpakul di Sungai Karang Mumus, maka diperhatikannya benar-benar ikan yang berwujud khas ini. Matanya yang menonjol seperti mata Kodok membuat tampangnya menjadi lucu. Badannya bulat seperti torpedo dengan sirip mengembang di punggung, sirip ekornya juga membulat.

Konon salah satu keahlian ikan ini adalah bertahan hidup di daratan dengan cara memanjat akar bakau atau berjalan di atas lumpur. Sirip di dadanya kuat sehingga bisa berfungsi layaknya tangan untuk merayap, merangkak dan melompat.

“Mus … Mumus ..cepat, aku sudah mau mati kering,”

Mustofa terhenyak, karena terlalu memperhatikan ikan yang 80% waktunya di daratan ini sehingga lupa kalau Timpakul itu tadi memanggil-manggilnya untuk minta tolong. Karena kalau terlalu lama berada di darat dia tak bisa bernapas. Timpakul mempunyai kemampuan bernapas melalui kulit tubuhnya dan selaput lendir di mulut dan kerongkongannya namun hanya dalam keadaan lembab. Oleh karenanya sesekali Timpakul harus menceburkan diri ke air agar napasnya tak cekat.

“Mus …Mumus … cepat, aku sudah mau mati kering,”

Diangkatnya kantong yang menimpa sebagian badan Timpakul. Begitu terbebas, Timpakul meloncat, masuk ke dalam lubang. Timpakul memang senang menggali lubang di lumpur yang lunak sebagai sarangnya. Lubangnya bisa sangat dalam, bercabang-cabang, berisi air dan ditempat tertentu ada ruang rongga udara. Dalam lubang itu Timpakul aman terhindar dari ikan pemangsa lainnya.

Byrrrrr ….. Mustofa merasakan dingin diwajahnya. Sambil meyaput dingin dengan tangan dibuka matanya perlahan. Samar terlihat mamaknya berdiri di hadapan, satu tangan di pinggang dan satu tangan memegang gayung dengan sisa air yang siap disiramkan.

“Mustofa …. bangun, kamu kira ini hari libur lah,” suara mamaknya menggelegar hingga sanggup membuat atap seng penutup rumahnya bergoyang.

Seperti Timpakul, Mustofa langsung melompat, disambarnya gayung berisi peralatan mandi. Dalam sekejap Mustofa sudah berjongkol di tepi batang menyibak-nyibak air Sungai Karang Mumus yang pasang dan kembali membawa sampah dari hulu ke arah hilir.

Tanpa sarapan, Mustofa berlari menuju sekolahan, nyaris terlambat. Setelah berucap semangat pagi, Bu Guru yang gemar menonton acara motivasi mengarahkan pandangan ke Mustofa.

“Mumus …. kenapa matamu merah seperti hantu banyu saja,”

Mustofa terdiam, namun kemudian ingat mimpinya.

“Iya, bu sepagian ini saya menangis bila ingat Timpakul yang sudah menghilang dari Sungai Karang Mumus,”

Ibu guru tak menanggapi apa yang dikatakan Mustofa. Dia paham jika sahutan Mustofa itu hanya omong kosong belaka.

“Nah, anak-anak sekarang kita buat cerita tentang Sungai Karang Mumus. Terserah, apa saja, ibu kasih waktu 30 menit. Setelah itu bacakan di depan satu per satu,”

Murid-murid tenggelam dalam keheningan, bukan karena asyik mengerjakan tugas. Sebagian besar dari mereka sebenarnya tak tahu harus berbuat apa. Yang mereka tahu Sungai Karang Mumus itu jorok, kotor, hitam dan berbau.

Plok…plok..plok … bu guru bertepuk dan mengatakan “Selesai anak-anak,”

“Bondan, maju bawa tugasmu,”

Dengan langkah gontai, Bondan ke depan, disembunyikannya buku yang terbuka di belakang pantatnya.

“Tunjukkan apa yang kamu kerjakan dan ceritakan,” perintah bu guru tegas.

Perlahan Bondan menunjukkan karyanya. Pada selembar kertas hanya terlihat kotak berwarna hitam.

“Apa maksudnya Bondan?”

“Hitam sungaiku bu, saking hitamnya saya tak melihat apa-apa di dalamnya,”

“Bagus kamu, kenapa tak kau beri judul aku malas saja. Besok-besok kamu mengambar kotak hitam lagi lalu bilang itu gambar kuda tapi di malam hari jadi nggak kelihatan,” ujar bu guru sewot.

“Mumus …. giliranmu,”

Mustofa berjalan tak kalah gontai dengan Bondan karibnya. Sesampai di depan kelas ditunjukkannya selembar kertas hanya bertuliskan “Bahinak dalam Balanak,”

“Mumus apa itu?”

“Puisi bu tapi baru judulnya,”

“Kamu mau cerita apa,”

Dengan PD-nya Mustofa bercerita tentang rencana puisinya.

“Judul ini terjemahan bebasnya  adalah bernapas dalam lumpur. Atas dasar mimpi semalam, saya akan cerita tentang yang bertahan hidup di Sungai Karang Mumus. Mahkluk ciptaan Tuhan yang mampu bertahan hidup di Sungai Karang Mumus adalah yang mampu bernapas dalam lumpur, seperti Timpakul contohnya,” terang Mustofa panjang lebar.

“Berhenti dulu, kenapa kamu tidak bercerita tentang dirimu,” tanya bu guru.

“Maksud bu guru?”

“Ya kamu kan salah satu yang mampu bertahan hidup di Sungai Karang Mumus, berarti kamu bisa bernapas dalam lumpur,”

“Uma ae bu guru ini, sidin kira ulun ini golongan iwak timpakul,” ujar Mustofa diam-diam dalam hati

Pondok Wira, 01/09/2016 @yustinus_esha

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Baca Juga

Close
Back to top button