Kaltim

Caleg Harus Siap Mental

SAMARINDA – Mental para calon anggota legislatif (caleg) yang bertarung dalam Pemilu 2019 harus benar-benar siap. Harus siap menerima kekalahan bila tak mau berujung depresi. Hal ini dikemukakan psikolog Laela Siddiqah, saat ditanya kesiapan psikologis yang mesti dimiliki caleg. Menurut Laela, kesiapan mental wajib dimiliki mereka yang bertarung dalam pesta demokrasi lima tahunan ini.

“Tentunya harus kesiapan mental. Karena ketika sudah menentukan pilihan mencalonkan diri menjadi caleg, tentu kan hasilnya dua. Terpilih dan tidak terpilih. Hanya dua saja kan. Sehingga ketika mencalonkan diri, itu harus siap dengan terpilih dan tidak terpilih. Kalau tidak terpilih, ya terpilih,” ujarnya kepada Metro Samarinda.

Kesiapan mental patut dimiliki khususnya bila caleg bersangkutan tidak terpilih menjadi wakil rakyat. Harus bisa menerima kekalahan yang sudah menjadi konsekuensi logis setiap kontestasi, termasuk pemilu. Dalam hal ini, harus legawa bahwa memang ada yang lebih baik dari dirinya dan menjadi evaluasi kenapa tidak terpilih.

“Kemudian juga bisa mencari alternatif berkhidmat mengabdi kepada negara dengan cara selain menjadi anggota legislatif,” sebut Laela.

Bila kesiapan mental ini telah dimiliki, dia meyakini kasus-kasus caleg gagal terpilih yang kemudian stres tidak akan terjadi. Menurut Laela, bila seorang caleg mengalami stres, pasti ada kondisi awal yang membuatnya tidak nyaman dalam mencalonkan diri. Kondisi awal ini yang sudah membuat caleg tersebut tertekan.

“Dia (caleg, Red.) tidak feel free dalam melakukan pencalonan dirinya. Ada tekanan-tekanan tertentu yang membuat dia merasa terbebani. Harus dan harus terpilih. Sehingga ketika tidak terpilih dia mengalami stres dan frustrasi, atau bahkan depresi,” urai pemilik Lembaga Psikologi Insan Cita ini.

Tekanan-tekanan tersebut, beber Laela, bisa jadi berupa tekanan secara sosial atau tekanan secara financial. Juga tekanan psikologis karena ada tuntutan yang tinggi terhadap dirinya sendiri. Sehingga ketika tidak terpenuhi, adaptasi terhadap realita yang ada itu menjadi terganggu.

“Mungkin kalau kecewa dan sedih itu wajar. Tapi itu ada waktunya. Bagaimana kemudian bisa menghadapi kenyataan yang ada. Kecewa dalam waktu yang seperlunya, sedih dalam waktu yang seperlunya, kemudian move on,” tutur Laela.

Menurut dia, adanya psikotes dalam seleksi pendaftaran caleg sejatinya sudah bisa menjadi indikator potensi gangguan kejiwaan seusai pemilu. Hasil psikotes inilah yang mesti dijadikan pertimbangan sekaligus antisipasi dalam meloloskan bakal-bakal caleg menjadi caleg tetap dalam pemilu.

Bila misalnya dari hasil psikotes itu didapat bakal caleg yang rentan, bisa diberikan pembekalan khusus demi menghindari hal yang tak diinginkan. “Khususnya dari pihak parpol (partai politik, Red.). Dari tim seleksi itu bisa menginformasikan kepada parpol untuk memberikan pembekalan kepada caleg-calegnya itu supaya siap mental. Sehingga potensi2 negatif bisa dicegah dan diantisipasi,” sebutnya.

Dengan begitu, sambungnya, para caleg ini punya bekal bersikap bila hasil pemilu tak sesuai dengan ekspektasi. “Jadi tidak seperti bom waktu. Misalnya harapannya sudah sudah terlanjur tinggi, optimistis ketika masa kampanye banyak orang menyatakan dukunga. Tetapi ketika pencoblosan kan tidak bisa diatur (suaranya),” terang Laela.

Menurut dia, optimisme caleg mesti realistis. Dalam hal ini, ada perhitungan bagaimana setiap caleg bisa melihat berapa persen peluangnya untuk bisa terpilih. Ketika sudah memahami peluangnya, yang perlu dilakukkan adalh mengetahui upaya-upaya apa saja yang perlu dilakukan untuk mewujudkannya.

“Harus menunjukkan ke masyarkat bahwa dia (caleg, Red.) memang layak dipilih. Tentu juga harus ada persiapan mental ketika dia tidak terpilih. Karena namanya manusia berusaha, rakyat yang menentukan saat pencoblosan nanti,” urai perempuan yang aktif di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Bontang ini.

Menurut Laela, akan lebih baik bila setiap parpol bisa mengakomodasi para calegnya untuk memberikan pembekalan terlebih dahulu sebelum bertarung di pemilu. Baik pembekalan emosional dan psikologis untuk menghadapi masa-masa kampanye, pemilihan dan pascapemilihan. Sehingga setiap individu itu sudah mempunyai bekal yang kuat menerima hasilnya.

“Mengetahui apa yang harus dilakukan ketika tidak dipilih. Juga apa yang harus dilakukan ketika terpilih. Kemudian bagaimana ketika tidak dipilih caleg itu bisa legawa, bisa menahan diri untuk tidak berperilaku yang  tidak semestinya. Bagaimana tetap memiliki fungsi-fungsi pribadi yang baik dalam masyarakat. Alangkah baiknya upaya preventif daripada penanganan,” sebut Laela.

Ketika terpilih, caleg tersebut harus benar-benar mengemban amanat dengan baik. Yaitu menjadi wakil rakyat, menyuarakan kebutuhan-kebutuhan rakyatnya yang diwakili. “Sehingga benar-benar bekerja dengan baik, tidak kemudian mencurangi masyarakat. Amanahlah. Bekerja dengan baik sesuai dengan tujuannya apa,” jelasnya.

Misalnya harus tahu bagaimana tanggung jawabnya seperti apa, tidak hanya euforia sesaat. Apalagi tanggung jawab sebagai anggota legislatif tidaklah kecil. Harus siap untuk kemudian meningkatkan kualitas dan kapasitas dirinya. (luk)

 

 

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button