Kaltim

Pelaku Penganiayaan Mahasiswi di Masjid Diringkus di Sangasanga

DUGAAN polisi tak meleset. Muhammad Juhairi, pria yang terekam closed circuit television (CCTV) di Masjid Al Istiqomah, yang hendak mencuri tas seorang perempuan yang sedang salat, bakal kembali ke rumahnya. Polisi berpakaian sipil menunggu berhari-hari. Akhirnya, sang pelaku kembali, tepat pukul 14.00 Wita Rabu (2/1).

Tanpa perlawanan, Juhairi yang berbaju hijau gelap bertekuk lutut di hadapan petugas. Dari kediamannya di Jalan Teratai, RT 21, kelurahan Sangasanga Dalam, Kecamatan Sangasanga, Kukar, pelaku langsung dibawa ke Polresta Samarinda.

“Entah, setan apa yang merasuk ke saya,” ujar Juhairi berbicara di depan sorot kamera awak media.

Salah seorang marbot masjid menjaga istrinya yang sedang sakit. Hal itu akhirnya membuat Juhairi diterima membantu di masjid tersebut. Awalnya Juhairi akan digaji. Namun, dia menolak. Pria 45 tahun itu hanya meminta dibayar dengan makanan. Keberadaannya di Masjid Al Istiqomah disebut memang untuk mencari pekerjaan. Pasalnya, dia baru sebulan berhenti bekerja dari salah satu perusahaan tambang di tempatnya tinggal.

Siang itu, sehabis salat Jumat, dia sempat bersih-bersih. Istirahat di halaman masjid. Tak lama, Merissa Ayu Ningrum, tiba. Hendak menunaikan salat Zuhur. Karena dia baru selesai mengerjakan tugas. Mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta itu sempat bertanya.

“Dia bilang cari kamar mandi, saya tunjukkan, habis itu dia langsung masuk salat,” sebut Juhairi. Dia belum makan siang, dan kondisi masjid sedang sepi. Sepintas, aksi kejahatan muncul dan memutuskan oleh pria bertato di lengan dan tangan kiri itu bertindak jahat. “Hanya butuh Rp 15 ribu, dan itu memang untuk makan,” terangnya.

Kayu sepanjang 70 centimeter di samping masjid diambil. Tanpa pikir panjang, langsung dilayangkan ke kepala belakang perempuan yang mengenakan mukena cokelat muda tersebut. Ayu tersungkur, wajahnya tertutup mukena. Namun, dia terus memekik, meminta pertolongan. “Saya pukul dua kali,” sambungnya. Juhairi terus berdalih bahwa pekerjaannya bukan mencuri. Semata-mata dilakukan hanya untuk mencari uang makan.

“Kenapa enggak meminta baik-baik?” tanya media ini. “Ya itu, ada setan yang merasuk,” ujarnya.

Diakuinya, setelah gagal mencuri, dan melakukan penganiayaan, dia sempat kembali ke Sangasanga. Meminjam motor tetangganya. Kemudian Juhairi kabur ke Kota Minyak. Sebelum malam pergantian tahun 2019, dia lantas bertolak ke Sangatta. Bermodalkan meminta-minta uang sebagai modal untuk membeli bahan bakar minyak (BBM). Di sana, dia hendak mencari rekannya, yang bekerja.

Juhairi tahu jika dirinya diburu polisi. “Saya pulang memang niat menyerahkan diri, karena saya memang salah,” akunya.

Kasat Reskrim Polresta Samarinda Kompol Sudarsono menjelaskan, bahwa yang bersangkutan murni melakukan tindak pidana kriminal. “Tidak ada sangkut paut dengan keagamaan,” jelas perwira melati satu tersebut.

Khusus kasus penggelapan motor, dia menyerahkan ke kepolisian setempat, yakni Polsek Sangasanga. Lantaran duduk perkara kasus penggelapan terjadi di daerah Sangasanga. Pelaku dijerat menggunakan Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun penjara.

Ditegaskan perwira melati satu, sejauh ini kondisi pelaku masih dalam keadaan normal. “Masih bisa diajak ngobrol, dan semuanya jelas kok,” tutur Sudarsono.

Setelah gagal beraksi, dia kembali ke Sangasanga dengan menumpang kendaraan orang. Selama pelarian ke beberapa daerah, Juhairi rupanya juga kembali menginap di beberapa masjid. Seperti di Balikpapan, Sanipah, dan Sangatta. Di sana, dia meminta uang ke orang-orang. “Buat dia modal beli bahan bakar,” jelasnya.

Selama pengejaran, polisi melibatkan jajaran Polsek, Polresta Samarinda, dan Polda Kaltim. “Pengakuan awal belum pernah terlibat hukum sebelumnya,” jelas Sudarsono. Barang bukti rekaman CCTV dan balok, serta mukena yang terakhir dikenakan korban.

Psikolog klinis Siti Mahmudah Indah Kurniawati turut angkat bicara dengan perkara yang kini dijalani Juhairi. Menurutnya, ada gangguan psikologis yang dialami pelaku. “Tapi itu harus ada pemeriksaan khusus dan mendalam ke pelaku dari dokter psikiater,” terang perempuan yang akrab disapa Nia tersebut.

Menurutnya, berpindah-pindah dari masjid satu ke yang lain hanyalah modus untuk melancarkan aksi pelaku. “Bagi saya, orang ini terlalu biadab lah,” terangnya. Dia menganggap, apa yang diperbuat, sudah sangat menyimpang.

Jika normal, pelaku tentu tak sekadar menerima bayaran bekerja di masjid hanya dengan makanan. “Dari itu sudah janggal,” terangnya.

Menurutnya, ada sesuatu hal lain yang hendak dilakukan pelaku. “Rasanya enggak mungkin kalau cari duit Rp 15 ribu,” tambahnya.

Ada tuntutan lain yang membuat pelaku terpaksa melakukan aksi tersebut. Ditambahkan Nia, diduga kuat, dia sudah mempelajari setiap orang yang datang. Namun, pelaku tidak sadar ada CCTV yang terpasang, dan itu lepas dari perhitungannya. (*/dra/dwi/k18/kpg)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button