Feature

Mencicipi Kerapu Belah Urung di Pondok Kuliner Tengah Laut

BAGI masyarakat Bontang, menikmati santapan ikan bakar atau sajian sambal gammi di daerah Bontang Kuala merupakan hal yang biasa. Namun, bagaimana bila makanan khas Kota Taman tersebut dinikmati di tengah laut, dengan ikan segar yang diambil langsung dari kerambanya?

LUKMAN, Bontang

Pondok kayu milik Maskur (60) yang berdiri di tengah laut, dua menit perjalanan dari kampung pesisir Bontang Kuala awalnya hanya merupakan tempat usaha. Yang digunakan untuk keramba ikan dan juga tempat menjemur berbagai hasil laut seperti rumput laut dan terasi udang.

Namun semua itu berubah di tahun 2015. Kala itu, banyak orang yang singgah di pondok tersebut untuk kemudian memesan makanan. Lama kelamaan, pondok itu dikembangkan menjadi tempat kuliner khas Bontang Kuala yang dikelola Maskur dan keluarganya.

“Awalnya sih dari karang taruna datang ke sini memesan makanan. Waktu itu sedang ngetren Sungai Belanda. Dari situ para pengunjung Bontang Kuala, termasuk yang snorkeling, mereka mulai singgah ke sini,” tutur Ernawati (33), putri Maskur yang ikut menjalankan usaha kuliner tengah laut ini.

Bertransformasi menjadi rumah makan, pondok itu lantas diberi nama Pondok Badak-Badak. Diberi nama sebagaimana kelompok nelayan yang diikuti Maskur. Beragam menu makanan laut pun disiapkan, meliputi ikan bakar dan sambal gammi.

Untuk paket ikan bakar, dibanderol seharga Rp 60 ribu berikut nasi dan minum. Ikan bakar yang dijual meliputi ikan kerapu, baronang, dan ikan kakap. Sedangkan untuk sajian gammi, disediakan gammi bawis, gammi udang, dan gammi cumi.

“Gammi udang dan gammi cumi harganya Rp 35 ribu. Kalau gammi bawis Rp 30 ribu,” terang Ernawati kepada BontangPost.id.

Di antara menu tersebut, Kerapu Belah Urung dan Kakap Belah Urung menjadi sajian andalan dari Pondok Badak-Badak. Merupakan kuliner khas Bontang Kuala, Kerapu dan Kakap Belah Urung memiliki bumbu khas seperti sambal gammi, namun dilengkapi dengan bumbu-bumbu lainnya. Dalam hal ini, ikannya dibelah lalu diberi bumbu pada bagian atasnya.

“Kalau sambal gammi kan (bumbunya) cuma bawang merah. Nah kalau belah urung itu ada bawang putihnya, ada serainya,” jelas sulung dari tiga bersaudara ini. Kata Erna, ikan yang disajikan diambil langsung dari keramba. Namun begitu, ada juga ikan yang dibeli di pasar, bila tidak tersedia di keramba.

Pondok Badak-Badak sendiri ramai dikunjungi saat akhir pekan. Erna mencatat, baik dari karang taruna maupun Pupuk Kaltim pernah memesan tempat untuk 100 orang. Bahkan nama tempat makan ini juga telah dikenal hingga ke luar Bontang. Kata dia, pernah ada pengunjung dari Tenggarong dan Samarinda yang datang lantaran melihat promonya di media sosial.

“Untuk promosi awalnya dari mulut ke mulut, lalu lewat media sosial juga. Ada yang datang ke sini karena melihat di facebook,” sebut ibu empat anak ini.

Jadwal buka Pondok Badak-Badak sendiri tidak tetap. Lantaran Erna dan keluarganya tidak tinggal di pondok. Sehingga di hari kerja, Senin sampai Jumat, bagi yang hendak datang ke Pondok Badak-Badak mesti melakukan reservasi terlebih dahulu. Sementara di akhir pekan, pihaknya buka seharian dari pagi hingga sore.

“Kalau lagi ramai ya ramai, kalau sepi ya sepi. Tapi dalam sebulan biasanya bisa dapat Rp 5 jutaan,” kata Erna yang tinggal di RT 3 Bontang Kuala ini.

Adapun untuk mencapai lokasinya yang berada di tengah laut, disediakan layanan transportasi dengan kapal ketinting. Tarifnya Rp 5 ribu per orang untuk pulang dan pergi dari belakang panggung Bontang Kuala hingga ke Pondok Badak-Badak. (luk)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button