Feature

Menikmati Mi Ongklok di Kumandang, Pasar tanpa Rupiah dan Wajib Berbahasa Jawa

Di tengah hutan dan hanya buka sepekan sekali, Pasar Kumandang mengharamkan segala jenis plastik. Ada kandungan filosofis kenapa bahasa Jawa diwajibkan dan rupiah harus ditukar batok kelapa di sana.

DIMAS NUR APRIYANTO, Wonosobo

SI pembeli itu tampak bingung. Mukanya mengernyit. Lalu mengulangi kembali pertanyaannya kepada si penjual jamu.

’’Berapa, Bu?’’ tanya si pembeli.

’’Sekawan keping nggih, Cah Ayu,’’ jawab si penjual dengan agak menahan tawa.

’’Sekewan. Berapa itu, Bu?’’ tanya si pembeli lagi.

Bhaaa… si penjual pun akhirnya benar-benar tak bisa menahan tawa. ’’Sekawan itu artinya empat, Mbak. Kalau kewan, itu binatang,’’ jawabnya. Kali ini si pembeli dan kawan-kawannya yang giliran gerrr.

Kalau lost in translation kerap terjadi di pasar tengah hutan di Wonosobo itu, harap maklum. Sebab, hanya boso Jowo (bahasa Jawa) yang boleh digunakan di sana. Setidaknya oleh para penjual atau pedagang.

Para pembeli yang tak bisa boso Jowo tetap bisa menggunakan bahasa Indonesia. Namun, jawaban para pedagang bakal tetap dalam bahasa Jawa. Dan, dari sanalah berbagai momen ger-geran itu bermula.

Ya, selamat datang di Pasar Kumandang, Dusun Bongkotan, Desa Bojosari, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Pasar yang tak hanya mengharuskan Anda berpisah dari bahasa Indonesia begitu melewati plang di gerbang yang bertulisan ’’Wajib Boso Jowo’’. Tapi juga harus merelakan rupiah di kantong bersalin rupa jadi kepingan batok kelapa.

Ada dua ’’money changer’’ di pintu masuk pasar yang hanya buka tiap Minggu itu. Berupa dua meja yang dijaga karang taruna setempat. Sekeping batok kelapa bernilai Rp 2 ribu.

Dengan kepingan batok itulah Anda bisa jajan beragam makanan dan minuman di sana. Atau membelikan sang buah hati berbagai mainan tradisional.

’’Ada 70 pedagang di Pasar Kumandang. Yang satu sama lain tak boleh menjual makanan yang sama,’’ ujar Asngari, lurah Pasar Kumandang, kepada Jawa Pos pada Minggu lalu (13/1).

Ada kandungan filosofis di balik kewajiban berbahasa Jawa dan menukar rupiah dengan batok kelapa di pasar tersebut. Yang pertama agar bahasa Jawa, bahasa keseharian warga di sana, tetap lestari. Untuk uang pengganti, tujuannya adalah memunculkan nuansa alam.

’’Kami di sini tidak hanya menjual barang. Tapi juga mengedukasi cinta terhadap alam,’’ tutur Asngari.

Karena itu pula, pasar seluas setengah hektare tersebut, sebagaimana juga tertulis di plang pintu masuk, nirplastik. Lapak berukuran sekitar 1 x 2 meter terbuat dari bambu, sedangkan kursi dan meja dari kayu.

Besek menjadi pengganti piring. Untuk melapisi besek, para pedagang menggunakan daun pisang. Untuk menyajikan minuman, para pedagang memakai gelas kaca.

Jadi, ya jangan harap bisa membungkus es teh, misalnya. Kecuali kalau pembeli membawa wadah sendiri.

Pasar yang terletak 17 kilometer dari pusat kota Wonosobo itu mulai buka pada Mei tahun lalu. Dilandasi semangat untuk memberikan penghasilan tambahan bagi warga setempat yang mayoritas bekerja sebagai petani atau pekebun.

Tidak langsung seramai sekarang, tentu saja. Penjual dan pembeli hanya datang dari desa sekitar.

Geliat Pasar Kumandang baru mulai terasa setelah dibuka resmi oleh Wakil Bupati Wonosobo Agus Subagyo, tiga bulan setelah pasar berjalan. Eksposur dari pembukaan itu mengundang ketertarikan pada pasar dengan berbagai aturan langka tersebut.

Pembeli berdatangan dari berbagai penjuru, termasuk dari luar Wonosobo. Jumlah pedagang yang semua berasal dari Dusun Bongkotan bertambah. Hingga akhirnya mencapai 70 orang.

Muaranya adalah pasar yang menyajikan keanekaragaman makanan dan minuman. Maknyus dan murah-murah pula.

Jawa Pos sempat menjajal mi ongklok. Cuma tiga keping alias Rp 4 ribu. Padahal, saat andok mi yang sama di Kota Wonosobo, dua hari kemudian, harganya hampir tiga kali lipat: Rp 10 ribu.

Lebih mahal, tapi tak lebih enak. Di Kumandang, tekstur minya lebih kenyal. Bumbunya sangat nendang. Terutama aroma bawang putihnya. Cuma kalah dari segi banyaknya suwiran ayam.

Untuk melonggarkan tenggorokan, jamu temulawak yang manis dan segar bisa dinikmati hanya dengan satu keping. Sebelum kemudian menjajal sego megono yang dicampur sama tempe kemul.

Tempe kemul ini persis tempe mendoan. Hanya penganan khas Wonosobo itulah yang boleh dijual di semua lapak di Kumandang. Kombinasi sego megono plus tempe kemul itu bisa dinikmati dengan hanya membayar tiga keping. Coba, nikmat apa lagi yang kau dustakan?

Dari Kota Wonosobo, untuk menjangkau Pasar Kumandang, jika tak membawa kendaraan pribadi, harus dua kali berganti kendaraan umum. Pertama dengan minibus yang disebut ’’angkot atas’’ oleh warga setempat. Dilanjutkan ojek selama sekitar 7 menit.

Pasar Kumandang buka mulai pukul 07.00 sampai pukul 13.00. Sepanjang durasi itu, Umi, seorang penjual klepon, mengaku rata-rata bisa menjual 30 porsi. Dengan harga seporsi satu keping saja.

Di lapaknya, perempuan 48 tahun itu juga menjual sate telur puyuh dan ati ampela. ’’Yang paling cepat habis, ya sate puyuh ini, Mas,’’ ujarnya.

Menurut Asngari, tak ada biaya sewa untuk lapak. Melainkan iuran. Besarnya 12,5 persen dari hasil penjualan mereka pada hari tersebut. Misalnya, hari ini pedagang A mengantongi pendapatan Rp 200 ribu, dia harus membayar iuran Rp 25 ribu kepada pengurus pasar.

Iuran tersebut digunakan untuk kepentingan fasilitas para pedagang. Misalnya, perawatan lapak dan kebersihan area pasar. Setiap Jumat, para pedagang juga berkumpul di selasar dusun.

Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengevaluasi aktivitas berdagang sebelumnya. ’’Apa yang perlu diperbaiki, misalnya, kalau kursi yang rusak. Pada Minggu pagi ketika berdagang, kursi harus sudah benar,’’ ungkapnya.

Semua agar kenyamanan pembeli bisa tetap terjaga. Tapi, yang tetap tak bisa dijamin adalah lost in translation.

Saat antre menunggu makanan di lapak soto kuali, Jawa Pos mendapati Ratih, seorang pembeli dari Jambi, yang mengalami momen-momen membingungkan seperti pembeli jamu tadi.

’’Bu, soto kualinya, ya,’’ kata Ratih.

’’Sekedap nggih, Mbak,’’ jawab si ibu penjual.

Untunglah, Ratih bisa memahami sedikit-sedikit apa yang dimaksud si ibu penjual. Kalau tidak, bisa-bisa dia malah ngamuk, ’’Ngapain saya beli soto saja disuruh sedekap…’’ (*/c5/ttg/jpg)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button