Kaltim

Siap Ambil Alih Pengelolaan Hotel Atlit, PT Pakuwon Minta Lelang Ulang, Bakal Bangun Mal di Stadion Sempaja

SAMARINDA – PT Pakuwon Group kian menunjukkan keseriusan mengelola Hotel Atlit dan Convention Hall di Stadion Madya Sempaja, Samarinda. Raksasa properti yang berkantor pusat di Surabaya itu menjanjikan akan membangun mal di kompleks olahraga tersebut.

Direktur Utama PT Pakuwon Group Stefanus Ridwan menyebut, telah bertemu Gubernur Kaltim Isran Noor, Kamis (7/2). Dia juga sudah mempresentasikan konsep pengelolaan aset milik Pemprov Kaltim itu. “Kami akan menjadikan Hotel Atlit dan Convention Hall dalam satu kesatuan atau terintegrasi,” katanya.

Menurutnya, untuk menghubungkan Hotel Atlit dan Convention Hall itu, pihaknya akan membangun mal di antara kedua bangunan tersebut. Sehingga ketiganya saling terintegrasi. “Kalau Convention Hall dan Hotel Atlit saja tidak ada daya tariknya. Jadi, bagaimana menumbuhkan minat orang untuk datang,” ujarnya.

Ke depan, dia berencana menggelar event-event menarik di Convention Hall. Begitu pula Hotel Atlit, akan dibenahi kembali eksteriornya. “Kami maunya seperti itu. Kalau sepotong-sepotong, kami tidak mau,” ungkap dia.

Stefanus menyebut, sebenarnya pihaknya ingin mengelola kedua aset tersebut sejak tahun lalu. Namun, terbentur aturan. Sebab, PT Timur Borneo Indonesia (TBI) sudah memenangkan lelang. Sehingga, kini diperlukan lelang ulang. “Kalau memaksa ikut (bergabung dengan PT TBI), kami tidak terlibat langsung. Padahal kami mengeluarkan uang. Kalau kami pemenang lelang, kami bisa berperan penuh,” paparnya.

Menurutnya, pertemuan antara dirinya dengan Isran Noor telah menemui titik terang. Bahkan, peluang untuk mengelola aset pemprov itu sudah mencapai 80 persen. “Kami usahakan secepatnya. Kami sangat serius. Tapi, semuanya harus beres dulu, termasuk proses lelang. Nilai investasi cukup besar, belum bisa ditetapkan sekarang,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, tahun lalu Pemprov Kaltim menggelar lelang investasi untuk mengelola Hotel Atlit. Hingga kemudian ditetapkan pemenangnya adalah PT TBI. Investor yang juga mengelola Guest House Pemprov Kaltim di Jalan Syarifuddin Yoes, Balikpapan yang kini menjadi Hotel Royal Suite itu siap menanamkan modalnya sekitar Rp 255 miliar. Belakangan PT TBI turut menggandeng PT Pakuwon Group untuk Hotel Atlit dan Convention Hall.

Sementara itu, Kepala Biro Umum Setprov Kaltim Adiyat menjelaskan bahwa PT TBI memang telah menjadi pemenang lelang. Tetapi, mereka tidak memiliki modal cukup besar untuk mengelola Hotel Atlit dan Convention Hall. “Apalagi waktunya tidak memungkinkan. Sudah satu tahun berlalu tidak berjalan,” jelasnya.

Kalaupun dialihkan pengelolaannya, lanjut dia, tidak dibenarkan dalam aturan. Pasalnya, pemenang lelang sudah ditetapkan. “Kemungkinan sekarang hanya PT Pakuwon Group yang mampu. Tapi, akan dilelang ulang secara terbuka,” beber dia.

Pemprov juga tertarik dengan rencana yang sudah dipresentasikan PT Pakuwon. Apalagi mau membuat Convention Hall, mal, dan hotel terkoneksi. Kendati demikian, untuk pengelolaan kedua aset tersebut perlu kerja sama pemanfaatan. “Untuk pembangunan mal, masih belum diketahui. Entah menggunakan sistem BOT (build operate transfer), setelah 30 tahun diambil alih pemprov. Atau ada pola kerja sama lain. Nanti akan dibahas lagi,” sebutnya.

Dia menuturkan, konsep yang akan diwujudkan PT Pakuwon itu dinilai yang pertama di Indonesia. Yakni, membangun mal di area olahraga yang juga didukung wisata kuliner. “Tapi, memang perlu renovasi (Hotel Atlit). Bahkan Hotel Atlit akan dikembangkan hingga menjadi hotel berbintang lima,” ungkapnya. “Kalau ada event olahraga, atlet diprioritaskan menginap di sana,” sambungnya.

Adapun Isran Noor mengatakan, akan dibuat kesepakatan baru setelah lelang terlaksana. Memang ada beberapa saran mengenai sistem kerja sama. “Kami juga akan mengevaluasi dan menghitung ulang nilai aset Hotel Atlit dan Convention Hall,” katanya.

Isran juga mendukung wacana pembangunan mal di antara Hotel Atlit dan Convention Hall. “Itu bagus, yang penting rawat baik-baik aset negara. Saya maunya barang-barang terawat,” tutup dia.

Seperti diketahui, rencana pengelolaan Hotel Atlit sudah berembus lama. Bahkan sudah beberapa investor yang berencana mengelola aset pemprov itu. Namun selalu kandas di tengah jalan.

Pada 2012, Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak kala itu memutuskan agar pengelolaan hotel di lahan 20.431 meter persegi tersebut dikerjasamakan kepada swasta. Pemprov Kaltim menunjuk Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) FAST untuk menaksir nilai properti Hotel Atlit Samarinda.

Itu ditandai surat perintah kerja bernomor 027.1/004.1/KPA/UPTD-PKSUM/2012 pada 8 Maret 2012. Dengan pendekatan biaya dan data pasar properti pada 30 September 2011 dan asumsi serta syarat pembatasan, nilai aset tersebut Rp 92,69 miliar.

Setahun kemudian, angin segar berembus. Lelang investor kerja sama pemanfaatan Hotel Atlit mendapatkan pemenang. PT Bakrie Nirwana Semesta (BNS/Grup Bakrie) ditetapkan sebagai investor sekaligus operator hotel dengan penawaran Rp 54,03 miliar. BNS mengalahkan El John, peserta lelang lain. Itu dikuatkan surat bernomor 027/1649/DISPORA/2013 pada 17 Juni 2013.

Penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) Pemprov-BNS dilaksanakan di Hotel Atlit Sempaja, Samarinda, sepekan berikutnya. Namun, selepas itu, tak ada tindak lanjut dan kepastian investor menyulap hotel tersebut menjadi bintang tiga.

Justru, pada 23 Agustus 2014, kedua pihak melaksanakan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) di The Bridge Function Rooms Aston Rasuna, Jakarta. Pemprov kala itu diwakili Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim Fachruddin Djaprie dan PT BNS oleh direkturnya, Henu Kusdaryono, disaksikan gubernur Kaltim. Masa kerja sama pemanfaatan hotel (konsesi) ditetapkan selama 27 tahun terhitung surat PKS diteken.

Dalam kerja sama itu, Hotel Atlit rencananya disulap di beberapa bagian. Adapun itu, pengembangan 248 kamar, yakni ruangan wasit (8 kamar), ruangan atlet (70), business room (157), dan kamar suite: junior, executive, dan royal elty (13).

Di samping itu, BNS akan membangun ballroom berkapasitas 600–1.000 orang, board room berkapasitas 15–20 tempat duduk, dan 3 ruang pertemuan berkapasitas 40–60 tempat duduk, kolam renang, business center, serta commercial area.

Dari situ, beredar kabar groundbreaking atau tanda dimulainya kegiatan dilaksanakan pada 9 Januari 2015. Itu bertepatan dengan peringatan hari jadi Kaltim. Namun, PT BNS tak merealisasikan. Singkat cerita, rehabilitasi berat terhadap hotel itu tak kunjung dilaksanakan.

Rencananya, menjadikan hotel penginapan bintang tiga tinggal cerita. Terhitung, setahun 10 bulan dari penandatanganan PKS atau Juni 2016, pemprov menjatuhkan “talak” kepada BNS. Anak perusahaan Grup Bakrie itu melakukan wanprestasi atau pengingkaran terhadap isi PKS.

Akibatnya, mereka harus mencairkan dana jaminan pelaksanaan yang tersimpan di Bank Artha Graha sebesar Rp 2,78 miliar. Hampir dua tahun dari pemutusan kontrak kerja sama tersebut, Hotel Atlit belum mengalami pembenahan. Kondisinya tetap sama; tak terawat. Hingga tahun lalu, muncul PT TBI yang menjadi pemenang lelang. Namun, hingga sekarang tak ada kelanjutan. (*/dq/rom/k16/kpg)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga

Close
Back to top button