Kaltim

Maskapai Mulai Terdampak Naiknya Harga Tiket, Kursi Pesawat Kerap Tak Penuh

BALIKPAPAN–Naiknya harga tiket pesawat mulai dirasakan dampaknya. Tidak hanya bagi warga sebagai pengguna jasa penerbangan, tapi juga para pelaku bisnis transportasi udara. Terutama yang beroperasi di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan.

General Manager (GM) Garuda Indonesia Balikpapan Boydike Kussuadiarso mengakui, ada tren penurunan jumlah penumpang pesawat selama Januari 2019. Jika dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu. “Penurunan penumpang sekitar 5 persen,” kata dia kepada Kaltim Post.

Dikatakan, penumpang Garuda Indonesia mayoritas dari korporasi atau personal yang melakukan urusan bisnis. Baik di Jakarta atau di daerah lain di Indonesia. Dari Balikpapan, Garuda membuka rute penerbangan tujuan Jakarta, Jogjakarta, Makassar, Berau, Tarakan, dan Banjarmasin masing-masing sekali penerbangan dalam sehari.

Sedangkan penerbangan terbanyak yang dibuka Garuda Indonesia adalah tujuan Jakarta sebanyak delapan kali penerbangan dalam sehari. Dari situ, terdapat beberapa pekan yang dilakukan penyesuaian berdasarkan kapasitas dan frekuensi penerbangan.

“Kami mencoba me-manage kapasitas, karena traffic tidak serta-merta mengikuti dengan kapasitas. Secara traffic atau penumpang yang diangkut, di kami memang mengalami penurunan,” terangnya.

Boydike menjelaskan, pada prinsipnya tidak ada kenaikan harga tiket pesawat. Semua tarif pesawat yang telah diterapkan pada awal 2019 itu, di semua maskapai penerbangan telah tersedia di dalam sistem sejak dulu.

Kebijakan itu dikenal dengan istilah tarif batas atas (TBA) dan tarif batas bawah (TBB). Baik Garuda Indonesia maupun maskapai penerbangan lain hanya mencoba memberlakukan tarif batas atas. Tarif batas itu merupakan tarif tertinggi dari sub-klasik yang ditawarkan kepada customer.

Di masing-masing maskapai atau partner Garuda Indonesia memberlakukan kenaikan tarif tiket pesawat berdasarkan kapasitas pasar, kapasitas traffic, dan daya serapan pasar. “Kalau ditanya me-manage sub-klasik, ya kami ada me-manage dengan mengurangi rute domestik. Harga itu adalah adjustment dari 26 sub-klasik yang diberlakukan di Garuda Indonesia,” tuturnya.

Kendati demikian, setiap maskapai penerbangan termasuk Garuda Indonesia dalam menerapkan tarif tetap merujuk pada aturan. “TBA-nya berapa persen? Terus TBB-nya berapa persen? Maka itu yang kami ikuti,” ujarnya.

Sementara itu, Asisten Manager Lion Air Balikpapan Rachimsyah mengaku, ada tren penurunan penumpang jika dibandingkan Januari tahun lalu. Selain karena dampak naiknya harga tiket pesawat, faktor lain yang cukup memengaruhinya yakni low season.

“Kalau awal 2018 lalu, penumpang lebih banyak. Karena faktor arus mudik tahun baru dan libur sekolah. Kalau Januari 2019, kondisinya lagi low season. Makanya sepi. Tapi bukan berarti penumpang tidak ada,” tuturnya.

Dari 213 kursi yang tersedia di Lion Air, kini rata-rata yang tersisa hanya sekitar 150–120 kursi. Terjadi kekosongan antara 50–60 kursi. Kondisi itu sendiri dianggap wajar dan normal sebagai dampak low season. Itu terjadi di hampir semua maskapai penerbangan.

“Momen low season ini biasanya panjang. Terjadi pada Januari dan Februari. Sekarang enggak ada libur dan orang sibuk kerja. Kalau peak season, kami sudah tahu dan itu biasanya terjadi saat libur sekolah, Natal, tahun baru, dan libur Lebaran,” tutur Rachim.

Untuk penerbangan terbanyak yang dibuka Lion Air yakni rute Balikpapan-Jakarta sebanyak tujuh kali penerbangan dalam sehari. Dengan kapasitas sebanyak 213 kursi. Rute lainnya yakni Balikpapan-Surabaya sebanyak sembilan kali penerbangan sehari.

“Kalau lagi peak season, pasti terisi semua. Berakhirnya peak season itu sekitar tanggal 13 Januari lalu. Di atas itu, semua kembali normal. Perubahan waktu libur setiap tahunnya juga memengaruhi banyak tidaknya penumpang di setiap bulannya,” kata dia.

Pada Selasa, 5 Februari 2019 misalnya, penumpang yang terbang menggunakan maskapai Lion Air untuk semua rute penerbangan sebanyak 4.070 penumpang. Sedangkan Wings Air sebanyak 558 penumpang.

“Untuk saat ini, dalam sehari, penerbangan rata-rata berkisar antara 2.300 sampai 2.485 penumpang. Walau tidak seperti pada saat peak season, jumlah penumpang di low season ini bisa dibilang masih cukup tinggi,” tandasnya.

Kondisi serupa juga terjadi di maskapai Citilink. Menurut Station Quality Control Citilink Balikpapan, Aditya Putra, tingkat keterisian kursi penumpang di Citilink tidak selalu penuh. Walau begitu, rata-rata tingkat keterisiannya masih di atas 100 penumpang dari 180 kursi yang tersedia.

“Setiap penerbangan rata-rata di atas 100 kursi. Khusus selama Januari 2019, kami hanya punya empat fleet. Rute yang kami buka seperti Surabaya, Cengkareng, Jogjakarta, Makassar, dan Denpasar masing-masing satu kali penerbangan,” ungkapnya, Rabu (6/2).

Seperti halnya Rachim, Aditya mengakui, pada Januari ke Februari merupakan masa low season. Sementara itu, masa peak season telah habis pada libur Natal dan tahun baru yang berlangsung pada Desember 2018 sampai 13 Januari 2019.

“Penumpang di luar weekend, rata-rata di atas 150 penumpang. Naiknya harga tiket enggak begitu berpengaruh signifikan. Karena sudah banyak yang langganan di Citilink. Kebanyakan dari mereka yang menggunakan Citilink adalah bisnis trip,” sebutnya.

JAGA STABILITAS EKONOMI

Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud mengatakan, semua pergerakan perekonomian sangat bergantung dari pasar dan jumlah pengunjung. Naiknya harga tiket pesawat, dihapusnya bagasi gratis oleh Lion Air Group, hingga naiknya tarif kargo sedikit tidak membawa pengaruh bagi ekonomi Balikpapan.

Sebagai dampak dari kebijakan sektor bisnis penerbangan tersebut, membuat tren ekonomi Kota Minyak mengalami penurunan. Terutama bagi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang bergerak di bidang buah tangan dan kuliner.

“Orang yang mau belanja, pasti pikir-pikir. Harus pakai bagasi, bisa saja dikenakan biaya. Selain itu, dibukanya bandara di Samarinda juga memengaruhi 20–30 persen pengunjung yang masuk ke Balikpapan,” sebut dia.

Namun, apapun dampak dari kebijakan itu, bagi Rahmad, perekonomian Kota Minyak tidak boleh terpuruk. Pemkot Balikpapan bersama instansi terkait seperti Dinas Koperasi, UMKM, dan Perindustrian (DKUMKP) Balikpapan akan berupaya untuk membuat kreasi.

“Kami akan mengusahakan berbagai cara untuk menggenjot kegiatan perekonomian masyarakat. Semua dinas terkait nanti akan kami minta untuk bersinergi, supaya kegiatan UMKM di Balikpapan tetap jalan dan tumbuh,” katanya.

Langkah lain yang akan diambil yakni dengan memperbanyak berbagai event di Balikpapan. Baik dalam skala nasional maupun internasional. Supaya dapat menarik minat pelancong untuk berkunjung dan melihat berbagai hasil UMKM di Balikpapan. Pemkot akan didorong agar lebih kreatif.

“Itu salah satu solusi kami untuk menggerakkan perekonomian. Termasuk juga pembangunan kilang minyak. Akan ada ribuan tenaga kerja yang bisa terserap. Nanti dapat menopang perekonomian di Balikpapan. Sektor potensial lain akan dikembangkan,” pungkasnya. (Baca: Lion Air Turunkan Tarif Bagasi di halaman 21) (*/drh/rom/k8/kpg)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga

Close
Back to top button