Kaltim

Proyek Rel Kereta, Isran: Tanpa Russian Railways Tetap Jalan

SAMARINDA – Apa kabar rencana pembangunan kereta api di Kaltim? Lama tak terdengar. Namun, Gubernur Kaltim Isran Noor memastikan proyek itu tetap jalan. Ini tak lepas dari keinginan pemprov untuk mempermudah dalam pengangkutan hasil sumber daya alam (SDA) di Benua Etam.

Isran mengaku, hingga kini pihaknya masih melanjutkan kerja sama dengan Russian Railways. Sebab, perusahaan asal Rusia itu berencana mengunjungi Kaltim bulan ini. “Pemprov sudah melakukan komunikasi dengan pihak Russian Railways. Mereka sekarang mau konvoi. Saya tidak tahu kapan pastinya, informasinya bulan ini,” tambahnya.

Mantan Bupati Kutim itu menuturkan, penyebab pihak Russian Railways tidak juga datang, lantaran di Rusia mengalami musim dingin. Jadi menghambat ke Benua Etam. “Kami tetap menunggu. Kalau tidak jadi juga tidak masalah. Banyak perusahaan nasional yang mau dan mampu mengerjakan,” bebernya.

Dia menilai, itu solusi terbaik jika perusahaan Rusia tersebut tidak jadi melaksanakan pembangunan rel kereta api. Sayangnya, orang nomor satu di Kaltim itu enggan menyebutkan nama perusahaan nasional itu. “Saya sampaikan, peluang pembangunan rel kereta di Kaltim cukup besar. Kalau dipersentasekan sekitar 60 persen,” ungkapnya.

Sementara itu, anggota Komisi III DPRD Samarinda Syafruddin mengaku belum mendengar informasi terbaru terkait proyek rel kereta itu. Dia pesimistis pembangunan rel kereta api di Kaltim, yang bekerja sama dengan Russian Railways. “Kesepakatan antara pemerintah pusat dengan Russian Railways belum ada. Adapun pembangunan kereta api kewenangan pemerintah pusat. Apalagi sudah ada PT KAI (Kereta Api Indonesia). Ini yang membuat saya pesimistis,” sebut dia.

Apalagi, lanjut dia, pembangunan kereta api ini terbentur aturan. Ya, Russian Railways ingin membangun tidak untuk mengangkut barang saja. “Mereka mau investasi penuh, sekalian kereta penumpangnya. Sedangkan pemerintah pusat maunya angkutan barang saja. Ini yang membuat saya pesimistis. Belum ada poin yang disepakati,” katanya.

Kendati demikian, dia mendukung Isran Noor untuk memberdayakan perusahaan nasional. Jika memang Russian Railways tidak jadi lantaran berbenturan dengan aturan. “Lebih baik pembangunannya perusahaan nasional. Apalagi Kaltim sudah mengirim pelajar ke Rusia, khusus perkeretaapian,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, Pemprov Kaltim mengklaim, investor asal Rusia serius membangun proyek kereta api di Kaltim. Bahkan, Blackspace melalui anak perusahaan, PT Surya Ganda Manajemen Teknik Indonesia (SGMTI), menindaklanjuti dengan groundbreaking atau peletakan batu pertama di Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (KEK MBTK), Kutai Timur (Kutim), pada 1 Desember 2017. Itu sekaligus menjadi proyek kereta pertama di Kalimantan.

Langkah SGMTI ini lebih progresif dari PT Kereta Api Borneo (KAB), anak perusahaan Russian Railways. Padahal, minat membangun jalur utara yang menghubungkan Maloy (Kutai Timur) ke Tabang (Kutai Kartanegara) lebih dulu didengungkan BUMN dari Negeri Beruang Merah itu.

KAB belum memulai karena mereka sedang fokus membangun pelabuhan di Kawasan Buluminung, Penajam Paser Utara (PPU). Selepas itu, baru memulai pembangunan jalur selatan, PPU hingga Kutai Barat.

Pada 1 Desember 2017, Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak kala itu bersemangat groundbreaking bisa terealisasi di KEK MBTK. Ya, benar saja, kegiatan itu bisa sedikit menepis keraguan berbagai kalangan. Pasalnya, daerah ini punya catatan yang sedikit kurang mengenakkan. Sebelum swasta Rusia itu menjatuhkan pilihan ke Kaltim, perusahaan asal Uni Emirat Arab, Ras al Khaimah juga demikian. Namun, setelah itu tidak ada kejelasan.

“Pak SBY (mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono) saja pernah bilang, beliau sudah banyak pengalaman cipika-cipiki (cium pipi kanan dan kiri). Tapi, tidak ada yang serius. Beda dengan ini,” ujar Faroek saat itu.

PT SGMTI memenuhi janjinya melaksanakan groundbreaking pada Desember. Kaltim, khususnya Maloy, Kutim menurut mereka merupakan lokasi yang strategis karena dibangun dekat KEK MBTK yang memiliki pelabuhan internasional.

“Ada menteri yang meragukan, rel di sini disebut belum siap. Saya bilang konektivitas antarwilayah harus dibangun. Tidak mungkin daerah ini bisa maju kalau tidak begitu,” kata mantan bupati Kutim itu. Bisa naik kereta api tidak hanya punya Pulau Jawa, Kalimantan harus juga memiliki.

Gubernur pun meminta PT SGMTI ke depan tidak hanya membangun kereta khusus batu bara, namun menjadi multifungsi. Bisa untuk mengangkut komoditas sumber daya alam, juga kargo, dan penumpang. Di samping itu, dia mengingatkan agar pembangunan tidak boleh melenceng dari Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kaltim.

Namun, apa daya, pusat sudah memutuskan proyek rel kereta tampaknya harus berakhir sampai peletakan batu pertama. Belum diketahui kapan kembali dilanjutkan. Proyek sepur jalur utara itu menurut rencana terbagi dua tahap. Pertama, akan dibangun sepanjang 195 kilometer. Kedua, 125 kilometer. Artinya, total panjang yang akan dibangun 320 kilometer.(*/dq/rom/k16/kpg)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button