Nasional

Karhutla di Riau Mereda, TNI Tetap Siaga

JAKARTA – Pasca meninjau kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis, Riau pada Minggu (24/2), pekan ini Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto kembali melihat kondisi dan situasi di pulau tersebut. Hasilnya, dia menilai karhutla di sana sudah mulai mereda. Namun demikian, pasukan maupun peralatan yang sudah dikerahkan tetap diperintah bersiaga guna mengantisipasi kondisi darurat.

Orang nomor satu di tubuh TNI itu menyampaikan bahwa keberadaan pasukan dan peralatan di sana guna menjaga supaya lahan gambut tetap basah. ”Apabila terjadi lagi kebarakan kami laksanakan fire fighting dengan menggunakan teknologi modifikasi cuaca hujan buatan,” terang Hadi. Apabila tidak memungkinkan membikin hujan buatan, dilakukan water bombing menggunakan pesawat yang sudah mereka siapkan.

Karena itu pula, pasukan dan peralatan yang sudah dikirim TNI ke Riau tetap disiagakan meskipun karhutla sudah mulai mereda. ”Apalagi sebentar lagi memasuki musim kemarau,” ungkap Hadi. Mantan kepala staf angkatan udara (KSAU) itu menyebutkan, Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Karhutla yang digerakan secara langsung oleh Kodam I/Bukit Barisan diperkuat oleh seratus orang prajurit TNI yang dikirim dari Jawa.

Selain itu, mereka juga diperkuat dengan helikopter dan pesawat water bombing yang bisa dipakai untuk operasi modifikasi cuaca. Prajurit TNI serta peralatan itu bisa dikerahkan untuk melaksanakan pemadaman karhutla lewat dua jalan. Yakni darat dan udara. Bila helikopter dan pesawat water bombing diandalkan untuk pemadaman lewat udara, prajurit darat disiagakan untuk menjangkau titik api. ”Guna memaksimalkan pemadaman,” ujar Hadi.

Alumnus Akademi Angkatan Udara (AAU) 1986 itu pun menyampaikan, hasil peninjauan terbaru yang dia laksanakan menunjukan perubahan yang cukup signifikan. Sebab, banyak titik api yang sebelumnya berkobar sudah mulai padam. Kondisi itu juga diakui oleh Hadi. ”Situasinya sekarang sangat berbeda ketika saya datang saat terjadi kabut asap,” imbuhnya. Situasi yang dia maksud tidak lain adalah kondisi karhutla akhir bulan lalu dibanding saat ini.

Menurut Hadi, saat kali pertama meninjau Karhutla tidak kurang delapan titik api yang tampak dari udara. Yang terbesar bersumber dari Pulau Rupat. Saat dia cek untuk kali kedua, titik api itu sudah tidak nampak. ”Semua sudah hijau, tidak ada api dan asap sama sekali,” imbuhnya. Pun demikian hasil pantauan dari satelit. Dia menyebutkan, laporan dari satelit tidak ada titik api yang terpantau.

Hadi berharap kondisi tersebut tetap terjaga. Sehingga karhutla di Riau tidak terulang lagi. ”Kita sangat senang begitu melihat dari udara situasi di wilayah ini hijau royo-royo,” imbuhnya. ”Untuk itu mari kita jaga sama-sama,” tambah dia. Itu penting lantaran penyebab karhutla tidak melulu cuaca dan kondisi alam. Seringkali api muncul dipicu oleh ulah masyarakat yang tidak bertanggung jawab. Mereka seenaknya membakar lahan. (syn/jpg)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga

Close
Back to top button