Bontang

Waduh! 3.905 Orang Derita Diabetes

Data dari Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang, ditemukan 3.905 pasien yang melakukan kunjungan ke Puskesmas akibat diabetes melitus pada 2018. Sementara menurut Plt Kepala Diskes dr Bahauddin, merujuk proyeksi hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) pada 2013 pasien diabetes ada pada angka 5.226.

“Jadi angka penderita diabetes melitus ini merupakan tertinggi kedua untuk kategori penyakit tidak menular (pertama hepatitis),” kata Bahauddin.

Jika diklasifikasi menurut usia, maka penderita berumur 45-54 tahun menduduki peringkat pertama. Dengan total pasien mencapai 846 orang. Disusul oleh pasien berusia 60-69 tahun dengan 579 orang.

Akan tetapi, usia 15-19 tahun pun telah terkena penyakit kelebihan kadar gula darah ini. Disebutkannya, terdapat 50 pasien untuk kategori umur tersebut. Diterangkan Bahauddin jumlah tersebut belum termasuk pasien yang langsung menuju fasilitas kesehatan di luar Puskesmas.

Bahauddin menuturkan faktor risiko yang bisa dimodifikasi sebagai sumber utama dari penyakit ini. Faktor ini berkaitan erat dengan gaya hidup. Mulai dari malasnya mengonsumsi buah dan sayur, gemar memakan makanan dengan kadar gula dan garam tinggi, minimnya aktivitas fisik ringan, hingga kecanduan merokok.

“Kebanyakan sekarang manusia suka mengonsumsi yang instan. Tetapi itu menyehatkan atau tidak, justru mereka tidak mempermasalahkannya,” terangnya.

Diketahui, penyakit ini merusak bagian pankreas manusia. Sehingga tidak dapat menghasilkan hormon insulin. Akibatnya kadar gula dalam darah menjadi meningkat.

Saat ini, Diskes pun telah melakukan tiga tahapan untuk menekan angka penderita diabetes melitus. Terkait pencegahan, organisasi perangkat daerah (OPD) ini telah melakukan promosi kesehatan. Bentuknya dengan pemberian edukasi terhadap pasien yang dilakukan oleh dokter di Puskesmas.

Selain itu, masyarakat juga dilakukan screening di usia produktif yakni 15-59 tahun. Biasanya dilakukan di pos pembinaan terpadu (Posbindu). Jika terdapat diagnosis penyakit itu maka langsung dirujuk ke faskes selanjutnya.

Terakhir, langkahnya berupa pengobatan. Bahauddin menuturkan pengobatan sifatnya hanya membantu memperbaiki pankreas. Namun, ia menyebut bila gaya hidup tidak terjaga, otomatis organ tubuh tersebut bisa rusak kembali.

“Terpenting adalah pola hidup dan makan,” tuturnya.

Namun, jika tidak diobati maka penyakit ini dapat merusak organ tubuh lainnya. Seperti kerusakan mata berupa katarak atau gagal ginjal.

“Penyakit ini tidak ada istilah sembuh. Jadi hanya kadar gula darahnya terkendali,” katanya. (ak/far/prokal)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Sumber
Prokal
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button