Nasional

2.217 Situs Penjual Obat Keras Ditakedown

JAKARTA – Penggunaan obat harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan pasien. Namun beberapa waktu terakhir, ditemukan penjualan obat secara daring. Bahkan yang dijual merupakan obat keras yang mengandung zat aktif misoprostol dan trivam. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) pun tengah gencar untuk mengawasi jual beli obat keras secara online.

Kepala BPOM Penny Lukito menjelaskan abhwa sebenarnya pihaknya telah melakukan pengawasan terhadap peredaran obat di pasaran. Termasuk di ranah digital. ”Selama tahun 2018 tidak kurang dari 2.217 situs atau akun yang menjual obat tidak sesuai ketentuan, direkomendasikan untuk ditake down atau diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika,” ucapnya.

Belakangan muncul promosi obat dengan merek dagang Gastrul dan Cytotec dipromosikan untuk obat penggugur kandungan. Kandungan zat aktif misoprostol seharusnya digunakan untuk orang dengan gangguan lambung seperti asam lambung. ”Penggunaan obat yang mengandung zat aktif misoprosol yang disetujui BPOM adalah untuk pengobatan tukak lambung dan tukak duodenum,” kata Penny.

Hingga kini, sudah 139 penjual zat aktif misoprostol secara daring sudah dilaporkan oleh BPOM ke Kementerian Komunikasi dan informatika. Menurut Penny mereka menjual melalui website mandiri, media sosial seperti Facebook, dan e-commerce.

”BPOM juga telah merekomendasikan 100 situs yang menjual dan mempromosikan trivam kepada Kominfo untuk dilakukan take down pada tahun lalu,” tuturya. Trivam adalah jenis obat yang digunakan untuk anastesi atau pembiusan. Sayangnya obat ini sering disalah gunakan untuk tindakan kejahatan.

Selain pengawasan rutin dan intensifikasi pengawasan peredaran obat di pasaran, BPOM juga memiliki strategi khusus dalam mengawasi obat secara daring yaitu cyber patrol. Pengawasan ini dilakukan secara berkala yang dijual melalui market place atau e-commerce dan media sosial.

”BPOM sejak tahun 2011 telah rutin berpartisipasi dalam operasi pangea yang dikoordinasikan oleh ICPO INTERPOL (The International Criminal Police Organization, Red) sebagai salah satu upaya pemberantasan obat ilegal termasuk palsu yang diiklankan melalui internet,” ungkapnya.

Berdasarkan hasil penelusuran BPOM sejak 2011 telah ditemukan sejumlah situs dan media sosial yang menjual obat keras secara online. biasanya obat tersebut digunakan secara off label atau obat di luar indikasi yang disetujui BPOM. ”Terhadap situs-situs tersebut telah dilaporkan kepada Kominfo untuk dilakukan pemblokiran,” imbuhnya.

Penny menghimbau agar masyarakat tidak membeli dan mengonsumsi obat yang dijual secara online. Alasannya, masyarakat tidak memperoleh informasi secara lengkap dan tepat. ”Khusus untuk penggunaan obat keras, harus dilakukan di bawah pengawasan dokter yang dibuktikan adanya resep,” ucap Penny.(lyn/jpg)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button