Internasional

Batik Jadi Dress Code Debat Terbuka Dewan Keamanan PBB

NEW YORK – Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi memimpin debat terbuka Dewan Keamanan PBB kemarin (8/5) waktu setempat. Retno menyampaikan komitmen Indonesia untuk meningkatkan peran personil perempuan penjaga perdamaian (peace keepers).

Pertemuan yang digelar di Markas PBB, New York, AS itu mengusung tema ”Menabur Benih Perdamaian: Pelatihan dan Pembangunan Kapasitas untuk Meningkatkan Keselamatan dan Kinerja Pasukan Perdamaian PBB”. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga ikut hadir dalam pertemuan itu.

Di sisi lain, ada yang menarik dalam rapat tersebut. Ragam motif batik dan tenun yang dikenakan delegasi berbagi negara mewarnai Ruang sidang Dewan Keamanan PBB. Termasuk Antonio Guterres. Dia mengenakan kemeja dengan motif tenun troso berwarna kuning keemasan.

Dress code batik dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada Indonesia. Ya, Indonesia selam bulan Mei adalah pemegang Presidensi Dewan Keamanan PBB. ”Sangat menyenangkan dalam sidang hari ini cantik dan colorful. Sebagian besar anggota Dewan Keamanan PBB mengenakan batik, termasuk Sekjen PBB mengenakan tenun dari Bali,” ungkap Retno bangga.

Dia berharap, melalui acara tersebut batik bisa semakin popular. Apalagi UNESCO telah mengakui batik sebagai warisan kebudayaan dunia.

Dalam debat terbuka Dewan Keamanan PBB itu merupakan salah satu agenda prioritas Indonesia selama menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2019-2020. Pada kesempatan tersebut, menteri 56 tahun itu menyatakan, personil perempuan lebih efektif untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat di wilayah konflik.

”Lebih bisa mengikat hari dan memberi rasa nyaman bagi masyarakat yang trauma akibat perang dan konflik,” jelas Retno dalam pidatonya. Maka dari itu, lanjut dia, mengembangkan skema pelatihan khusus bagi personil perempuan sangat penting. Agar mengoptimalkan potensi personil sebagai agen perdamaian. Pelatihan regional perdamaian dan keamanan untuk perempuan di Jakarta, bulan lalu.

”Fokus dari training and capacity building adalah bagaimana meningkatkan kinerja dan keselamatan para pasukan perdamaian,” kata Retno. Hingga saat ini, Indonesia telah mengirim lebih dari 100 pesonil perempuan pasukan perdamaian. Seluruhnya tersebar untuk delapan dari 14 misi perdamaian PBB.

Menurut Retno, operasi penjaga perdamaian PBB adalah alat paling efektif untuk memelihara perdamaian dunia. Delapan kali lebih murah daripada misi unilateral. (han/jpg)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button