AdvertorialBontang

80 Siswa Kelas 10 SMA IT Yabis Berguru Hidroponik ke Kampung Masdarling

BONTANG – Mengaplikasikan konsep pembelajaran prakarya dan kewirausahaan dengan cara berbeda, 80 siswa SMA Islam Terpadu (IT) Yabis berkunjung ke Kampung Masdarling atau Masyarakat Sadar Lingkungan, Jumat (2/8/2019) lalu.

Siswa diajak praktik langsung cara membudidayakan sayuran organik sekaligus pelestarian lingkungan di sudut Kampung Masdarling yang berada di Jalan Bukit Pasir, RT 26, Kelurahan Gunung Telihan itu.

Siti Jamilah selaku Guru Biologi yang juga Wakil Kurikulum SMA IT Yabis menjelaskan tujuan pengaplikasian cara belajar tersebut untuk mengedukasi siswa, khususnya kelas 10. Mengajak siswa turun langsung menanam sayuran organik sekaligus praktik berwirausaha.

“Cara belajar seperti ini lebih efektif karena dengan praktik langsung, siswa lebih semangat, senang, menarik, lebih mudah memahami, dan mengaplikasikan ilmunya,” ucapanya saat dihubungi awak Bontangpost.id.

Agar memudahkan proses knowledge sharing, rombongan siswa dibagi menjadi 15 kelompok dari jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) maupun Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Pengajar yang merupakan warga Kampung Masdarling binaan Badak LNG itu pun mengajak siswa menanam bermacam sayuran organik seperti sawi, kangkung, hingga selada.

“Ini program pertama yang Insya Allah akan diusahakan program lainnya,” harap Jamilah.

Rencananya, konsep pelestarian lingkungan melalui budi daya sayuran organik ini akan diterapkan di sekolah. “Siswa akan membawa bahan-bahan yang dibutuhkan dan praktik lagi di sekolah. Lalu akan diajarkan pemasaran hasil budi daya sayur organik,” papar wanita berkacama tersebut.

Dengan saksama para siswa memperhatikan penjelasan mengenai budi daya sayuran hidroponik. (Humas Yayasan Yabis)
Dengan saksama para siswa memperhatikan penjelasan mengenai budi daya sayuran hidroponik. (Humas Yayasan Yabis)

Selain pelestarian lingkungan, siswa juga diajarkan berwirausaha dari hasil budi daya sayuran organik yang mereka tanam. Menjual produk hasil olahan di Koperasi Madu atau Mandiri Usaha milik sekolah. Agar nantinya para siswa dapat menciptakan lapangan kerja sendiri.

“Tentu kita juga mengajak siswa kunjungan ke industri pengolahan sayur organik menjadi produk bernilai jual tinggi, contohnya ke pembuatan keripik pare,” kata Jamilah.

Ia berharap melalui konsep belajar ini siswa dapat lebih mudah memahami cara membudidayakan sayuran organik dan menerapkan dalam kesehariannya. Serta memiliki wawasan dan ketertarikan tentang wirausaha. Tak kalah penting, Jamilah ingin menumbuhkan kesadaran akan pentingnya melestarikan lingkungan agar kelak menjadi penggerak masyarakat sadar lingkungan di lingkungan masing-masing. (Rera Annorista/adv)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button