Bontang

Penyediaan Air Bersih di Pesisir Butuh Rp 9 Miliar

BONTANG – Kelangkaan air bersih pada pulau pesisir di Kota Taman bakal ditanggulangi. Tiga Pembangunan reserve osmosis (RO) diwacanakan terjadi dalam waktu dekat. Meliputi Pulau Malahing, Selangan, dan Tihitihi.

Kepala Bidang Sanitasi, Air Minum, dan Sumber Daya Air Dinas pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota (PUPRK) Bontang Karel mengatakan, tahun ini dilakukan perencanaan. Pagu anggaran yang dialokasikan sejumlah Rp 421 juta. Anggaran ini bersumber dari APBD 2019 Bontang. Pengerjaan fisik dilanjutkan tahun berikutnya.

“Fisiknya itu membutuhkan Rp 9 miliar. Satu lokasi Rp 3 miliar. Kemungkinan bakal dilaksanakan tahun depan jika ada anggarannya,” kata Karel.

Fungsi dari RO ini ialah mengolah air laut untuk dijadikan air minum. Air laut itu dipompa agar naik ke kawasan permukiman. Selanjutnya, senyawa garam dipisahkan menggunakan water treatment. Hasil tahapan itu lanjut ke proses penyaringan. Totalnya mencapai tujuh kali.

Berikutnya usai penyaringan, air dipaparkan sinar ultraviolet. Pemaparan ini berfungsi untuk mematikan kuman yang larut dalam air.Kandungan mineral pun diberikan pada tahapan kemudian.

Terakhir, air dimasukkan dalam galon berukuran 1.200 liter. Di wadah inilah masyarakat pulau pesisir dapat mengambilnya untuk kebutuhan sehari-hari. “Ini prosesnya cepat sekali,” ucapnya.

Karel menjelaskan proses ini tidak berpengaruh dengan kondisi air laut. Baik itu pasang maupun surut. “Surut tetap bisa mengambil air,” tutur dia.

Sayangnya, pasokan air ini belum dapat terhubung dengan hunian warga. Penempatan titik pengambilan ini dinilai lebih adil. Sehingga warga lain dapat mengontrol.

“Jadi nanti tiap rumah dijatah berapa galon tiap harinya,” sebutnya.

Namun tidak menutup kemungkinan mekanisme ini berubah. Bila pun disalurkan ke tiap rumah maka membutuhkan meteran untuk pengontrolan distribusi air. Karel berujar pengelolaannya pun dapat dilakukan oleh masyarakat di kawasan tersebut.

Ke depan, pembangunan sarana ini dapat mempermudah warga. Sehingga, warga tidak lagi berlayar ke Kelurahan Tanjung Laut untuk mengambil air bersih. Diketahui, Pemkot Bontang tahun lalu telah membangun sarana serupa di Pulau Gusung.

Sebelumnya diberitakan, warga Pulau Tihitihi mengaku susah mendapatkan air bersih. Masyarakat harus berlayar terlebih dahulu. Itu pun harus membeli per jeriken isi 30 liter seharga Rp 1.000. Nominal itu di luar biaya pembelian bahan bakar kapal.

Ketua RT 17 Muslimin menyebut air bersih tersebut digunakan warga untuk keperluan mandi dan memasak. Untuk membeli air pun warga harus memerhatikan kondisi cuaca. Hingga kini, tiga orang sempat tenggelam saat berlayar saat hujan deras dan angin kencang.

“Kadang-kadang jika tidak ada air dan cuaca buruk, kami memilih mandi menggunakan air laut. Walau sekadar bilas-bilas saja,” pungkasnya. (ak/prokal)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Sumber
Prokal
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button