Bontang

Waspada, Satu Pasien DBD Meninggal

Satu pasien DBD meninggal di RSUD Taman Husada Bontang. Pihak rumah sakit mengingatkan masyarakat untuk waspada. Kasus DBD tahun ini lebih tinggi dibanding 2016.

BONTANG–Seorang pasien demam berdarah dengue (DBD) meninggal, Jumat (16/8). Pasien bernama Afdal itu merupakan murid SD Muhammadiyah kelas 4, berusia 10 tahun. Dia sempat mendapat pertolongan medis di RSUD Taman Husada.

Dokter Spesialis Anak RSUD Arlita Putri Eka Vivin mengatakan, saat itu pasien datang dalam keadaan kritis. Masa kritis ialah hari keempat hingga ketujuh demam berdarah. Sementara itu, perawatan yang diberikan belum sampai 24 jam. Langsung ditangani di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU). “Pasien itu datang pada posisi perburukan,” kata dr Putri.

Perjalanan klinisnya pasien menderita demam berdarah dilengkapi dengan tanda bahaya. Disertai dengan pendarahan secara masif. Baik melalui lambung, hidung, mulut, saluran pencernaan bawah, dan paru-paru.

“Bukan hanya secara kuantitas tetapi mengarah ke mengancam jiwa. Tandanya pasien masuk demam berdarah kategori berat,” ucapnya.

Dijelaskan dia, tenaga medis telah berusaha maksimal. Pemasangan alat ventilator pun dilakukan untuk menyuplai oksigen kepada pasien tersebut. Bahkan, jarum infus dipasang tiga titik dengan fungsi yang masing-masing berbeda.

Mulai memasukkan komponen darah, obat-obatan untuk mempertahankan tekanan darah dan denyut jantung, serta obat injeksi lain dan cairan. Termasuk dengan bekerja sama dengan pihak Palang Merah Indonesia (PMI) Bontang. Berkenaan dengan penyediaan darah.

“Tidak mengejar blood lost yang dialami oleh pasien. Sehingga akhirnya pasien meninggal,” jelas dr Putri.

Suhu badan pasien kala itu pun tidak tinggi. Tidak mencapai 39 derajat celsius. Putri menekankan kepada masyarakat bila penderita demam berdarah suhu tubuhnya mulai turun belum tentu pertanda sembuh.

Justru pada hari demam turun bisa terjadi penurunan trombosit yang cepat atau terjadi kebocoran plasma. Jika tidak mendapatkan perawatan medis. “Kebocoran plasma darah inilah yang mengakibatkan terjadinya pendarahan masif,” tutur dia.

Saat ini, dua pasien demam berdarah kategori berat lainnya masih mendapat perawatan di ruang PICU RSUD Taman Husada. Kedua pasien ini berusia 7 dan 16 tahun. Sementara tujuh pasien demam berdarah lainnya ditangani tenaga medis dengan kasus sama tetapi masuk kategori selain berat.

Putri menerangkan, saat ini kasus demam berdarah lebih tinggi dibanding 2016. Dia meminta kepada masyarakat bila anak-anaknya menderita demam selama tiga hari. Disertai gejala lain seperti nyeri tulang belakang, pusing, mual, muntah, atau nyeri belakang kepala untuk segera melakukan pemeriksaan darah. “Pasalnya, demam berdarah berat ada risiko meninggal,” pungkasnya. (prokal)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Sumber
Prokal
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga

Close
Back to top button