Bontang

Berantas DBD, Pemberian Wolbachia Butuh Dana Rp 4 Miliar

PENANGANAN penyakit demam berdarah dengue (DBD) dapat dilakukan dengan memberikan bakteri Wolbachia kepada nyamuk Aedes Aegypty. Pemkot Bontang bakal menganggarkan sekira Rp 4 miliar untuk langkah tersebut.

Kasi Surveilans, Imunisasi dan Wabah Bencana Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang Adi Permana mengatakan, upaya itu akan dimulai pada tahun anggaran 2020. Mekanismenya pun bertahap. Dibagi dalam tiga tahun.

“Jadi ada masa persiapan, pelepasan jentik nyamuk, hingga proses evaluasi dari metode ini,” kata Adi.

Baca juga: Waspada, Bahaya DBD Masih Mengintai 

Skema ini berbentuk kerja sama. Dengan menggandeng Tim Riset World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta. Menurut Adi, nantinya Tim Riset WMP akan menyediakan ribuan telur. Selanjutnya, telur itu diberi air agar menetas menjadi jentik nyamuk. Jentik nyamuk dari telur yang disediakan itu telah diberi bakteri Wolbachia.

Baca Juga:  Tekan Angka DBD, Hari Ini Mulai Fogging Massal

“Kemudian jentik dilepas di beberapa titik untuk berkembang biak. Pastinya nyamuk melakukan reproduksi. Tidak menutup kemungkinan nyamuk yang diberi bakteri itu kawin dengan nyamuk yang telah berkembangbiak di Kota Taman,” ucapnya.

Diprediksi dalam setahun terjadi perkembangbiakan drastis nyamuk ber-Wolbachia. Sebab dalam sepekan, telur nyamuk berevolusi menjadi nyamuk dewasa. Satu nyamuk dapat bertelur hingga 100 hingga 300 butir. Sementara usia nyamuk ialah dua minggu hingga satu bulan.

Dijelaskan Adi, nyamuk yang diberi bakteri itu tidak menularkan virus DBD. Karena virus itu telah dimatikan oleh bakteri tersebut. Sehingga nyamuk hanya bisa menggigit manusia tanpa berakibat gejala seperti DBD pada umumnya.

Proses evaluasi dilakukan dengan menangkap nyamuk dewasa. Pengecekan dengan membedah isi perut nyamuk apakah terkandung bakteri tersebut. Proses ini dipandang Adi membutuhkan anggaran besar. Sebab, pengecekan hanya dapat dilakukan dengan membawa sampel nyamuk ke Yogyakarta.

Baca Juga:  Waspada, Empat Virus DBD Siap Menyerang

“Karena mereka yang mempunyai laboratorium. Bontang belum punya,” ujarnya.

Bila ini dilakukan, maka kasus DBD dapat ditekan. Yogyakarta, kota yang telah melakukan langkah ini berhasil menekan kasus DBD hingga 74 persen. Bahkan, angka penekanan kasus DBD di Australia mampu mencapai 100 persen. (ak/kp)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close