Feature

Kota-Kota Dilanda Kabut Asap: Mata Perih, Dada Sesak, Muntah-Muntah

Pagi waktu terpekat, sampai sore juga tetap pekat. Sekolah-sekolah diliburkan, puskesmas-puskesmas disiagakan, dan ratusan ribu orang mengalami ISPA.

TAUFIQURRAHMAN, Pekanbaru-Siak, Jawa Pos

CUMA suara ribut slang-slang hidrolis saat pilot menurunkan roda yang menandakan pesawat akan mendarat. Daratan di bawah hampir tidak kelihatan. Putih semua.

Karena grogi, saya sempat menghubungi salah seorang pilot senior anggota Dewan Kehormatan Ikatan Pilot Indonesia, kapten Yusni Marian. ”Tenang saja, untuk ukuran negara tropis, ILS (instrument landing system) bandara-bandara Indonesia sudah bagus kok. Termasuk yang di Kalimantan dan Sumatera,” paparnya.

Benar saja, tahu-tahu badan pesawat sudah bergetar dan menggelinding di landasan pacu Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau. Pada Kamis lalu (12/9) itu semua lampu landasan menyala terang meski baru pukul 15.00 WIB.

Lega, tentu saja. Tapi, berada di Pekanbaru hari-hari ini, kelegaan adalah barang mahal dan langka.

Inilah kota yang hari-hari ini memiliki kualitas udara membahayakan gara-gara jerubu (kabut asap) yang berhulu dari kebakaran hutan dan lahan. Senasib dengan ibu kota Riau itu adalah Kabupaten Siak di sebelah timur.

Dua kawasan tersebut mencatat rekor indeks standar pencemar udara (ISPU) terburuk dengan skala 500 hingga 800 PSI (pollutant standards index). Padahal, ISPU lebih dari 300 saja sudah dinyatakan hitam alias berbahaya bagi kesehatan siapa saja. Tak kenal usia atau jenis kelamin.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup, 49.266 hektare hutan dan lahan terbakar di Riau pada periode Januari sampai Agustus tahun ini. Ada enam provinsi lain yang ribuan hektare hutan dan lahannya mengalami petaka serupa. Tapi, Riau yang terparah.

Di jalanan dari bandara menuju hotel cekikan jerubu itu terasa benar. Jika menatap pada sebuah deretan bangunan, bangunan pertama dan kedua tampak jelas warnanya.

Bangunan yang lebih jauh, ketiga, keempat, dan seterusnya, sudah berkurang jauh saturasi warnanya. Bangunan kelima dan seterusnya cuma samar-samar saja di antara kabut.

Sehabis magrib, laporan harian dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan data yang mencengangkan. Indeks PM (partikel mikron/semakin banyak partikel ini, semakin buruk kualitas udara) 2.5 udara Pekanbaru menyentuh angka dramatis: 331 alias berbahaya.

Jadi, sudah berapa ribu mikronkah partikel beracun yang saya hirup selama perjalanan dari bandara ke hotel tadi? Tapi, saya baru beberapa jam saja di sini. Bagaimana dengan warga setempat yang telah berhari-hari, bahkan berpekan-pekan, menyesapnya?

Mengutip Riau Pos, mulai awal tahun ini tercatat 281.626 orang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Khusus September saja, sampai pekan kedua, jumlahnya menembus 4.306 orang.

Keesokan paginya (13/9) saya membuktikan apa yang dikatakan Tasirman, sopir taksi yang membawa saya dari bandara ke hotel sehari sebelumnya. Benar belaka.

Jam terpekat di Pekanbaru adalah pagi hari, pukul 06.00 WIB. Gelap. Pendar cahaya lampu jalan, neon box, videotron-videotron di mal masih terlihat kuat. Seolah-olah mata kita dipasangi diffuser.

Saat mulai terang, yang terlihat hanya putih sepanjang mata memandang. Cuma bangunan-bangunan terdekat yang terlihat jelas. Juga, kendaraan-kendaraan bermotor yang jauhnya kurang dari setengah kilometer.

Pada Jumat pagi lalu itu di jalanan Pekanbaru hampir tidak terlihat orang-orang berlalu-lalang memakai pakaian dinas maupun seragam sekolah. Tak terkecuali di sekitar Masjid An Nur yang merupakan pusat aktivitas warga.

Namun, Pasar Perempatan Alengka masih berdenyut. Kendatipun para pedagang dan pembeli harus buka tutup masker saat bertransaksi.

Tera Piliang yang saya temui setelah berbelanja bercerita, dirinya adalah satu di antara sedikit anggota keluarganya yang masih beraktivitas di luar ruangan saat musim-musim asap seperti ini. Dari pasar dia hendak menuju tempat kerjanya di sebuah kedai kopi menaiki angkot. ”Kalau anak-anak sudah saya kurung di dalam ruangan,” tuturnya.

Sejak Selasa (10/9) Pemprov Riau dan pemerintah kota/kabupaten di sana memang meliburkan secara bertahap seluruh aktivitas pendidikan. Niat awalnya memang agar para pelajar dan mahasiswa tidak terlalu banyak terpapar udara yang tercemar jerubu di luar ruangan.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Semakin banyak waktu bagi mereka untuk bermain di luar. Contohnya saya saksikan Jumat pagi lalu itu di sekitar Jalan Nanas di Kecamatan Sukajati, Kota Pekanbaru. Sekelompok anak-anak bermain riang di halaman deretan ruko.

Satu di antara mereka adalah Afriani. Empat hari sebelumnya dia muntah-muntah di sekolahnya, SDN 153 Pekanbaru.

Pada masa-masa pagebluk jerubu seperti sekarang ini, kesehatan anak-anak memang paling rentan anjlok. Afriani menuturkan, Senin lalu (9/9), saat terakhir dia sekolah, ada tiga kakak kelasnya yang juga muntah-muntah.

”Dibawa ke UKS (unit kesehatan sekolah),” cerita dia di samping sang ibu Wasni, saat saya berkunjung ke rumah mereka.

Afriani lantas diantarkan pulang oleh salah seorang guru ke rumah. Wasni kemudian membawa sang buah hati ke RS Santa Maria untuk diasapi. Sampai Jumat (13/9), Afriani sudah lebih dari sepuluh kali diasapi.

Tapi, kabut asap terbukti tidak hanya melemahkan anak-anak. Kuni Masrohanti, salah seorang wartawati Riau Pos yang menghabiskan hari-harinya berkeliling Pekanbaru dengan sepeda motor, pun merasakan jahatnya asap.

”Rasanya perut seperti penuh gitu. Kala sudah mau muntah, saya menepi, langsung muntah saja,” tuturnya.

Sejak asap semakin pekat, beberapa organisasi memang membuka posko kesehatan untuk melayani masyarakat yang mulai mengalami gangguan pernapasan. Sejak asap semakin pekat pada Kamis (12/9), Gubernur Syamsuar mengirimkan surat edaran ke semua pemerintah kota/kabupaten agar menyiagakan puskesmas masing-masing untuk menampung warga.

Menjelang magrib, di Jumat yang sama, saya sudah tiba di Siak Sri Indrapura, ibu kota Kabupaten Siak, yang terpisah jarak hampir 100 kilometer dari Pekanbaru. Kabut asap tampak menggantung tebal.

Dengan jarak pandang tak lebih dari 1 kilometer. Lampu harus terus dihidupkan. Keindahan dermaga Sungai Siak yang terletak di samping kompleks masjid dan makam Sultan Syarif Kasim II juga sudah tak lagi dapat dinikmati.

Tidak ada lagi anak-anak muda yang berjalan di tepian sungai dan taman-taman yang indah itu. Apa yang mau difoto?

Sisi sebelah utara sungai sudah tidak terlihat. Buram saja semua. Bahkan, Jembatan Tengku Agung Sultana Latifah yang terkenal indah dipandang dari kejauhan juga nyaris tak tampak.

Di Kecamatan Bunga Raya, 27 kilometer sebelah utara Siak Sri Indrapura, kabut asap pekat membuat Ucu Sukapto, ketua Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Tuah Indrapura, sesekali terbatuk. Dia baru saja tiba dari balai desa untuk menghadiri panggilan rapat dari kepala desa yang juga menderita batuk.

Namun, menurut Ucu, secara umum aktivitas warga tidak terganggu. Tiap pagi tetap saja melenggang menuju kebun masing-masing untuk menggarap tanah. ”Tapi ya itu, naik sepeda motor dari sini ke kantor camat saja, mata sudah perih, dada juga sesak,” tuturnya.

Yang jelas, desa-desa seperti Tuah sangat dekat dengan lahan-lahan gambut dan perkebunan sawit. Kampung Tapsel di Desa Buantan Besar di utara Tuah dikepung lahan sawit konsesi tiga perusahaan.

Pertengahan Agustus lalu lahan sawit milik PT Teguh Karsa Wana Lestari (TKWL) terbakar hebat. Itu membuat warga yang hanya dibatasi kanal selebar 5 meter semburat dan mengungsi ke desa-desa sekitar. ”Kalau sekarang tinggal asap. Ya batuk-batuk saja,” kata Amei Duha, warga Tuah yang bersama sang istri, Rumiyati Laiya, juga sempat mengungsi ke rumah tetangga di Dam 3. (jpc)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Sumber
Jawa Pos
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button