Bontang

Jangan Hanya Diucapkan, MUI Minta Prakla Segera Ditutup

BONTANG – Majelis Ulama Islam (MUI) Bontang turut berkomentar mengenai rencana penutupan petak kamar di Prakla dan penertiban tempat hiburan malam (THM) oleh Pemkot Bontang. Rencana itu hingga kini belum terealisasi.

Ketua MUI Bontang Imam Hambali mengatakan, harus ada tindakan nyata dari pemerintah setempat. Jangan hanya diucapkan, namun direalisasikan. Mengingat kawasan Prakla dinilai tempat maksiat, sehingga harus dibongkar.

Ia menegaskan, sebelum malapetaka menimpa di kemudian hari, sesegera mungkin  ditindak. “Aparat perangkat daerah harus bertindak,” ucapnya kepada awak Kaltim Post.

Mengenai praktik esek-esek yang dianggap tetap menjamur meski Prakla ditutup, ia menyebut itu merupakan persoalan lain. Terpenting yang ada saat ini harus ditertibkan terlebih dulu. Sebagai mitra pemerintah, MUI mendorong agar Pemkot Bontang segera melakukan tindakan. Menurutnya THM yang hanya menerapkan hiburan semata, tentu masih bisa ditoleransi. Akan tetapi, jika menimbulkan maksiat tentu perlu dibongkar atau dihentikan.

“Tentu kami sangat mendorong agar (Prakla, Red) dibongkar jika masih ada praktik prostitusi, itu merupakan aktivitas maksiat,” tegasnya.

Diketahui, 19 Juli 2019 lalu, Pemkot Bontang berencana menertibkan THM di Kota Taman. Empat tim telah terbentuk sehubungan upaya tersebut. Keempat tim itu meliputi penindakan, pembinaan, legal, dan tim penerima aduan masyarakat.

Wakil Wali Kota Bontang Basri Rase menjelaskan empat tim itu akan bekerja sesuai dengan tupoksinya masing-masing. Baik sebelum maupun pasca penertiban. “Supaya tidak ada praktik prostitusi di THM. Kami memiliki satu kesamaan yakni penertiban THM,” kata Basri saat memimpin rapat beserta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

Sejak awal kepemimpinan Neni-Basri 2016 silam, Prakla yang diubah namanya menjadi Pantai Harapan sudah dijadwalkan untuk dijadikan kawasan wisata kuliner. Namun nyatanya hingga kini praktik esek-esek masih saja eksis.

Bahkan beberapa waktu lalu, Basri mengklaim jika petak kamar di Prakla sudah dibongkar sendiri oleh pemilik wisma. Namun, berdasarkan pantauan media ini, sejumlah pekerja seks komersial (PSK) di kawasan itu masih aktif menjajakan dirinya kepada pria hidung belang lewat aplikasi online, MiChat. (*/rsy/prokal)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close