Bontang

Terkait Karhutla, Mahasiswa Tantang Anggota DPRD Bontang

BONTANG – Permasalahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) merupakan satu-satunya isu daerah yang diangkat oleh mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa September Berdarah (Ampera) pada unjuk rasa, Kamis (26/9/2019) lalu. Hal ini tertuang dalam salah satu dari sembilan poin tuntutan demonstran.

Presiden Mahasiswa Universitas Trunajaya (Unijaya) Sadly Jaya meminta kepada aparat penegak hukum untuk bersikap tegas. Kepada oknum yang sengaja melakukan pembakaran lahan.

“Tuntutan kami ialah hentikan pembakaran hutan di Kalimantan maupun di Sumatera yang diduga dilakukan oleh korporasi. Dan meminta mempidanakan korporasi pembakar hutan serta mencabut izinnya,” kata Sadly.

Pasalnya, pembakaran ini justru berdampak bagi seluruh masyarakat. Di mana asap yang dihasilkan membahayakan bagi kesehatan manusia. Salah satunya rentan terkena penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Saat menyampaikan aspirasi di depan anggota dewan, mahasiswi Unijaya Hariati justru menantang wakil rakyat. Dengan meminta anggota dewan untuk sepekan sekali pergi ke Sekretariat DPRD menggunakan kendaraan roda dua. Ia mempertanyakan belum adanya sikap atau tindakan yang dilakukan oleh legislator sejauh ini.  “Jangan hanya naik mobil. Supaya tahu dampak kebakaran lahan,” kata Hariati.

Diakuinya, ia terkena dampak secara langsung dari pekatnya kabut asap. Karena mahasiswi fakultas ekonomi ini berdomisili di Bontang Lestari. Alhasil, setiap hari melewati area yang bersebelahan dengan terjadinya kebakaran lahan.

Anggota DPRD Rusli menjelaskan hingga kini dewan belum memanggil instansi terkait sehubungan belum terbentuknya alat kelengkapan dewan (AKD). Namun, dirinya mengaku telah berkoordinasi secara lisan kepada pihak bersangkutan.

“Kami belum berhak untuk memanggil instansi terkait karena DPRD belum bentuk AKD,” kata wakil rakyat dari fraksi Amanat Nurani Rakyat (Annur) ini

Legislator lainnya, Raking, menyanggupi ajakan dari mahasiswa. Menurutnya tidak ada salahnya jika anggota dewan berangkat tidak menggunakan kendaraan roda empat. “Tidak apa-apa bagus juga. Kalau perlu bersepeda justru lebih sehat,” terang Raking. (*/ak/prokal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close