Nasional

Karhutla Belum Tuntas, Jambi Berkabut, Riau Membiru

Jambi masih diselimuti kabut asap meski sudah diguyur. Operasi teknik modifikasi cuaca (TMC) masih dilakukan untuk mendapatkan hujan intensitas tinggi hingga Sabtu (29/9) kemarin. Sementara itu, di Riau konsentrasi kabut asap sudah mulai terurai.

Berdasarkan pantauan satelit LAPAN hingga pukul 21.52, masih ada 23 titik api dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen. Tim Balai Besar TMC BPPT terus menabur kapur tohor (CaO) untuk menipiskan asap, sehingga awan-awan potensial dapat tumbuh. 1,5 ton CaO dan 2,5 ton NaCl dibawa pesawat Hercules C-130 dari Lapangan Udara Roesmin Nurjadin Pekanbaru pagi hari.

”Rutenya Tanjung Jabung Barat, Jambi kemudian menuju juga wilayah Riau. Yakni, Bengkalis, Siak, Pelalawan, dan Indragiri Hulu,” ujar Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC-BPPT) Tri Handoko Seto. Hasilnya, tim mendapat laporan hujan turun dengan intensitas sedang sore harinya. Yakni di wilayah Pelepat Ilir dan Muara Bungo, Jambi.

Sementara itu, langit kota Pekanbaru, Riau dilaporkan sudah mulai cerah. Salah satu warga kota Riau, Eka Gusmadi Putra mengungkapkan bahwa sejak dua hari terakhir, langit kota Pekanbaru sudah mulai biru dengan dihiasi awan-awan tinggi. “Cuaca sudah membaik dan kabut sudah mulai memudar,” katanya pada Jawa Pos (grup Bontangpost.id).

Udara kota Pontianak juga dilaporkan membaik. Direktur Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Kalbar yang juga tinggal di Pontianak Anto P. Wijaya mengungkapkan, jika dalam 2 dan 3 hari terakhir terus turun hujan. “Jarak pandang sudah membaik dan aktivitas penerbangan sudah normal kembali,” jelasnya.

Baca Juga:  Waduh, Kualitas Udara Kalbar dan Kalteng Memburuk

Meski demikian, anjuran memakai masker untuk menghindari ISPA masih diberlakukan di Pontianak dan sekitarnya. Titik api masih ada di beberapa wilayah dan beberapa kota masih diselimuti Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang tidak sehat.

KLHK mengklaim selama satu minggu terakhir, penurunan jumlah titik panas terus mengalami tren penurunan. “Kondisi titik panas ini sangat jauh menurun, secara signifikan terjadi penurunan sebesar 90 persen selama satu minggu ini,” kata Kabiro Humas KLHK Djati Wicaksono.

Citra satelit Modis LAPAN yang digunakan BMKG yang menjadi standar kondisi cuaca di ASEAN menunjukkan pada 23 September 2019 lalu jumlah titik panas (hotspot) seluruh Indonesia berjumlah 1.374 titik. dimana di Riau terdapat 134 titik, Jambi 324 titik, Sumatera Selatan 337 titik, Kalimantan Barat 20 titik, Kalimantan Tengah 279 titik, dan Kalimantan Selatan 49 titik, serta Kalimantan Timur 11 titik.

“Untuk tanggal 25 September 2019, Riau dan enam (6) wilayah prioritas penanganan kebakaran hutan dan lahan nasional lainnya, semuanya mengalami penurunan,” jelas Djati.

Baca Juga:  Kabut Asap Selimuti Bontang, Kualitas Udara Buruk, Ini Pemicunya

Jumlah ini menurun pada 25 September 2019 sebanyak 554 titik. Dengan sebaran Riau 68 titik, Jambi 15 titik, Sumatera Selatan 13 titik, Kalimantan Barat 9 titik, Kalimantan Tengah 268 titik, Kalimantan Selatan 39 titik, Kalimantan Timur 60 titik.

Pada 26 September, modis LAPAN menangkap kenaikan jumlah titik api. Pada pukul 18.55 WIB, setelit mencatat ada 915 titik api seluruh Indonesia. Selanjutnya penurunan kembali terjadi pada Jumat (27/9) pukul 22.12 WIB. Citra satelit mencatat ada 223 titik panas di seluruh Indonesia, dimana Riau hanya 9 titik panas, Jambi 96 titik, terdapat 8 titik panas di Sumatera Selatan, Kalimantan Barat 1 titik, Kalimantan Tengah 1 titik panas, Kalimantan Selatan 1 titik panas, Kalimantan Timur 33 titik panas.

Untuk Sabtu 28 September 2019 tren penurunan kembali terjadi. Kemarin pagi pukul 06.02 WIB, Terdapat 136 titik panas di seluruh Indonesia. Di Riau tersisa 2 titik, Jambi 17 titik, Sumatera Selatan 3 titik, Kalimantan Barat tidak ditemukan titik panas, Kalimantan Tengah terdapat 4 titik, Kalimantan Selatan 1 titik, dan Kalimantan Timur terdapat 27 titik.

Baca Juga:  Sehari, Kebakaran di Empat Lokasi, Disdamkartan Kesulitan

Menurut Djati, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dilakukan oleh BPPT sangat membantu upaya pemadaman di darat, sehingga dapat menurunkan jumlah titik panas. Dalam satu minggu ini, hujan sudah turun di Provins Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat seperti di wilayah Singkawang Bengkayang, Sukadana, dan beberapa wilayah lainnya. Hujan juga turun di wilayah Kalimantan Tengah.

Untuk Provinsi Riau, tim Manggala Agni, TNI, POLRI dan Masyarakat Peduli Api tetap menyiagakan 38 posko khusus di daerah rawan karhutla, dan masih dilakukan upaya pemadaman di Kecamatan Dumai Timur, Dumai Selatan, Medang Lampung, hingga Rengat. Wilayah-wilayah ini diketahui memiliki lahan gambut yang cukup dalam sehingga perlu dilakukan juga pemadaman darat.

Provinsi Sumatera Selatan yang dalam beberapa hari mengalami hujan. Juga menunjukkan penurunan titik panas. Namun, tim satgas masih melakukan pemadaman melalui darat untuk wilayah yang belum padam, seperti di Desa Muara Medak, Kecamatan Sungai Rotan, dan Kabupaten Muara Enim.

Secara keseluruhan, kata Djati, jarak pandang di wilayah rawan karhutla cukup baik, sehingga penerbangan masih dapat dilakukan di Provinsi rawan karhutla ini. Hingga 27 September kemari, sebanyak 211.216 kg garam telah disemai untuk mempercepat pertumbuhan awan sehingga turun hujan.(jpc)

Sumber
Jawa Pos
Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close