Bontang

Musim Hujan, Waspada Peningkatan Kasus DBD

BONTANG – Lima hari belakangan Kota Taman selalu diguyur hujan. Perubahan cuaca ini wajib diwaspadai oleh masayarakat. Pasalnya, potensi peningkatan kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) bisa terjadi.

Kasi Surveilans, Imunisasi dan Wabah Bencana Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang Adi Permana mengatakan, tetesan air hujan yang terkumpul dalam wadah penampungan air bisa menjadi sarana perkembangbiakan nyamuk. Apalagi jika tempat tersebut tidak dibersihkan maupun diberi serbuk abate.

“Biasanya ada peningkatan kasus saat memasuki musim penghujan. Karena nyamuk aedes aegypti itu suka air bersih yang tidak bercampur tanah,” kata Adi.

Ia meminta kepada warga untuk peduli terhadap lingkungan sekitar. Terutama tempat penampungan air bersih. Meliputi vas bunga, tatakan dispenser, bak mandi, maupun wadah lainnya.

Seperti diketahui, Diskes telah melakukan fogging massal pada dua pekan belakangan. Tiap kelurahan pun telah dilakukan dua kali. Hal ini dalam rangka pemberantasan nyamuk aedes aegypti. Tak hanya itu, kegiatan tersebut juga dibarengi dengan upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Wujudnya berupa kegiatan bersih lingkungan.

Baca Juga:  Berantas DBD, 25 RT di Gunung Telihan di-Fogging

“Karena fogging itu hanya memberantas nyamuk dewasa. Langkah itu akan kurang maksimal jika tidak dibarengi PSN,” ucapnya.

Nyamuk DBD ini mampu terbang dalam radius 200 meter. Perkembangbiakannya berlangsung cepat. Dalam siklus 14 hari nyamuk bisa bertumbuh dari jentik menjadi nyamuk dewasa.

Ke depan, bila terjadi kasus DBD maka Diskes tidak mengagendakan fogging massal kembali. Namun, upaya fogging hanya menyasar kepada lokasi sekitar yang terdapat kasus DBD atau disebut dengan fogging fokus.

Berdasarkan data dalam kurun sebulan setengah ini terjadi penurunan kasus DBD. Pada Agustus total penderita akibat gigitan nyamuk aedes aegypti ini yakni 62 kasus. Sementara hingga dua pekan di September tercatat 19 kasus.

Baca Juga:  DBD Telan Tiga Korban Jiwa, Pemkot Dianggap Lamban Tanggap

“Jumlah kejadiannya memang lebih rendah dari pola maksimal. Kalau Agustus di 2016 mencapai 122 kasus sedangkan September 54 kasus,” terangnya.

Namun demikian, mulai Januari hingga Juli jumlah kasus DBD di Bontang melebihi pola maksimal. Bahkan, Pemkot Bontang gencar untuk menanggulangi darurat DBD ini. Diberitakan sebelumnya, Bontang menjadi daerah endermis untuk DBD. Parahnya, terdapat empat virus penyakit tersebut yang dapat menyerang publik Kota Taman. Meliputi virus dengue (DEN) 1, DEN2, DEN 3, dan DEN 4.

“Berdasarkan paparan dari Kemenkes, Kalau di tempat lain itu umumnya dua virus. Di sini (Bontang) keempatnya ada,” kata Bahauddin.

Tiap jenis virus tersebut memiliki perbedaan secara klinis. Namun, jenis terganas ialah DEN 2. Kondisi ini dapat terlihat pada perjalanan penyakit pasien. Diujarkan dia, umumnya pada jenis DEN 1, 3, dan 4 masa kritis memasuki hari kelima dan keenam.

Baca Juga:  Bulan Ini, Satimpo Terbanyak Kasus DBD 

“Tetapi untuk DEN 2 itu lebih cepat. Hari ketiga atau empat bisa saja pasien sudah syok berat,” pungkasnya. (*/ak/prokal)

Sumber
Prokal
Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close