Nasional

Ditanya Perpu KPK, Jokowi dan Para Menteri Kompak Bungkam

Jakarta – Presiden Joko Widodo atau Jokowi dan sejumlah menteri kompak bungkam ketika ditanya isi dan kapan Perpu KPK diterbitkan.

Pada saat menghadiri Perayaan Hari Batik Nasional 2019 di Pura Mangkunegaran, Solo, Jokowi meminta wartawan bertanya tentang Hari Batik, bukan soal Perpu KPK.

“Ini kan kita sedang bicara tentang batik,” kata Jokowi di Pura Mangkunegaran Solo, pada Rabu lalu, 2 Oktober 2019.

Adapun Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan yang tahu nasib Perpu KPK adalah Presiden Jokowi. “Presiden yang tahu, yang jelas urusan ini hanya Bapak Presiden yang tahu, dan tidak perlu dimultitafsirkan,” ucapnya.

Segendang sepenarian dengan Presiden Jokowi dan Pramono Anung, Menteri Sekretaris Negara Pratikno memilih menjawab, “Belum tahu, belum tahu, tanya Masnya, tuh,” di Istana Negara hari ini, Kamis, 3 Oktober 2019, ambil menunjuk ke sembarang orang.

Baca Juga:  Dilema Seleksi Capim KPK: Sepi Pendaftar, Sulit Terpantau Publik

Selanjutnya, Pelaksana tugas Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Tjahjo Kumolo malah meminta pers bertanya kepada Menseskab Pramono Anung soal Perpu KPK. Politikus PDIP yang juga Menteri Dalam Negeri tersebut juga menyatakan tak mau berkomentar mengenai itu.

“Mohon Maaf,” tutur Tjahjo Kumolo.

Setelah bertemu dengan puluhan tokoh nasional di Istana Merdeka pada Kamis, 26 September 2019, Presiden Jokowi menyampaikan akan mempertimbangkan Perpu KPK dan segera memutuskannya. Namun hingga kini sikap Presiden Jokowi belum jelas.

Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh mengklaim bahwa Jokowi dan para ketua umum partai pendukung pemerintah sepakat menolak penerbitan Perpu KPK

Ketika dikonfirmasi tentang hal itu, Mensesneg Pratikno meminta pers menunggu pernyataan resmi yang akan disampaikan oleh Presiden Jokowi.

“Tunggu, tunggu, tunggu. Kalau Presiden sudah menyatakan sesuatu, nah, itu. Sekarang, kan, belum.”

Baca Juga:  Pernah Garap Jalan Gunung Menangis, Kontraktor Itu Kini Tersandung Kasus Suap

Sebelumnya, salah satu tokoh nasional peserta pertemuan, Mochtar Pabottingi, berharap Presiden Jokowi tidak mendengarkan suara dari partai-partai politik. Jika Jokowi mengikuti mereka nasibnya bisa sama seperti Presiden RI ke-2 Soeharto.

“Jokowi menghancurkan dirinya sendiri kalau tidak mengeluarkan Perpu. Semua catatan-catatan dan prestasi Jokowi akan kehilangan arti, akan sirna begitu saja, menguap begitu saja, kalau korupsi di luar kontrol,” ujarnya pada Rabu lalu, 2 Oktober 2019.(tempo)

Sumber
Tempo
Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close