Bontang

Pulau Beras Basah, Destinasi Wisata Andalan, Berusaha Menghindar dari Kekumuhan

EKSPRESI Darul Asmawan mendadak berubah. Kekagumannya terhadap Pulau Beras Basah berganti rasa heran. Sambil menggaruk rambut, dia membaca tulisan di kamar mandi. Ukurannya cukup besar, dengan warna terang. Merah dan biru.

Di sana tertera harga air per jeriken ukuran lima liter, Rp 5 ribu. Berarti, per liter dikenakan Rp 1 ribu. “Lebih mahal dibanding WC umum,” seloroh mahasiswa asal Balikpapan ini.

Air tawar yang berada di pulau seluas sekitar satu hektare ini didatangkan dari Tanjung Laut, maupun Berbas Pantai. Itu menjadi alasan para penjual melabelinya cukup menguras isi kantong. “Kalau nginap, paling tidak bisa sampai Rp 50 ribu untuk biaya air,” terangnya.

Terlepas dari keterbatasan air tawar, Pulau Beras Basah memang memesona. Hamparan pasir putih dan laut yang jernih menjadi daya tarik. Memikat wisatawan untuk kembali berkunjung.

Pemandangan bawah laut dengan deretan karang dan ikan memanjakan mata. Tidak perlu jauh berenang untuk menikmatinya. Hanya sekitar 30 meter dari bibir pantai. Setiap akhir pekan, pengunjung bisa bermain banana boat.

Puluhan pohon kelapa turut menghadirkan rasa nyaman. Ditanam dengan jarak sekitar 10 meter, membuat daun nyiur seolah payung raksasa. Mampu melindungi sengatan sang surya.

Selain keindahan pantai dan lautnya, menara setinggi 30 meter juga menjadi daya pikat Pulau Beras Basah. Menara itu difungsikan sebagai pemandu lalu lintas kapal. Terutama yang menuju dan keluar dari kompleks kilang Badak LNG.

Menara inilah yang turut menjadi penanda keberadaan Pulau Beras Basah. Dari Pelabuhan Tanjung Laut, butuh waktu 30-40 menit untuk tiba. Tergantung tinggi rendahnya ombak.

“Pulau ini memang layak untuk menjadi jualan pariwisata Bontang. Jika dikelola lebih baik lagi, bisa menyumbang pemasukan daerah,” ujar Darul.

DIKELOLA PERUSDA

Mempercantik Pulau Beras Basah bukannya tidak dilakukan. Tahun ini, Pemkot Bontang membangun jembatan yang turut dilengkapi markah bertuliskan Selamat Datang Di BERAS BASAH dengan perpaduan warna. Spot ini menjadi andalan baru untuk mengabadikan momen.

Namun, untuk menjual obyek wisata ini bukan hanya dari pemerintah. Dukungan warga, terutama mereka yang mencari nafkah dari keberadaan pulau ini turut menentukan.

Terpal yang banyak dihampar, contohnya. Rata-rata berukuran 3×3 meter dan disewakan seharga Rp 100 ribu. Selain soal harga, terpal itu juga terkesan kumuh. Sudah berulang kali Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Bontang meminta agar dibongkar. Termasuk menata warung-warung dan kamar mandi. Namun, kerap tidak diindahkan.

“Kenapa pengelolaannya tidak diserahkan ke perusda (perusahaan daerah) saja?” kata Felanans Mustari, jurnalis kaltimkece.id, disela mendampingi Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID), Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), dan awak media, mengeksplorasi Pulau Beras Basah sebagai bahan praktik menulis, bagian dari pelatihan jurnalistik garapan Dinas Komunikasi dan Informatika Bontang, Kamis 17/10/2019.

Perusda bisa menarik retribusi dari pengunjung. Di sisi lain, fasilitas yang kurang turut dilengkapi. Terutama air tawar dan tempat isi ulang baterai telepon seluler. Terpal-terpal diganti dengan kursi angin dengan aneka warna.

“Saya rasa, itu tidak berat bagi pengunjung. Mereka membayar kapal untuk ke sini saja tidak ada masalah,” terangnya. (Zaenul)

Apa Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close