Bontang

Hartoyo, Kontraktor Bontang yang Ditangkap KPK Itu Dekat Dengan Pejabat dan Royal

HARTOYO di Bontang cukup familiar bagi sejumlah kalangan. Direktur PT Harlis Tata Tahta (HTT) yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena kasus dugaan suap itu disebut dikenal baik di kalangan kontraktor maupun pejabat.

Salah seorang rekan Hartoyo di Bontang yang meminta namanya disamarkan, sebut saja Donwori mengatakan, Hartoyo memang dari dulu memiliki kedekatan dengan salah satu pejabat di lingkungan Pemprov Kaltim maupun pemerintah pusat. “Makanya Hartoyo kerap mendapatkan proyek di tingkat provinsi atau pusat,” bebernya.

Sementara itu, Ketua Gabungan Perusahaan Konstruksi Nasional Indonesia (Gapeksindo) Bontang Mulyadi menuturkan, Hartoyo berperilaku baik selama ini. Bahkan selalu mendukung setiap kegiatan asosiasi. Baik dalam dukungan dana penyewaan sekretariat asosiasi maupun penyediaan akomodasi saat musyawarah nasional dan daerah.

“Dulu kadang kalau kami kesulitan dana lari ke dia (Hartoyo). Berapa yang diperlukan langsung diberi. Namun dua tahun terakhir sudah tidak minta bantuan beliau. Karena Gapeksindo bisa jalan,” kata Mulyadi.

Dia memandang Hartoyo juga tidak mau ribut dalam hal tender pekerjaan. PT HTT kala itu awalnya memenangkan lelang proyek pertama pelandaian jalan di kawasan Gunung Menangis, jalan poros Samarinda-Bontang. Namun saat itu ada intervensi, sehingga perusahaan lain yang menang. “Dia legawa saat dikalahkan. Kontraktor pemenang justru tidak karuan pengerjaannya bahkan sempat tertunda,” ujar pria yang juga politikus Partai Demokrat itu.

Setelah itu, PT HTT akhirnya memenangkan proyek perbaikan jalan Samarinda-Bontang. Namun pengerjaan itu difokuskan kepada lanjutan proyek Gunung Menangis. “Hasilnya tidak mengecewakan. Sekarang dapat dinikmati semua orang,” sebut dia.

Dijelaskan Mulyadi, Hartoyo tahun 2006 tercatat sebagai anggota Gapeksindo Bontang. Bahkan, dia memperoleh mandat dari pengurus provinsi untuk menjabat ketua Gapeksindo Bontang.

Jabatan itu berakhir 2008 berbarengan dengan kasus yang menimpa perusahaannya. Yakni pembelian bahan bakar di SPBU KS Tubun menggunakan drum. “Saat itu yang membeli ialah karyawan perusahaannya untuk keperluan bahan bakar alat berat. Ternyata itu tercium oleh kepolisian. Dan beliau ditangkap dan divonis dua tahun kurungan,” beber pria yang menjabat ketua Gapeksindo mulai 2012 hingga sekarang itu.

Setelah itu, dia tidak berkeinginan untuk menjabat ketua asosiasi lagi. Meski begitu, Hartoyo masih tercatat sebagai anggota Gapeksindo. Total anggota asosiasi itu mencapai 150 perusahaan.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Bontang Basri Rase memandang Hartoyo adalah orang berkepribadian baik. Selain itu, dia memiliki semangat yang kokoh untuk menjadi pengusaha lokal sukses. “Selama ini baik-baik saja ramah, santun, dan bersosial. Sayangnya terjerumus dalam permainan korupsi proyek,” kata Basri.

Basri menuturkan tersangka juga rutin berolahraga bersamanya. Tiap sepekan dua kali terdapat waktu yang disempatkan untuk bermain tenis meja. Hingga sarana olahraga itu disediakannya. “Kami mempunyai grup WhatsApp yakni Bontang Sport. Saya selalu berolahraga tenis meja bareng di tengah kesibukan masing-masing,” tuturnya.

Melalui kejadian itu, ia meminta kepada semua pihak untuk melakukan pembenahan diri. Supaya tidak bermain pengaturan proyek. Peristiwa itu dinilai pria yang menjabat sebagai Ketua DPC PKB Bontang tersebut sebagai cermin agar tidak salah melangkah. “Kasihan keluarga kalau seperti ini. Ingat istri dan anak sebelum melakukan tindakan yang tidak sesuai regulasi,” sebut dia.

Kepada pejabat pemerintahan, Basri berpesan agar bekerja secara profesional. Di samping itu, para aparatur sipil negara (ASN) juga wajib berpijak pada ketentuan. “Hindari pertemuan langsung dengan orang yang mau menjerumuskan ke hal tidak diinginkan,” sarannya. (*/ak/rom/k18/prokal)

Apa Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry
Sumber
Prokal
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close