Bontang

Berlakukan Sistem Sif, Dua Sekolah Kena Sentil DPRD Bontang

BONTANG – Dua sekolah negeri disentil oleh anggota dewan. Pasalnya mereka memberlakukan sistem sif dalam kegiatan belajar-mengajar. Sekretaris Fraksi Gerindra Berkarya Raking mengatakan kedua sekolah itu ialah SDN 009 Bontang Utara dan SMPN 2.

Rinciannya, untuk SDN 009 Bontang Utara meberlakukan tiga sif, sedangkan SMPN 2 dua sif. Politikus Partai Berkarya ini menilai kondisi ini dianggap kurang maksimal bagi tenaga pendidik. “Ini akibat dari kurangnya ruangan kelas. Kasihan gurunya kalau mengajar dari pagi hingga sore. Kalau untuk dua hari saja tidak apa-apa tetapi kalau sampai bertahun-tahun itu tidak wajar,” kata Raking.

Nantinya, legislator bakal melihat sikap yang diambil oleh Pemkot Bontang. Jika tidak diindahkan untuk penambahan ruang kelas maka wakil rakyat siap menggelar inspeksi. “Karena anggaran untuk pendidikan kan 20 persen dari APBD Bontang. Saya rasa itu cukup untuk memenuhi kebutuhan ruang kelas,” ucapnya.

Kepala SD 009 Bontang Utara Syaipullah membenarkan sekolahnya memberlakukan tiga sesi belajar. Rinciannya, sesi pertama berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 11.00 Wita. Dilanjutkan sesi kedua 11.00-14.00 Wita dan sesi ketiga 15.00-16.00 Wita. “Untuk kelas 1, 2, dan 3 sesinya dibagi. Sisanya menyesuaikan,” kata Syaipullah.

Hal ini lantaran, sekolah yang berlokasi di Jalan Fery, RT 8, Kelurahan Loktuan, ini hanya mempunyai enam ruang kelas. Sementara terdapat 13 rombongan belajar (rombel) di sekolah tersebut. Dengan total siswa yakni 423 siswa. Angka ini berdasarkan data dari data pokok pendidikan dasar dan menengah (Dapodikdasmen).

Ia menuturkan warga masih mempercayai putra-putrinya bersekolah di SD 009 Bontang Utara. Mengingat tidak dipungut biaya pendidikan di sekolah negeri alias gratis. “Waktu tahun ajaran kemarin (2019-2020) yang daftar sekira 200 siswa. Kami terima hanya 60. Sisanya ditolak karena tak mampu menampung semuanya,” ujarnya.

Meski demikian, tenaga pendidik di sekolah yang berdampingan dengan SD 004 Bontang Utara ini tetap memberikan kualitas terbaik. Wakil Kepala Kurikulum SMP 2 Jumadi juga tidak menampik sekolahnya memberlakukan dua sesi belajar. Sebab, kondisi ini sudah terjadi sejak 1995.

Ruangan belajar yang tersedia hanya 12 kelas. Sementara tercatat 24 rombel di sekolah yang berlokasi di Ir H Juanda ini. Jumlah rombel ini tidak mengalami perubahan sejak 2010. Dengan total siswa mencapai 778 murid. “Memang kami kekurangan ruang kelas. Bangunan kelas yang ada pun sudah tua usianya,” kata Jumadi.

Kondisi bangunan pun sempit. Secara otomatis berpengaruh terhadap kurangnya pencahayaan. Belum lagi, lokasi bangunan sekolah berada di dataran rendah. Bila hujan maka air menggenang di area sekolah. “Sebab warga sekitar sini banyak yang meninggikan tanahnya. Beberapa kerusakan bangunan pun selalu kami tambal sulam sejauh ini,” tutur dia.

Menurut Jumadi bantuan pembangunan terakhir terjadi dua tahun lalu. Wujudnya pembuatan ruangan guru, kepala sekolah, dan laboratorium. Ia menilai bangunan ruangan kelas wajib direnovasi. “Kondisinya parah soalnya,” sebut dia.

Jika sekolah menerapkan pengurangan rombel, maka dampaknya bagi kesejahteraah guru. Mengingat rombel yang ada peruntukkannya untuk 24 guru di sekolah tersebut. “Imbasnya ke sertifikasi. Saat ini di SMPN 2 terdapat 42 guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS) dan empat guru honorer,” paparnya.

Mekanisme dua sif yakni sesi pertama mulai pukul 07.00-12.10 Wita. Peruntukkannya bagi kelas 9 dan separo kelas 8. Sesi kedua berlangsung 12.30-17.45 Wita bagi kelas 7 dan sisa separo kelas 8.

Tak hanya akademik, penerapan dua sif ini juga berimbas bagi kegiatan ekstrakurikuler dan bimbingan belajar. Kegiatan ekstrakurikuler terpaksa dijalankan mayoritas hari Minggu. Sedangkan bimbingan belajar menggunakan halaman depan kelas. (*/ak/prokal)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close