Bontang

Tak Hadir Rapat Pembahasan Kerugian Jemaah Umrah, Dewan Geram kepada DTG

BONTANG –Penyelesaian kerugian yang dialami 46 orang jemaah umrah belum menuai titik terang. Pasalnya, Duta Travel Group (DTG) tak hadir dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama gabungan Komisi I dan II, Kementerian Agama (Kemenag), serta perwakilan puluhan korban. Undangan yang diberikan benar-benar tak diindahkan perusahaan travel berkedok umrah tersebut.

Kekecewaan dewan seketika terlontar. Meski agenda itu sempat diundur sekitar 40 menit, namun perwakilan perusahaan travel tersebut tak kunjung tiba. Padahal, untuk memberi penjelasan mengenai nasib jemaah tentu DTG harus hadir.

“Padahal sudah kami sediakan tempat, tapi tidak datang juga,” ujar Rustam yang memimpin rapat itu, Senin (11/11/2019).

Kepala Kemenag Bontang Muhammad Isnaini mengungkapkan, DTG sendiri sebenarnya hanya perusahaan travel wisata saja. Mereka tak memiliki izin untuk memberangkat haji maupun umrah. Namun sejauh ini, memberangkatkan jemaah melalui travel lain, dan ujung-ujungnya turut tertipu.

Sebanyak 30 perusahaan travel yang resmi terdaftar di Kemenag Bontang, tak ada nama DTG di dalamnya. Untuk itu, ia memberikan pemahaman kepada calon jemaah haji agar tetap berhati-hati memilih travel untuk berangkat ke Makkah.

Baca Juga:  ABW Kembali Mengadu, Leni: Kami Minta Iktikad Baik dari DTG

Isnaini menyebut terdapat lima poin untuk memastikan travel, dipastikan travelnya berizin, jadwal atau tanggal keberangkatannya, waktu terbangnya, hotelnya, dan dipastikan visanya. Namun terpenting, sebelum memilih suatu travel, bisa melakukan konsultasi ke perwakilan Kemenag.

“Dalam pemberangkatan sebelumnya, kami tidak pernah memberikan rekomendasi apapun ke DTG. Karena memang DTG ini hanya travel biro perjalanan wisata. Bekerjasama dengan travel lain, tapi identitasnya (DTG, Red) sendiri tak dicantumkan,” bebernya.

Keinginan para korban mendaftar ke DTG tentu masih tanda tanya, padahal sejak awal sudah memperlihatkan gelagak mencurigakan. Akan tetapi masih saja ingin berangkat melalui travel tersebut dan seakan terhipnotis oleh pengelola DTG.

BERITA ACARA KESEPAKATAN DUTA TRAVEL BAITUL DENGAN JEMAAH UMRAH
Jemaah yang akan berangkat umrah sebanyak 46 orang
Pihak duta travel bersedia mengganti dana jemaah
Pihak duta travel mempunyai beberapa asset yang akan menjadi hak jemaah, yaitu tanah berlokasi di Bontang Kuala, yang ditaksir Rp 100 juta. sebuah rumah di Loktuan ditaksir senilai Rp 100 juta, kendaraan roda empat merek Bmw dan Innova ditaksir Rp 100 juta
Jangka waktu pengembalian paling lambat yaitu 6 bulan, tepatnya 27 April 2020
Dana yang akan dikembalikan pihak duta travel dengan proses secara bertahap, dan dana yang akan dikembalikan dikumpulkan biayanya dan pihak travel menstransfer biayanya ke notaris dengan bukti kuitansi atau bukti transfer
Dana tiket yang masih dalam proses pengembalian Rp 598 juta
Travel Duta Baitul akan mengembalikan uang jemaah sebesar Rp 27 juta dengan syarat biaya yang dibayar untuk keberangkatan umrah telah lunas 100 persen
Travel Duta Baitul akan mengembalikan dana jemaah sebesar yang dibayarkan atau sesuai dengan kuitansi yang ad ajika dana yang dibayarkan tersebut belum lunas 100 persen
Duta Travel Baitul akan membayarkan seluruh biaya akta perjanjian oleh seluruh jemaah yang dibuat oleh notaris
Baca Juga:  Siap Beberkan Data, Shidik Mundur karena Ada Kejanggalan

Abdul Samad, yang menjadi salah satu korban mengungkapkan, informasi awal pemberangkatan jemaah umrah melalui DTG datang dari tetangganya. Ia pun berkeinginan mendaftar dengan membayar uang muka sebanyak Rp 8 juta. Dari total Rp 27 Juta, akan dilunasi sebulan sebelum berangkat.

Kaget bukan kepalang seketika disuruh melunasi sisa pembayaran tiga hari setelah mendaftar. Karena pengelola terus berdalih akan gagal diberangkatkan jika tak menyelesaikan pembayaran, hingga Abdul melunasi dengan membayar Rp 19 juta.

“Rp 27 Juta itu biaya berangkat hingga kembali lagi ke Bontang,” ucapnya.

Tak berhenti sampai di situ, jemaah yang tiba di Bandara Balikpapan kembali dimintai uang sebesar Rp 6 juta setiap orangnya. Pengakuan pengelola kepada korban, yakni untuk disetorkan ke Arab Saudi. Jika tak membayar, lagi-lagi terancan batal diberangkatkan.

Baca Juga:  Korban Duta Travel Group Bermunculan

Tak ada keputusan yang memuaskan dalam rapat tersebut. Korban tentu masih menunggu uangnya kembali sekitar 6 bulan ke depan seperti kesepakatan bersama DTG yang ditandatangani di atas materai. Meski begitu, kecil kemungkinan untuk mendapatkan ganti rugi.

Jika ditotal uang yang harus dikembalikan DTG kepada korban, mencapai Rp 1,5 miliar. Sejumlah aset yang dijanjikan dijual untuk melunasi utangnya belum menyentuh angka dari kerugian jemaah umrah. Itu dituangkan dalam berita acara dalam pertemuan 27 Oktober lalu. (*/rsy/prokal).

Sumber
Prokal
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close