Feature

Berjuang Keras demi Bisa Sekolah dan Bangun Pendidikan Agama

Kisah Inspiratif Warga Bontang: Setiyoko Waluyo (115)

Perjalanan hidup Setiyoko Waluyo tidaklah mudah. Sejak kecil dia mesti berjuang keras agar bisa mengenyam pendidikan. Sementara ketika dewasa, perjalanan berliku dilewatinya demi memperjuangkan pendidikan agama anak-anak di Kota Taman, hingga kini duduk di kursi parlemen.

LUKMAN MAULANA, Bontang

Yoko, panggilan akrabnya, sudah menjalani hari-hari berat sejak usia belia. Di umurnya yang keenam, ibunda tercinta meninggal dunia. Lantas selepas SD, dia ditinggal sang ayah yang menyusul ibunya. Impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke bangku SMP terancam kandas setelah tidak ada lagi yang membiayai.

“Semua kakak sudah berkeluarga. Mereka tidak bisa membantu saya untuk sekolah karena anak mereka sendiri tidak disekolahkan” kenang Setiyoko.

Yoko kecil mulai putus asa. Dia sempat hidup menggelandang menjadi anak jalanan beberapa bulan di kota kelahirannya, Palopo, Sulawesi Selatan. Hingga kemudian kakak sulungnya datang dan mengajaknya tinggal bersama. Sang kakak lantas membiayai sekolah Setiyoko asal dia bersedia membantu pekerjaan sang kakak.

Keinginan Setiyoko menempuh pendidikan SMP pun terwujud. Di luar pendidikan formal,  dia diajak sang kakak belajar mengaji di salah satu masjid. Tanpa dinyana, pada hari pertama belajar mengaji Yoko bisa menghapal semua huruf Hijaiyah. Dengan prestasi tersebut, hari berikutnya dia diangkat menjadi asisten guru.

Di bangku kelas 3 SMP, Setiyoko remaja memutuskan hidup sendiri sembari bekerja memenuhi biaya sekolahnya. Saat itu, suami kakak keenamnya meninggal dunia dan meninggalkan empat orang anak yang masih kecil. Merasa kasihan, Setiyoko sudah mulai mencari nafkah membantu empat kemenakannya tersebut.

Setamat SMP Setiyoko kembali berhenti sekolah. Lagi-lagi masalah biaya membuatnya urung melanjutkan sekolah ke jenjang SMA. Apalagi saat itu dia tidak memiliki pekerjaan tetap. Akhirnya Yoko menjadi pengurus masjid. Saat itulah dia bertemu orang baik yang kemudian menawarinya bersekolah di SMA Muhammadiyah.

“Beliau bertanya saya kelas berapa. Saat itu saya jawab saya tidak sekolah. Saya malu sekali. Lalu beliau menawarkan saya untuk mendaftar di SMA Muhammadiyah,” kisah Yoko.

Saking tidak memiliki uang, di dua bulan pertama kelas 1 SMA Yoko masih mengenakan seragam putih biru SMP-nya. Sementara teman-temannya memakai seragam putih abu-abu SMA. Merasa malu, Yoko memutuskan berhenti sekolah sementara waktu. Ketika berhenti itulah Setiyoko bekerja mencari ikan saat makaremo atau musim ikan demi membeli seragam.

“Akhirnya selama sebulan mencari ikan, saya berhasil mengumpulkan uang. Uang tersebut saya belikan seragam dan untuk bayar sekolah. Saya bersekolah lagi,” ujar bungsu dari 11 bersaudara ini.

Namun lagi-lagi dia terbentur biaya ketika akan mengikuti ujian semester. Sehingga memaksa dia kembali berhenti sekolah dan bekerja memotong padi di lahan orang. Meski siang hari tidak bersekolah, malam harinya dia tetap belajar dan merangkum catatan-catatan milik temannya. Dia bahkan mengundang teman-temannya belajar kelompok. Teman-temannya menerima ajakan tersebut karena Setiyoko dikenal sebagai siswa yang pandai.

Setelah berhasil mendapatkan uang, Yoko mengikuti ujian semester yang sempat tertunda. Tanpa disangka dia berhasil meraih peringkat pertama di kelasnya. Prestasi ini mendapat simpati dari kepala sekolahnya yang kemudian membuatkannya pondok kecil untuk tempat menginap di sekolah.

“Saya diminta menjadi guru ngaji di sana, sekaligus tukang bersih-bersih. Selain itu saya juga membantu dalam mengetik administrasi sekolah dan menjadi asisten guru matematika. Saya ingat saat itu saya mengetik hingga berdarah-darah saking kerasnya tombol di mesin ketik,” urai Yoko.

Selepas SMA, dia berniat melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Sayangnya, untuk kesekian kalinya keterbatasan biaya membuatnya mengurungkan niatnya tersebut. Karenanya dia memutuskan mengabdi sebagai petugas Tata Usaha (TU) di SMA Muhammadiyah tersebut sambil mengumpulkan uang untuk kuliah. Namun tabungannya tak kunjung cukup untuk melanjutkan kuliah.

Di tahun 1992 dia menikah dengan pujaan hatinya, Siti Asiah. Setelah menikah dia dipercaya menggarap sawah milik mertuanya. Sayangnya menantu-menantu lain menjadi iri Setiyoko. Hal ini membuatnya mengambil langkah berani untuk hidup mandiri. Kala itu dia sudah merintis Taman Pendidikan Alquran (TPA) dengan santri telah mencapai 100 anak di daerahnya.

Berbekal lowongan pekerjaan yang dilihatnya di majalah Suara Hidayatullah, Yoko merantau ke Palangkaraya dengan membawa serta istri dan anaknya. Namun dalam perjalanan, dia mengubah haluan menuju Bontang. Karena waktu itu dia memiliki kerabat di Bontang.

“Tapi saya tidak tahu alamat kerabat saya. Karena itu saya minta diturunkan di masjid terdekat dari Pupuk Kaltim,” beber ayah tiga anak ini.

Pada awal-awal kedatangannya di Kota Taman, Setiyoko terpaksa menginap di masjid. Pengalamannya sebagai guru ngaji membuatnya dipercaya menjadi guru mengaji di Musala Baiturrahman di Loktuan. Kala itu Setiyoko dipercaya membina para santri untuk mengikuti lomba cerdas cermat dalam Festival Anak Saleh Indonesia (FASI) tingkat Bontang.

Di luar dugaan anak asuhnya berhasil menjadi juara tingkat Bontang dan dikirimkan ke FASI tingkat provinsi. Sejak itu, antusias masyarakat terhadap pendidikan keagamaan mulai muncul. Musala Baiturrahman yang kala itu berukuran kecil lantas direnovasi menjadi masjid yang kini dikenal sebagai Masjid Al-Mujahidin.

Meski begitu taraf kehidupannya masih belum membaik. Karenanya, demi mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, Yoko rela bekerja menjadi kuli bangunan. Mi instan pun menjadi makanan sehari-harinya demi mengganjal lapar.

“Saya merasakan beratnya hidup sebagai guru ngaji. Enam bulan pertama saya sampai mabuk mi instan karena setiap hari itu yang saya makan. Satu bungkus untuk satu hari. Karena gaji guru ngaji tidak cukup untuk kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Cobaan kembali menimpanya setelah tiga tahun mengabdi di Al-Mujahidin. Tanpa disangka, dia difitnah melakukan korupsi uang masjid. Hal ini membuat Setiyoko terpaksa berhenti mengajar di sana. Akan tetapi semangatnya untuk memberikan pendidikan agama tak pernah luntur. Sehingga dia membuka TK Alqurannya sendiri yang diberi nama Nurul Fatah di tahun 1998.

“Karena tidak punya gedung, tempatnya di rumah indekos saya. Awalnya hanya tujuh santri, kemudian berkembang menjadi semakin banyak. Sehingga tempat tinggal kami tidak mencukupi,” ungkap pria kelahiran Palopo, 45 tahun lalu ini.

Semakin berkembangnya TK Alquran binaannya membuat Setiyoko mulai mencicil tanah di samping pemakaman Loktuan. Tahun 2000, dia mulai membangun pondok yang digunakannya sebagai tempat tinggal sekaligus TPA. Dari situ lahirnya keinginannya untuk bisa memiliki gedung sekolah sendiri.

Singkat cerita, Setiyoko mengembangkan TK Alquran miliknya melalui Yayasan Nurul Fatah yang didirikannya 18 September 2001. Dengan jerih payahnya dan bantuan berbagai pihaknya di antaranya perusahaan, TK-nya berkembang dan mulai memiliki gedung sendiri. Tahun 2006 dia sudah memiliki playgroup sementara pada 2009 dia membuka taman penitipan anak.

Barulah pada 2010 dia membuka sekolah dasar (SD) yang diberinya nama Sekolah UNIK’s. Unggul, Natural, Islami, Kreatif, dan Saleh/Salehah, itulah kepanjangan dari akronim UNIK’s yang digunakan Setiyoko sebagai nama sekolahnya. Selain akronim, ada kisah tersendiri yang mendasarinya memberikan nama UNIK.

“Gedung sekolahnya berada di dekat pemakaman. Jadi orang yang datang ke sekolah bilang sekolah ini unik, dekat pemakaman. Untuk mencapainya mesti melewati jalan yang berkelok-kelok. Lantas saya terpikir menggunakan nama tersebut, dengan melihat perjalanan sekolah ini,” papar pria yang gemar memancing ini.

Dalam mengelola sekolahnya ini, Setiyoko selalu mengedepankan pembentukan kepribadian siswa. Yaitu dengan menyeimbangkan antara intelektual dan spiritualitas. Baginya, kedua unsur tersebut perlu ada dalam menunjang kesuksesan seseorang.

“Salah satu motivasi saya mengembangkan sekolah ini yaitu saya ingin memiliki sekolah di mana orang kaya tidak gengsi memasukinya, tapi orang miskin juga bisa ikut menikmatinya,” terang Yoko.

Kata dia, perjuangan mendirikan sekolah tidaklah mudah. Saat berjuang mencari dana, banyak pihak yang pesimistis dan mencibirnya. Namun ada juga yang memberikan bantuan dan malah mengucapkan terima kasih kepadanya karena dianggap menjadi jembatan berbuat kebaikan.

“Tapi akhirnya mereka yang pesimis itu justru kemudian membantu saya. Saya percaya meski mencapai titik jenuh atau sudah mentok, namun bila saya berdoa, Tuhan pasti akan menggerakkan hati orang-orang tersebut,” tegasnya.

Keinginan kuat untuk bisa memberikan manfaat lebih banyak kepada masyarakat lantas membuat Yoko mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 silam. Rupanya banyak masyarakat yang memberikan suara untuknya sehingga dia pun dipercaya menjadi anggota DPRD Bontang periode 2014-2019. Padahal menurutnya banyak pihak yang pesimis dia bisa terpilih menjadi wakil rakyat.

“Ini pesan untuk generasi muda, jangan mudah putus asa dalam berusaha. Saat pemilu 2014 lalu banyak yang pesimis kalau saya bisa duduk di parlemen. Bahkan ada yang mengatakan kalau saya gila. Tapi masyarakat percaya pada saya,” kisah Setiyoko.

Posisinya sebagai Ketua Badan Legislasi (Banleg) DPRD pun dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Yoko untuk bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. Terutama bagi para guru ngaji dan para guru swasta yang ada di Kota Taman. Karena berkat perjuangannya, insentif guru ngaji mengalami peningkatan sementara insentif bagi para guru swasta dapat diwujudkan.

“Sampai-sampai saya dijuluki dewan insentif karena terus memperjuangkan insentif-insentif ini,” ujarnya terkekeh.

Pun begitu meski sudah menjadi anggota DPRD, Setiyoko masih tetap melakukan aktivitasnya sebagai guru ngaji. Dia masih aktif mengisi acara-acara keagamaan seperti maulid nabi, khutbah Jumat, dan pengajian-pengajian majelis taklim. Meski sibuk dengan kegiatan dewan, dia menyebut tidak bisa meninggalkan kebiasaan-kebiasaannya dalam membina umat.

“Termasuk saya masih tetap menjalankan kegiatan saya berkebun kelapa sawit. Selain menyehatkan, juga menghasilkan,” tambahnya.

Setiyoko mengatakan, dalam menjalani hidup dia selalu berusaha bisa bermanfaat bagi orang lain. Menurutnya hidup hanya satu kali, karena itu harus benar-benar bisa memberikan arti. Karenanya sampai saat ini dia masih aktif mengasuh anak-anak yatim dan kurang mampu yang telah dilakukannya sejak remaja.

“Motivasi saya agar anak-anak bisa cerdas lahir batin, kompetitif dan bisa bersaing. Bagi saya, mengajarkan agama merupakan investasi yang tidak ada putusnya dan menjadi amal jariyah,” pungkasnya. (***)

sumber: bontang.prokal.co

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga

Close
Back to top button