Bontang

Proyek Kilang Untungkan Masyarakat Kota Taman

 

Kapasitasnya Bisa Berkembang Jadi 400 Ribu Barel Per Hari

JAKARTA – Pembangunan kilang Bontang akan memasuki tahap project expose pada 28 Februari mendatang. Pembangunan kilang ini disebut dapat memproduksi minyak lebih dari 300.000 barel per hari (bph).

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina, Rachmad Hardadi berharap pembangunan kilang Bontang yang tengah dikerjakan Pertamina nantinya berdampak baik bagi pertumbuhan ekonomi daerah.

“Harapannya ya tentu memberi pertumbuhan ekonomi bagi daerah sekitarnya,” ujarnya seperti dikutip dari rilis kepada Bontang Post, kemarin (25/2).

Dia mengatakan kilang Bontang bisa saja berproduksi hingga mencapai 400.000 barel per hari. Target produksi tersebut juga berlaku bagi kilang minyak Pertamina lainnya seperti di Tuban, Jawa Timur.

“300 (ribu) bph bisa, tapi bisa dikembangkan ke arah 400 (ribu) bph,” ujar Hardadi.

Sebelumnya, sekitar 50 perusahaan telah menyatakan minatnya untuk mengambil bagian dalam Project Expose GRR (Grass Root Refinary) Bontang yang akan dilaksanakan pada 28 Februari mendatang. GRR Bontang ditargetkan mampu mengolah minyak mentah sekitar 300.000 barel per hari.

Hardadi mengatakan, Pertamina telah mengumumkan sekaligus mengundang perusahaan-perusahaan yang memiliki kompetensi untuk menjadi mitra strategis dalam pelaksanaan megaproyek GRR Bontang baik dari refiner, trading company, maupun institusi finansial.

“Hingga hari ini, terdapat lebih dari 50 perusahaan calon mitra yang sejauh pengamatan kami memiliki kompetensi world class untuk megaproyek pengolahan dan petrokimia, menyatakan akan hadir dalam Project Expose GRR Bontang pada 28 Februari mendatang. Tentu ini merupakan signal positif tidak hanya bagi proyek GRR Bontang, namun juga iklim investasi di Indonesia yang masih sangat menarik di sektor ini,” ujar Hardadi.

Hardadi mengatakan terdapat empat karakteristik utama calon mitra yang dikehendaki Pertamina, antara lain memiliki rekam jejak yang kuat pada industri pengolahan minyak utamanya keandalan operasional dan eksekusi proyek. Selain itu harus dapat menyesuaikan dengan struktur dan model bisnis yang dikehendaki Pertamina.

“Dua karakteristik lainnya yang tidak kalah penting, yaitu memiliki keinginan kuat untuk percepatan proyek dan menyelesaikannya pada 2023 serta memberikan nilai menarik bagi proyek GRR Bontang,” imbuhnya.

Selain itu, Pertamina menargetkan untuk memperoleh mitra strategis tersebut pada 28 April 2017. Setelah terpilih, Pertamina bersama mitra strategis akan memulai proses Bankable Feasibility Study (BFS) yang ditargetkan selesai pada awal tahun 2018 sekaligus menuntaskan pembentukan konsorsium. Kemudian akan ditetapkan Pre lnvestment Decision 1 yang menggambarkan perkiraan awal investasi proyek GRR Bontang.

Pelaksanaan pembangunan kilang baru di Bontang ini merupakan tindak lanjut dari Keputusan Menteri ESDM No. 7935 K/10/MEM/2016 tanggal 9 Desember 2016 yang menugaskan Pertamina untuk membangun dan mengoperasikan kilang minyak di Bontang, Kalimantan Timur.

GRR Bontang diharapkan bisa mendukung Nawacita Presiden Rl Joko Widodo untuk meningkatkan kemandirian energi dengan mengurangi impor BBM. Pada tahap awal, Pertamina akan masuk dengan minimal kepemilikan sekitar 5 persen hingga 25 persen dan selanjutnya mempunyai hak atau pilihan untuk meningkatkan kepemilikan dalam periode yang akan disepakati kemudian. (*/zul)

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button