• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

Bayar Tunai, Jadi Kuno

by BontangPost
14 April 2018, 09:15
in Dahlan Iskan
Reading Time: 2 mins read
0
CANGGIH: Pembeli jajanan di Kota Xiamen membayar pakai handphone, melalui aplikasi WeChat atau AliPay.(Dahlan Iskan)

CANGGIH: Pembeli jajanan di Kota Xiamen membayar pakai handphone, melalui aplikasi WeChat atau AliPay.(Dahlan Iskan)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Dahlan Iskan

Saya jadi orang aneh dua hari terakhir ini. Jadi orang kuno. Misalnya tadi malam. Saat saya jalan-jalan di sebuah gang yang ramai di Kota Amoy. Disebut juga Kota Xiamen. Kota besarnya Suku Hokkian.

Saya mampir beli cakue. Di pinggir gang. Di pedagang kaki lima. Ternyata saya lah satu-satunya orang yang membayar dengan uang. Padahal ini di dalam gang. Di kaki lima.

Saya sengaja berdiri sekitar 15 menit. Di gang itu. Untuk menghitung pembeli. Khususnya yang masih membayar dengan uang.

Ternyata tetap saja hanya saya sendiri. Pembeli lainnya membayar pakai handphone: WeChat atau AliPay.

Lihatlah beberapa foto yang saya sertakan di sini. Orang yang beli makanan di kaki lima itu senjatanya hanya handphone. Bukan lagi dompet.

Padahal harga makanan itu hanya satu renminbi. Atau sekitar Rp 2.000. Benar-benar uang kecil pun tidak diperlukan di Tiongkok.

Malamnya saya makan di restoran. Juga jadi orang aneh. Orang kuno. Satu-satunya yang saat itu membayar dengan uang.

Baca Juga:  Banyak Dalih, Susah Maju

Keesokan harinya saya naik kereta peluru. Kecepatannya 300 km/jam. Dari Xiamen ke kabupaten Quanzhou. Sejauh 200 km. Hanya 25 menit.

Saya lagi membayangkan dari Surabaya ke kampung saya di Magetan. 25 menit. Saya juga satu-satunya orang yang membeli tiket dengan uang: 25 RMB. Sekitar Rp 50.000. Jauh lebih murah dari karcis tol baru antara Surabaya-Kertosono. Hanya Kertosono.

Stasiun kereta peluru ini ternyata di luar kota. Ongkos taxinya 60 RmB. Dua kali lebih mahal dari harga tiket kereta pelurunya.

Malam tadi saya balik ke Xiamen. Kali ini pilih kereta cepat: 200 km/jam. Bukan kereta peluru. Tiketnya lebih mahal: 35 RMB. Ini karena bisa berhenti di Stasiun Kota Xiamen. Tidak perlu ada ongkos taksi yang mahal itu.

Sekali lagi saya jadi satu-satunya orang yang beli tiket kereta cepat dengan uang kontan. Meski hanya 35 RMB. Tiga lembar sepuluhan dan satu lembar lima renminbian.

Baca Juga:  Asyik Nonton, Lupa Jualan

Petugas memasukkan tiga lembar uang saya itu ke mesin. Hanya 35 RMB. Diperiksa palsu atau tidak. Sampai dua kali.

Rupanya sudah lama petugas itu tidak lihat uang. Kepekaan jarinya rupanya sudah berubah. Tidak bisa lagi meraba perbedaan lembar asli dan palsu.

Di Quanzhou saya makan siang. Di mie favorit saya: Lanzhou Lamian. Mie tarik Lanzhou. Saat mulai duduk pelayannya menunjuk sudut meja saya.

Di situlah tertempel barcode. Dia bilang: bayarnya nanti di pojok meja itu. Saya bilang bahwa saya akan bayar pakai uang.

Dia tampak kaget. Lalu lapor ke atasannya. “Ok,” jawab pelayan itu. Setelah berkonsultasi dengan bosnya. Untuk urusan bayar dengan uang tunai!

Saat tiba waktunya membayar, terjadi lagi apa yang saya lihat di stasiun. Kasirnya lama sekali mengamati uang itu. Palsu atau tidak. Dibolak-balik. Baru ok.

Baca Juga:  Durian Runtuh di Rumah Sebelah

Begitulah, saya pernah jadi orang modern: membayar dengan credit card. Kini credit card sudah menjadi kuno. Bahkan lembaran uang pun sudah menjadi usang.

Quangzhou adalah kabupaten. Satu kabupaten di Provinsi Fujian. Pelabuhannya pernah menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Di zaman Mojopahit.

Entah berapa puluh ribu orang Hokkian (Fujian) yang pernah menggunakan pelabuhan ini. Zaman itu dan zaman berikutnya. Untuk xia nan yang. Mencari hidup baru di wilayah selatan. Yang kelak di tahun 1900-an wilayah itu bernama Indonesia.

Kini pelabuhan itu masih ada bekasnya. Sudah sangat usang. Sudah lebih sepi dari pelabuhan Donggala. Hanya perahu-perahu nelayan yang mangkal di situ. Dengan wujud yang tidak bergairah.

Zaman terus bergerak. Yang modern jadi kuno. Yang besar jadi punah. Hidup terus maju. Meninggalkan siapa pun yang tidak setuju. (dis)

Tags: catatan dahlan iksan
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Duh, Nenek Jual 267 Miras Ilegal

Next Post

Mahasiswa Taat Syariat atau Radikal

Related Posts

Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Dag Dig Dug Pemilu Malaysia

9 Mei 2018, 09:15
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Manufacturing Hope

8 Mei 2018, 09:15
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Adu Kuat Kereta Cepat

4 Mei 2018, 09:15
Obat #Stress2019 Ala Shanghai
Dahlan Iskan

Obat #Stress2019 Ala Shanghai

3 Mei 2018, 09:15
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Problem Bule Baca Disway

2 Mei 2018, 09:15
Ideologi Republik dari Kansas
Dahlan Iskan

Ideologi Republik dari Kansas

1 Mei 2018, 09:15

Terpopuler

  • Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ragam Alasan Masyarakat Pilih Golput

    2 shares
    Share 2 Tweet 0
  • Berpura-pura Belanja, Komplotan Pencuri Gasak Tas Berisi Emas 200 Gram dan Rp30 Juta di Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • (1) Madura United vs Borneo FC (1)  Penuhi Target

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.