Budayakan Bahasa Inggris, Bekali Mahasiswa dengan Soft skill
Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Kaltim terus berbenah. Di usia menginjak dua windu, berbagai terobosan dibuat. Khususnya dalam mencetak lulusan-lulusan tangguh dan berdaya saing tinggi di tengah kondisi sulitnya lapangan pekerjaan.
LUKMAN MAULANA, Samarinda
Kemampuan akademis saja tidak cukup menjamin lulusan perguruan tinggi menemukan pekerjaan sesuai bidang yang ditekuni. Apalagi di era sekarang yang serba tak menentu. Ini disadari manajemen Poltekkes Kemenkes Kaltim, Samarinda. Demi menghasilkan lulusan yang dapat terserap di dunia kerja, Poltekkes bukan hanya membekali mahasiswa dengan kemampuan akademis semata.
“Untuk memasuki dunia kerja ternyata hard skill saja belum cukup. IPK saja belum cukup. Karena itu kita juga dampingi dengan soft skill,” kata Pembantu Direktur Bidang Kemahasiswaan Poltekkes Kaltim, Edi Sukamto saat ditemui Metro Samarinda, Rabu (30/8) kemarin.
Kata Edi, setiap tahunnya jumlah lulusan tenaga kesehatan di Kaltim mencapai ratusan orang. Termasuk dari Poltekkes itu sendiri. Di tengah permintaan tenaga kesehatan yang tebatas, tentunya persaingan untuk dapat terserap ke dunia kerja pun semakin ketat. Karena itu, Poltekkes Kaltim telah mengantisipasi dengan mencarikan berbagai peluang pekerjaan untuk para mahasiswanya.
“Terutama peluang pekerjaan di luar negeri. Selain karena makin sulitnya peluang kerja di dalam negeri, juga adanya permintaan dari negara-negara luar terhadap tenaga kesehatan dari Indonesia,” ungkapnya.
Dalam mencarikan peluang ini, Poltekkes tak luput bekerja sama dengan BNP2TKI sebagai lembaga pembina dan penyalur tenaga kerja milik pemerintah. Lembaga ini sering memberikan peluang kepada lulusan-lulusan Poltekkes Kaltim. Bila memungkinkan ada negara-negara user yang memang bersedia menjadi sasaran atau tempat bekerja lulusan Poltekkes Kaltim.
“Alumni kami sudah ada yang bekerja di luar negeri. Di antaranya ada yang bekerja di Sydney, Australia sampai sekarang,” tambah Edi.
Meski permintaan terbilang besar, namun kendala bahasa masih menjadi aral bagi para alumni Poltekkes untuk bersaing di mancanegara. Karenanya, terhitung mulai 2017 ini Poltekkes telah membuat program pengembangan kapasitas bahasa Inggris mahasiswa atau Student English Capacity Development Program.
“Dengan harapan mahasiswa-mahasiswa kami bisa menjadikan bahasa Inggris sebagai budaya di kampus,” sambungnya.
Program ini juga didukung dengan unit kegiatan mahasiswa (UKM) English Club yang ada di kampus. Bukan hanya bahasa Inggris, sederetan kegiatan kokurikuler maupun ekstrakurikuler juga mendapat dukungan penuh dari direktorat Poltekkes. Apalagi bila berkontribusi soft skill yang bermanfaat bagi masa depan mahasiswa kelak.
“Kami mendorong mahasiswa untuk mendapatkan kompetensi soft skill yang memadai. Baik melalui kegiatan di dalam maupun di luar kampus,” tuturnya.
Kegiatan-kegiatan tersebut terbilang beragam. Dalam hal penalaran misalnya, mahasiswa melaksanakan seminar-seminar, diskusi-diskusi panel, atau temu-temu ilmiah. Termasuk juga kegiatan berbasis bakat, minat dan kegemaran seperti bidang olahraga maupun kesenian.
“Kami meyakini bahwa mahasiswa ini punya bakat dan minat. Ini yang harus kami salurkan. Jadi kalau nanti mahasiswa jadi perawat, ya perawat yang memiliki soft skill yang memadai, demikian juga bidan,” jelas Edi.
Bukan sekadar menyediakan fasilitas-fasilitas UKM, Poltekkes juga secara rutin mengirim mahasiswanya berkompetisi dalam berbagai event. Baik di tingkat regional, nasional, dalam berbagai bidang. Untuk bidang olahraga misalnya, mahasiswa Poltekkes dikirim untuk ikut bertanding dalam Pekan Olahraga Mahasiswa Kesehatan dan Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (Pomnas).
Sederetan prestasi berhasil direngkuh, salah satunya juara umum dalam Pekan Olahraga Mahasiswa Kesehatan Regional Pertama di Palangkaraya. “Kami unggul dari Pontianak. Namun dua tahun kemudian saat penyelenggaraan di Banjarmasin, kami juara umum kedua di bawah Pontianak,” urainya.
Di bidang kesenian, beberapa kali Poltekkes Kaltim mengirim mahasiswa dalam ajang pekan kesenian mahasiswa nasional. Sementara untuk bahasa Inggris, para mahasiswa dikirim mengikuti National Polytechnic English Olympic (NPEO) serta National Health Polytechnic English debate Competition.
Selain kegiatan berbasis minat dan bakat, serangkaian kegiatan kemahasiswaan lainnya juga digalakkan Poltekkes demi meningkatkan soft skill yang membentuk kepribadian mahasiswa. Salah satunya mendorong mahasiswa untuk memiliki kepedulian sosial. Di Poltekkes, terdapat UKM yang berkaitan kepedulian sosial seperti Korps Suka Rela Palang Merah Indonesia (KSR-PMI).
“Mereka ikut kepedulian bencana dan lain sejenisnya. Kegiatan ini tentu ikut membentuk karakter mahasiswa yaitu peduli. Karena sebagai tenaga kesehatan, kepedulian itu mutlak dimiliki,” imbuh Edi.
Pun begitu mahasiswa diajarkan soft skill yang berhubungan kesejahteraan di kampus. Sebagaimana tampak dalam kegiatan koperasi mahasiswa dan kantin kejujuran. Yang terakhir ada Ormawa, organisasi kemahasiswaan yang bisa diikuti semua mahasiswa.
Melalui serangkaian kegiatan kemahasiswaan tersebut, muara yang diinginkan oleh kampus adalah terbentuknya empat karakter utama mahasiswa. “Yaitu lulusan yang tangguh, peduli, jujur, dan juga cerdas,” sebutnya.
Kegiatan-kegiatan ini kata Edi, menjadi landasan bagi mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan satuan kredit kegiatan mahasiswa (SKKM). SKKM ini merupakan kuantifikasi soft skill yang diperoleh mahasiswa selama kuliah. Sebagaimana Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang merupakan kuantifikasi dari hard skill atau kemampuan akademis mahasiswa.
“Penggunaan SKKM di Poltekkes sudah berjalan selama setahun ini. Dan satu-satunya di Indonesia, bahwa di Poltekkes Kemenkes Kaltim mahasiswa yang lulus mendapatkan IPK tertinggi dan SKKM tertinggi,” terang Edi.
Nah, SKKM ini sendiri rupanya belum semua kampus menerapkan. Sesuai dengan ketentuan yang ada saat ini, mahasiswa yang lulus perguruan tinggi selain akan mendapatkan ijazah dan transkrip nilai, juga harus mendapatkan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). SKPI itu merupakan informasi kualitatif kepada masyarakat bahwa pemilik SKPI ini dianggap cakap dalam soft skill.
“Dalam SKPI ada informasi capaian pembelajaran atau leading outcome. Juga ada informasi tambahan tentang profil soft skill mahasiswa, baik kegiatan ekstrakurikuler maupun kokulikuler,” tandasnya.
Beralamat di Jalan Wolter Mongisidi Samarinda Seberang, Poltekkes Kemenkes Kaltim merupakan perguruan tinggi berbasis politeknik. Didirikan pertama kali tahun 2001 dari peleburan beberapa perguruan tinggi kesehatan di Kaltim, hingga kini jumlah lulusannya telah mencapai lima ribu lebih. Dengan jurusan keperawatan, kebidanan, analis kesehatan, dan gizi. (***)







