SANGATTA – Angkutan penyeberangan (ponton) khusus roda dua, penghubung antar Sangatta Selatan-Sangatta Utara lumpuh dilanda banjir. Hal tersebut menyebabkan hanya satu dari tujuh transportasi air tersebut dapat beroperasi.
Menurut pantauan wartawan, meningkatnya volume air telah terjadi sejak Jumat lalu. Akibatnya warga Sangatta kesulitan melintas.
Ditemui di bantaran sungai Masabang Sangatta Selatan, seorang penumpang ponton bernama Yana mengatakan, dirinya merasa takut jika harus menyeberang ke Sangatta Utara untuk bekerja. Derasnya arus dan tingginya banjir menjadi penyebab utama.
“Sebenarnya saya tidak berani untuk menyeberang, takut hanyut. Namun kantor saya di Sangatta Utara dan ini tuntutan kerjaan, mau atau tidak saya harus tetap berangkat,” ujarnya saat ditemui di area ponton, Sabtu (28/4).
Di tempat yang sama, seorang pengemudi ponton mengatakan, pihaknya tetap berupaya menjalankankan kapalnya. Hal tersebut bertujuan untuk membantu memudahkan akses masyarakat.
“Saya pikir karena ponton kami belum terendam seperti yang lain, kami akan tetap beroperasi. Tapi melihat arus yang begitu deras, kami harus menambah mesin jadi dua agar semakin kuat. Itu saja kami masih kesulitan. Selain itu, bahan bakar juga otomatis bertambah, maka dari itu kami menaikan tarif angkutan dari Rp 2000 sekarang menjadi Rp 3000,” tuturnya.
Menurutnya, ada jalur alternatif lain yang dapat dilalui oleh warga. Hanya saja jaraknya terhitung cukup jauh. Sehingga membuat warga lebih memilih menggunakan jasa ponton.
“Padahal kalau ponton tutup, bisa saja masyarakat lewat jembatan. Hanya memang harus memutar jauh lagi, maka dari itu warga lebih milih lewat sini,” terangnya.
Kenaikan debit air Sangatta dikarenakan curah hujan yang cukup intensif sejak tiga hari lalu. Sehingga menutupi badan jalan dan memasuki pemukiman warga.
“Tidak hanya ponton, tapi area jalan dan rumah saya juga sampai mirip dengan kolam. Semoga saja buaya tidak datang,” tutupnya. (*/la)







