• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

Selalu Ada Yang Baru di Tianjin

by M Zulfikar Akbar
12 Januari 2017, 20:16
in Dahlan Iskan
Reading Time: 3 mins read
0
Dahlan Iskan (JPNN.com)

Dahlan Iskan (JPNN.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Dahlan Iskan

SELALU ada yang baru di rumah sakit ini. Sudah 10 tahun saya selalu kembali ke Tianjin First Center Hospital (TFCH) di bagian utara RRT ini. Sejak saya menjalani transplantasi hati pada tahun 2006 lalu.

Kemarin pagi (5/1) saya kembali menjalani serangkaian pemeriksaan di sana. Yang saya lakukan tiap enam bulan sekali dengan sangat disiplin. Kedisiplinan itulah yang ingin saya jaga. Agar bisa tetap hidup sehat. Termasuk agar bisa menjalani, hehehe, sidang pengadilan.

Sebelum jam 5 pagi darah saya sudah diambil. Banyak sekali: 23 tabung. Dari tangan kanan hanya bisa diambil 9 tabung. Darah tidak mau keluar lagi. Pindah tangan kiri. Juga hanya keluar 10 tabung. Pindah tangan kanan lagi, kali ini di dekat pergelangan, 4 tabung. Air seni dan kotoran juga harus ditampung untuk ikut diperiksa.

Pengambilan darah itu memang harus pagi-pagi. Harus sebelum jam 5, saat saya harus minum obat wajib: penekan imunitas. Agar darah yang diperiksa belum tercampur obat.

Dengan risiko tertentu saya harus minum obat penekan imunitas itu. Setiap hari. Sudah 10 tahun. Agar hati yang ditransplankan ke badan saya itu tidak ditolak sistem tubuh saya.

Maka secara teoretis saya ini mudah terkena penyakit. Akibat imunitas yang terus ditekan. Itulah sebabnya, checkup rutin itu harus disiplin. Agar kalau muncul penyakit baru segera bisa diketahui. Misalnya kalau kanker yang dulu mengancam hidup saya itu muncul lagi. Harus sedini mungkin ditangani. Itulah sebabnya mengapa pemeriksaannya memerlukan darah sampai 23 tabung.

Baca Juga:  UUD Baru yang Sangat Yahudi

Siangnya saya menjalani tiga macam test scan yang berbeda. Dilanjutkan hari ini untuk di-scan bagian tubuh yang lain lagi. Besok masih ada proses berikutnya dan berikutnya lagi.

Dari ruangan saya di lantai 10 rumah sakit ini, saat ini saya bisa melihat sungai depan itu airnya sudah beku. Subuh tadi udara Tianjin memang sudah minus 5 derajat. Tiga hari lagi akan turun salju. Saat itu nanti saya akan bisa melihat orang-orang yang menyeberang sungai dengan jalan kaki di atas air yang sudah keras membeku.

Saya juga akan bisa melihat orang-orang yang duduk di kursi di atas air beku itu untuk memancing. Mereka membuat lubang di permukaan air beku itu untuk menjulurkan tali pancingnya ke dalam air.

Saat menjalani test scan tadi, saya lihat ada yang baru lagi di rumah sakit ini. Di lobi depan area scan/MRI, banyak mesin seperti ATM. Itulah mesin untuk mencetak hasil scan/MRI. Yang mencetak adalah pasiennya sendiri. Atau keluarganya.

Baca Juga:  Kisah Ikan Eka

Ini menarik. Orang periksa apa saja bisa langsung mencetak sendiri hasilnya. Termasuk mencetak film hasil MRI. Caranya mudah. Pasien mendapatkan barcode saat menjalani scan dan barcode itulah yang dimasukkan dalam area sensor di ”mesin ATM” itu.

Kini pasien juga tidak berdesakan lagi. Antrean scan atau USG sudah lewat layar monitor. Pasien tinggal melihat di layar TV kapan gilirannya tiba.

Yang terbaru lagi ternyata ini: APPS. Rumah sakit ini punya APPS sendiri. Dengan APPS pasien bisa mengakses jasa apa saja lewat handphone mereka.

Pasien yang menginap seperti saya juga punya kode akses sendiri. Untuk membuka lift, pintu lobi, pintu blok, dan pintu kamar. Saya lihat keteraturannya juga lebih baik. Dan ini dia: pakaian seragam petugas liftnya seperti pramugari pesawat dari Timur Tengah.

Saya tidak akan lama di Tianjin. Kali ini saya hanya akan menjalani pemeriksaan kesehatan yang penting-penting saja. Agar minggu depan sudah bisa menjalani persidangan pengadilan di Surabaya sesuai yang dijadwalkan.

Kebetulan cuaca Tianjin juga kurang enak. Sangat dingin dan berkabut. Begitu berkabutnya sampai saya naik kereta cepat selama lima jam dari Shanghai. Takut pesawat tidak bisa mendarat di Tianjin.

Baca Juga:  Dua Boys Wardah

Kebetulan pesawat Garuda dari Jakarta ke Shanghai memang telat. Tidak tanggung-tanggung: empat jam.

Tentu saya bertanya baik-baik ke awak Garuda. Mengapa telat begitu parah? Ternyata Garuda tidak dapat izin melintas di atas Singapura pada jam yang diminta. Ini karena waktu yang dialokasikan Singapura untuk Garuda sudah lewat. Garuda tidak menggunakannya tepat waktu. Akhirnya digeser empat jam kemudian.

Mengapa Garuda tidak tepat waktu menggunakan jatah lewat udara Singapura? Ini karena Garuda tidak bisa berangkat tepat waktu. Mengapa? Karena harus ada penggantian ban. Rupanya baru diketahui ada ban yang harus diganti.

Mengapa ketahuannya baru saat itu? Saya tentu tidak lagi mengejar awak Garuda dengan pertanyaan seperti itu. Saya hanya penumpang biasa.

Saya justru harus ingat kebijakan saya dulu. Saat saya masih menteri dan saat itu banyak pesawat telat terbang. Saya pun menegaskan: agar pesawat yang tidak bisa berangkat tepat waktu jangan menggeser jadwal terbang pesawat berikutnya. Agar tidak terjadi telat yang beruntun. Pesawat yang telat terbang harus dicarikan waktu kosong yang tersedia.

Ternyata Singapura melakukan hal yang sama. Korbannya Garuda. (*)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: dahlan iskan
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Dandim Gembleng FPI, Pak Menhan Bilang Begini…

Next Post

Pilgub Dibiayai Lewat APBN

Related Posts

Menang Nirkuasa
Dahlan Iskan

Menang Nirkuasa

10 Mei 2019, 06:17
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Dokter Cerai

9 Mei 2019, 06:00
Kursi Roda
Dahlan Iskan

Kursi Roda

7 Mei 2019, 06:43
37 Derajat
Dahlan Iskan

37 Derajat

6 Mei 2019, 05:57
Orang Suci
Dahlan Iskan

Orang Suci

5 Mei 2019, 12:01
Jantung Bocor
Dahlan Iskan

Jantung Bocor

4 Mei 2019, 13:05

Terpopuler

  • Proyek Renovasi Rujab Kaltim Rp25 Miliar Sampai ke Pusat, Kemendagri Turunkan Tim Periksa Belanja

    Proyek Renovasi Rujab Kaltim Rp25 Miliar Sampai ke Pusat, Kemendagri Turunkan Tim Periksa Belanja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Parkiran Semrawut di Tanjung Laut Bontang, Warga Keluhkan Akses Tertutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Residivis Bontang Berulah Lagi, Uang Curian Rp20 Juta Ludes untuk Judi Online

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dishub Bontang Siapkan Penataan Parkir Kafe di Tanjung Laut Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 2.753 Warga Bontang Tak Lagi Ditanggung BPJS Gratis dari Pusat, Ini Solusi Pemkot

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.