<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>karya sastra Arsip - Bontang Post</title>
	<atom:link href="https://bontangpost.id/tag/karya-sastra/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://bontangpost.id/tag/karya-sastra/</link>
	<description>Mencerdaskan dan Menginspirasi</description>
	<lastBuildDate>Fri, 01 Sep 2017 12:03:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2018/04/bp-cropped-favicon-bpost1-2-32x32.png</url>
	<title>karya sastra Arsip - Bontang Post</title>
	<link>https://bontangpost.id/tag/karya-sastra/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kisah Filmis Desa Kutukan</title>
		<link>https://bontangpost.id/kisah-filmis-desa-kutukan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Sep 2017 03:05:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Breaking News]]></category>
		<category><![CDATA[karya sastra]]></category>
		<category><![CDATA[zetizen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=19820</guid>

					<description><![CDATA[<p>BALI dikenal dunia lantaran kekayaan budaya dan potensi pariwisata. Wisatawan mancanegara bahkan hanya mengenal Indonesia dari pulau itu. Bagi mereka, Indonesia adalah Bali. Hanya saja, kebanyakan dari mereka (begitu pula kita) belum mengetahui bahwa di Bali Utara terdapat desa yang mayoritas penduduknya kolok, alias bisu tuli. Desa kolok adalah kesunyian yang terpinggirkan, tersapu ingar-bingar deru [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/kisah-filmis-desa-kutukan/">Kisah Filmis Desa Kutukan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>BALI dikenal dunia lantaran kekayaan budaya dan potensi pariwisata. Wisatawan mancanegara bahkan hanya mengenal Indonesia dari pulau itu. Bagi mereka, Indonesia adalah Bali. Hanya saja, kebanyakan dari mereka (begitu pula kita) belum mengetahui bahwa di Bali Utara terdapat desa yang mayoritas penduduknya <em>kolok</em>, alias bisu tuli. Desa <em>kolok</em> adalah kesunyian yang terpinggirkan, tersapu ingar-bingar deru pariwisata di Bali. Kesunyian itulah yang kemudian ditangkap Erwin Arnada, berbekal perjumpaan dan riset singkat namun ambisius. Erwin berbekal restu nama-nama besar seperti Afrizal Malna, Arswendo Atmowiloto, dan Teguh Esha untuk penggarapan tema ini.</p>
<p>Riset singkat Erwin pada mulanya dipresentasikan secara visual lewat film <em>Jejak Dedari</em> (2015). Film dibintangi aktor dan aktris kondang seperti Chistine Hakim, Reza Rahardian, dan (almarhum) Alex Komang. Tidak puas hanya dengan film, Erwin lantas mengisahkan desa <em>kolok</em> dalam format novel. Untuk novelnya ini, Erwin memilih judul sama dengan filmnya: <em>Jejak Dedari</em>. Novel berkisah ihwal Rare, seorang gadis bisu tuli yang bertekad menjadi penari Sanghyang Dedari. Bisu tuli yang dialami Rare diyakini sebagai hasil kutukan leluhur. “Inilah riwayat Desa Beskala&#8230; dengan rahasia kutukan yang senantiasa ada&#8230;” (hlm. 2).</p>
<p>Kisah Rare melimpah pilu. Penyebabnya bukan semata gara-gara ia <em>kolok</em>, namun juga betapa buruk stigma yang disematkan pada Rare dan orang-orang seperti dirinya. Orang <em>kolok</em> dianggap sebagai pembawa sial: <em>ngabe sengkala</em>. Dalam novel, ada adegan Rare dituduh telah meracuni teman-teman sekelasnya, sampai-sampai ia diberhentikan dari sekolah. “Anak-anak <em>kolok</em> ini jahat, Pak. Terutama Rare. Dia meracuni air minum sampai mulut kita semua bengkak dan gatal-gatal” (hlm. 19). Terlepas dari <em>kolok</em>-nya, konflik dalam hidup sudah dimulai sejak Menak (ibu Rare) menceraikan suaminya gara-gara hendak menodai Rare.</p>
<p>Karena <em>Jejak Dedari</em> awalnya dibikin untuk kepentingan film, maka novel sekadar pemindahan presentasi semata: dari citra dijelmakan teks. Novel jadi terasa filmis, dan unsur dramatis yang kuat dalam film terbawa di novel ini. Saat membaca novel Erwin, pembaca dapat membayangkan adegan-adegan berlangsung selayaknya film. Latar dan situasi, sekalipun telah difiksikan oleh Erwin, terimajinasi betul. Cok Sawitri, pengarang <em>Tantri: Perempuan yang Bercerita</em> (2011), menulis, “Erwin Arnada memiliki kekhasan untuk menjembatani dua wilayah yang berbeda: visual dan prosa narasi” (hlm. xiv). Pembaca boleh membuktikannya dalam buku ini. <strong>(*)</strong></p>
<p>Judul Buku      : Jejak Dedari</p>
<p>Penulis             : Erwin Arnada</p>
<p>Penerbit           : GagasMedia</p>
<p>Cetakan           : Pertama, 2016</p>
<p>Tebal               : xvi + 324 hlm; 13 x 19 cm</p>
<p>ISBN               : 978-979-780-860-0</p>
<p>Peresensi:        : Udji Kayang Aditya Supriyanto</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/kisah-filmis-desa-kutukan/">Kisah Filmis Desa Kutukan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
