ACARA reuni peserta aksi 212 juga dibumbui kabar palsu. Bukan soal berapa banyak jumlah peserta, tetapi terkait kendaraan yang digunakan Divisi TI Mabes Polri di sekitar lokasi acara. Kendaraan tersebut dikatakan membawa teknologi jammer untuk mengacak sinyal ponsel peserta aksi.
Mobil tersebut menjadi kambing hitam atas banyaknya keluhan peserta aksi yang sulit mengakses internet. Penyebar hoax terkait hal itu sebenarnya tidak banyak. Salah satunya, akun Facebook Abu Miqdad. Namun, akun tersebut kini telah menghapus staus hoax-nya. Meski begitu, Jawa Pos menemukan pesan serupa yang di-posting akun Facebook Giwangkara Sumirat.
“Para peserta Reuni Akbar 212 kemarin mengeluhkan hilangnya signal di sekitar lokasi aksi sehingga tidak bisa berkomunikasi via HP ataupun akses internet, dsb. Mau tau penyebabnya. Ini adalah sebabnya ada rekayasa dari Devisi TI Polri”. Tulis akun Giwangkara sambil membagikan gambar mobil Divisi TI Mabes Polri.
Sebenarnya, apa yang dialami peserta aksi 212 bukan persoalan mobil tersebut. Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Divisi Humas Mabes Polri Kombespol Martinus Sitompul mengatakan, kendaraan itu hanya dibekali alat untuk live. ’’Itu hanya untuk live,’’ katanya. Perangkat hitam di atas mobil tersebut merupakan portable satellite antenna. Bukan perangkat untuk jamming atau mengacak sinyal.
Kesulitan sinyal, terutama sinyal data, yang dialami peserta 212 mungkin disebabkan kapasitas BTS di dekat lokasi. Itulah yang selama ini sering terjadi ketika menonton sepak bola berkapasitas besar dengan penonton yang penuh sesak. (gun/idr/eko/c15/fat)







