Kisah Inspiratif Warga Bontang: Abbas Patiroi (155)
Kecintaan Abbas Patiroi terhadap Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sudah muncul sejak masih remaja. Terlibat aktif dalam perjalanan PPP di Kota Taman, Abbas mengaku akan tetap setia pada partai berlambang kakbah ini. Terpilih kembali menjadi ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PPP Bontang, Abbas punya tujuan menghidupkan dan menggerakkan partai, bergerak bersama rakyat.
LUKMAN MAULANA, Bontang
Abbas mengenal PPP dari sang ayah yang merupakan pengurus PPP di kampungnya, Pappolo, Sulawesi Selatan. Dari situ, timbul kecintaan terhadap PPP yang dianggapnya konsisten berasaskan Islam. Makanya ketika sang ayah berpesan agar dia tidak meninggalkan PPP, Abbas semakin mantap terlibat bersama PPP.
“Ayah saya berpesan, bila saya berpolitik, jangan meninggalkan PPP. Karena itu saat saya pindah ke Bontang pun saya tetap menjadi simpatisan PPP,” kenang Abbas saat ditemui media ini di kediamannya Jumat (3/2) kemarin.
Sebagai simpatisan PPP, Abbas merasakan benar bagaimana ketidakadilan yang diperagakan rezim orde baru. Dia bahkan sempat kejar-kejaran dengan polisi gara-gara nekat melakukan konvoi menjelang pemilu. Memang kala itu, pemerintah melakukan pembatasan sangat ketat terhadap kampanye partai-partai yang bukan partai penguasa. PPP dilarang melakukan konvoi, sementara partai penguasa bebas melakukannya.
“Untuk kampanye mesti berkumpul di satu tempat, tidak boleh konvoi. Nah kami waktu itu sempat dikejar polisi yang berniat menghalau iring-iringan kampanye. Selain dilarang konvoi, bendera-bendera PPP juga dilarang untuk dipasang. Tapi dengan adanya pembatasan-pembatasan seperti itu saya justru jadi makin bersemangat,” cerita ayah tiga anak ini.
Bukan hanya itu bentuk diskriminasi yang dialami Abbas di era orde baru. Gara-gara menjadikan PPP sebagai pandangan politiknya, Abbas kesulitan melamar pekerjaan. Surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) yang diurusnya untuk melamar pekerjaan tak kunjung selesai dibuat. Padahal pembukaan lowongan kerja di perusahaan memiliki batas waktu. Alhasil, Abbas pun urung melamar kerja karena SKCK yang tak kunjung datang.
“Waktu itu saat pengisian SKCK, kalau menulis afiliasi politik di luar partai penguasa, pasti akan dipersulit. Tapi saya tetap menulis PPP karena memang sudah menjadi pandangan politik saya,” tutur Abbas.
Gagal mencari pekerjaan gara-gara pandangan politik bukan lantas membuat Abbas patah semangat. Dengan kecintaan yang dimiliki, dia tetap tidak akan berpaling dari PPP apapun alasannya. Makanya saat tidak bisa melamar pekerjaan, Abbas berpikir untuk menjalankan bisnis sendiri. Dia mengawalinya dengan mengelola usaha transportasi antar kota milik saudaranya.
“Selain mengawasi bisnisnya, saya juga terjun jadi sopir mobil travel dari Bontang ke Balikpapan. Ada sekitar 20 mobil yang mesti saya awasi. Saya di bisnis ini selama kurang lebih empat tahun,” ungkapnya.
Sempat membantu teman bekerja borongan dalam usaha kontraktor, Abbas lantas melirik usaha jual beli kayu. Tahun 1995, dia mulai merintis usaha kayu di kawasan Sebuntal, Marang Kayu. Usaha kayu ulin ini ditekuninya hingga 2003. Selama itu, dia sempat mengelola limbah kayu dari perusahaan-perusahaan tambang seperti PT Indominco Mandiri.
Setelah berhenti menjadi pengusaha kayu, Abbas menekuni usaha perkebunan kelapa sawit. Berawal dari sedikit, kini lahannya telah mencapai 200 hektare. Untuk menjembatani usahanya dan para petani lain di wilayah tersebut, Abbas pun membentuk koperasi. Pasang surut usaha kelapa sawit dirasakannya namun dia tetap menekuninya hingga saat ini.
“Yang namanya pengusaha itu kalau berhasil ya senang, tapi kalau gagal ya sedih. Termasuk di masa defisit seperti saat ini. Tapi ada hikmahnya, sekarang lahan-lahan tidur yang saya miliki mulai saya tanami,” ujar Abbas.
Sembari menjalankan usahanya, karier politik Abbas jalan terus. Mulai menjadi pengurus ranting PPP di Bontang tahun 1994, Abbas lantas dipercaya menjadi sekretaris dalam kepengurusan DPC PPP Bontang di awal tahun 2000-an. Tahun 2011, dia dipercaya menjadi ketua DPC PPP Bontang hingga 2016. Sempat menangani permasalahan dualisme kepemimpinan di PPP pusat, Abbas kembali dipercaya menjadi ketua DPC PPP Bontang untuk kali kedua periode 2016 hingga 2021 pada musyawarah cabang (muscab) bersama tahun lalu.
“Sebagai ketua saya paham bagaimana perjalanan PPP di Bontang. Dulu saat saya jadi simpatisan, sering kucing-kucingan dengan aparat saat pasang bendera partai. Sekarang dipercaya kembali menjadi ketua DPC untuk memperbaiki kepengurusan partai,” jelasnya.
Dalam kapasitasnya sebagai ketua DPC, Abbas memiliki program kerja yang ditujukan menggerakkan partai dalam kancah politik Kota Taman. Setelah muscab kemarin, pihaknya berencana mengadakan pelatihan dan juga studi politik bagi para kader.
Dalam pengkaderan ini, Abbas mengaku banyak merekrut anak-anak muda Bontang. Hal ini menurutnya bertujuan untuk menambah spirit perjuangan partai. “Selain itu juga untuk menghilangkan anggapan bahwa PPP ini partainya orang tua,” tambah Abbas.
Sebagai ketua, Abbas rutin berbagi pengalaman politik kepada anggota-anggotanya. Dia selalu mengingatkan kader-kadernya untuk menggunakan politik yang santun. Sebagai partai yang konsisten memegang asas Islam, Abbas mengharapkan para pengurus dan kader partai untuk selalu mengedepankan amar makruf nahi mungkar. Apalagi dengan slogan baru PPP yaitu “Bergerak bersama rakyat”.
“Sebulan sekali saya adakan pertemuan rutin untuk membahas masalah partai. Intinya mengutamakan silaturahmi antar anggota jangan sampai terputus. Karena itu saya selalu berikan semangat kepada teman-teman agar benar-benar mencintai partai,” sebutnya.
Selama berkiprah di dunia politik, beragam suka dan duka telah dilewati Abbas. Pengalaman yang menurutnya paling berkesan yaitu ketika mengawal perjalanan PPP dalam mendapatkan kursi di DPRD Bontang. Perasaan sedih dirasakannya ketika PPP hanya memiliki keterwakilan satu kursi dalam pemilu legislatif 2009. Karenanya ketika dalam pemilu legislatif PPP mampu menempatkan dua wakilnya di DPRD Bontang, dia merasa bahagia.
“Awal-awal pemerintahan Kota Bontang kami bisa menempatkan tiga wakil, kemudian perlahan turun menjadi satu. Sekarang dengan dua wakil kami di parlemen, saya begitu senang. Kami berharap ke depan PPP mampu menambah wakil, kalau bisa tiga atau empat kursi dalam pemilu legislatif 2019 mendatang,” urai Abbas.
Pria kelahiran Pappolo 48 tahun lalu mengatakan, meskipun kelak dia tidak lagi terlibat dalam kepengurusan partai, namun dia tetap akan bergabung dengan PPP. Tujuannya memang bukan untuk mencari kekuasaan, melainkan mengabdi kepada rakyat khususnya masyarakat Bontang.
Sebagai tokoh PPP nantinya, dia ingin terus memberikan pemahaman kepada para pengurus partai tentang bagaimana kepemimpinan yang baik seperti yang diajarkan Rasulullah. Nabi Muhammad memang menjadi teladan Abbas dalam memimpin. “Misalnya ketika terjadi masalah, diselesaikan dengan cara musyawarah. Intinya harus menggunakan politik yang santun,” pungkas anak ketujuh dari 12 bersaudara ini. (***)
Nama: Abbas Patiroi
TTL: Pappolo, 14 Agustus 1968
Istri: Lenny Srina
Anak: Inayah Nabila Khalda, Dzaki Abi Rafdi, Muhammad Radhin Abias Alauna
Pendidikan: MIN Pappolo, SMPN 1 Pompanua, SMAN 1 Pompanua, STIE Makassar
Alamat: Jalan IR H Juanda RT 37 Nomor 16 Bukit Indah, Tanjung Laut







