SAMARINDA – Sebagai daerah yang kaya dengan sumber daya alam, nyatanya tidak membuat Kaltim bisa bergerak cepat di bidang pengembangan teknologi komunikasi. Sebab, sampai di tahun 2018 ini saja, masih terdapat ratusan desa di Kaltim yang dikategorikan sebagai daerah blank spot alias susah sinyal.
Asriani (19), salah seorang warga Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) mengatakan, di Long Rahong, Kecamatan Long Apari, sebagian besar masyarakat belum tersentuh sinyal. Untuk sekadar berkomunikasi dengan masyarakat luar, warga setempat harus mencari dataran tinggi.
“Di situ sama sekali tidak ada jaringan. Kalau orang mau menelepon, itu harus ke gunung dulu untuk mencari sinyal. Itu pun hanya dapat satu atau dua jaringan,” ujar perempuan yang biasa disapa Acy kepada media ini di Samarinda, Senin (7/5) kemarin.
Kata dia, demi mendapatkan sinyal, masyarakat harus menempuh perjalanan sekira satu kilometer. Apabila sampai di dataran tinggi, sinyal yang didapatkan masih terputus-putus. “Memang sudah ada sih towernya. Tetapi sinyalnya belum ada. Jadi masyarakat susah dapat sinyal. Kalau mau menelepon, ya harus susah payah cari jaringan,” katanya.
Berdasarkan data Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim tahun 2016 lalu, sebanyak 55,10 persen wilayah Mahulu memang masih tergolong blank spot. Sementara 44,90 persen sudah tersentuh sinyal. Di Kaltim, dua tahun lalu daerah tersebut tergolong didominasi blank spot.
Daerah lain dengan blank spot terbanyak yakni di Kabupaten Kutai Barat (Kubar). Di daerah tersebut tercatat 43,92 persen belum tersentuh jaringan telekomunikasi. Kemudian peringkat berikutnya ditempati Kabupaten Berau dengan 40 persen wilayah blank spot.
Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Pengelolaan Data dan Integrasi Sistem Informasi Diskominfo Kaltim, Dianto mengungkapkan, hingga akhir 2017, di Mahulu hanya tersisa 31 desa yang tergolong blank spot. Dari data terbaru, desa dengan blank spot terbanyak tercatat di Kubar. Di daerah tersebut jumlahnya mencapai 79 desa.
Diikuti Kabupaten Paser dengan jumlah blank spot sebanyak 37 desa. Berikutnya ada Kutai Kartanegara (Kukar) dengan jumlah 35 desa. “Terakhir Kutai Timur dengan jumlah desa blank spot sebanyak 28 desa. Kalau ditotal secara keseluruhan, di tahun 2017 terdapat 210 desa yang masuk kategori blank spot,” ungkapnya.
Kata dia, blank spot membawa banyak dampak buruk bagi masyarakat. Antara lain masyarakat kesulitan mengakses informasi, lambat mengikuti perkembangan zaman, dan lambannya arus perkembangan sosial budaya masyarakat.
“Kondisi blank spot itu memang membuat masyarakat kesulitan berkomunikasi. Akibat lainnya ya pemerintah desa sulit mengunggah data-data laporan. Apalagi sekarang sudah mulai menerapkan sistem informasi untuk pengelolaan pemerintahan,” ucapnya.
Dia menuturkan, salah satu sebab terjadinya blank spot karena sebagian besar desa di Kaltim belum tersentuh listrik. Sehingga pemerintah kesulitan bekerja sama dengan pihak terkait untuk memasang tower sebagai penunjang memerangi blank spot.
“Tetapi semua itu bisa terpecahkan di 2018 ini. Kami menargetkan seluruh wilayah sudah terbebas blank spot. Hal ini karena ada bantuan dari pemerintah pusat dan kabupaten. Kami saling menunjang untuk mengurai masalah blank spot ini,” tandas Dianto. (*/um)
DESA BLANK SPOT DI KALTIM
DAERAH JUMLAH DESA
Kutai Barat 79
Mahakam Ulu 31
Paser 37
Kutai Kartanegara 35
Kutai Timur 28
TOTAL 210
Sumber data: Diskominfo Kaltim 2017
Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News
Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: