<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ilmu komunikasi Arsip - Bontang Post</title>
	<atom:link href="https://bontangpost.id/tag/ilmu-komunikasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://bontangpost.id/tag/ilmu-komunikasi/</link>
	<description>Mencerdaskan dan Menginspirasi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 15 Jun 2020 11:09:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2018/04/bp-cropped-favicon-bpost1-2-32x32.png</url>
	<title>ilmu komunikasi Arsip - Bontang Post</title>
	<link>https://bontangpost.id/tag/ilmu-komunikasi/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Genjot Mahasiswa Menulis, Ilmu Komunikasi UMM Rilis Sepuluh Buku Sekali Terbit</title>
		<link>https://bontangpost.id/genjot-mahasiswa-menulis-ilmu-komunikasi-umm-rilis-sepuluh-buku-sekali-terbit/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M Zulfikar Akbar]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2020 11:09:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[universitas muhammadiyah malang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=76965</guid>

					<description><![CDATA[<p>bontangpost.id &#8211; Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam waktu dekat akan merilis sepuluh judul buku. Yang berbeda dari proyek penulisan buku sebelumnya, pada tahun ini berhasil memecahkan rekor penerbitan buku terbanyak yakni sepuluh buku. Kesepuluh buku ini merupakan proyek tugas akhir dari mata kuliah Media dan Masyarakat yang diampu dosen Ilmu [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/genjot-mahasiswa-menulis-ilmu-komunikasi-umm-rilis-sepuluh-buku-sekali-terbit/">Genjot Mahasiswa Menulis, Ilmu Komunikasi UMM Rilis Sepuluh Buku Sekali Terbit</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>bontangpost.id</b> &#8211; Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam waktu dekat akan merilis sepuluh judul buku. Yang berbeda dari proyek penulisan buku sebelumnya, pada tahun ini berhasil memecahkan rekor penerbitan buku terbanyak yakni sepuluh buku. Kesepuluh buku ini merupakan proyek tugas akhir dari mata kuliah Media dan Masyarakat yang diampu dosen Ilmu Komunikasi Nurudin.</p>
<p>Ceritanya, setiap mengawali perkuliahan, Nurudin selalu menawarkan kepada mahasiswa yang diajarnya untuk membuat proyek kepenulisan. Tidak melulu menerbitkan buku. Tradisi literasi ini sudah dimulainya sejak 2009.</p>
<p>“Pokoknya harus ada publikasi. Kuliah jalan, nilai didapat, publikasi kampus juga ada. Pulang tidak hanya membawa ijasah tetapi juga kenang-kenangan buku,” terang Nurudin via daring.</p>
<p>Tahun ini, dosen yang dikenal sebagai provokator menulis ini memberikan opsi menulis buku atau kuliah biasa saja. Empat kelas yang dia ampu memilih membuat buku, sementara sisanya memilih kuliah biasa.</p>
<p>“Karena pandemi Covid-19, yang milih kuliah biasa saya sarankan tugas UAS (Ujian Akhir Semester)-nya menulis di media. Boleh media cetak, online atau paling ringan nulis di blog,” kata dosen yang telah menerbitkan puluhan buku ini.</p>
<p>Penentuan tugas akhir apa yang diambil pun dilakukan secara demokratis. Dimusyawarahkan oleh seluruh mahasiswanya di kelas. Kemudian mereka voting, lewat Line atau langsung memutuskan di kelas.</p>
<p>“Saat memilih buku tentu saya kan harus memenuhi keinginan mereka. Lagian, itu sesuatu yang sangat baru bagi mereka. Ternyata mereka antusias dan bisa menulis,” ungkap Nurudin, Senin (15/6/2020) siang.</p>
<p>“Ternyata setelah mereka menulis dan diterbitkan jadi kecanduan. Yang nulis buku semangat ingin nulis lagi. Yang tugas nulis di media ingin juga menulis lagi. Setidaknya data ini saya dapatkan dari komentar mereka saat saya tanya bagaimana kesan setelah membuat tulisan,” ungkap mantan Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM yang baru-baru ini kembali menerbitkan buku berjudul “Agama Saya adalah Uang” ini.</p>
<p>Menerbitkan tulisan punya tempat tersendiri bagi Nurudin. Dengan menulis lantas menerbitkanya, justru punya hasil yang konkrit yakni karya.</p>
<p>“Kalau tidak untuk apa? paling naskah tulis itu dikumpulkan ke dosen, selesai. Kalau menerbitkan buku, kan ada manfaatnya. Lalu setelah mereka menulis di media, saya minta untuk mention akun twitter saya dan Prodi komunikasi UMM. Tugas saya me-retweetnya,” ujar Nurudin.</p>
<p>Sejak tradisi literasi ini pertama kali digulirkan pada 2009, jumlah buku yang diterbitkan beragam.</p>
<p>“Tidak tentu (jenisnya), karena harus saya polling dulu saat pertama kali masuk kelas. Tahun 2019 ada 10 judul buku. Ini prestasi paling banyak jika dilihat dari jumlah judul. Tahun 2020 ada 9 judul buku. Juga artikel mahasiswa 3 kelas. Jika rata-rata per kelas 50 orang, akan ada publikasi 50 judul tulisan di media,” ungkap Nurudin.</p>
<p>Dari segi kualitas tulisan, Nurudin tak begitu mempermasalahkannya. Ia selalu mengapresiasi setiap mahasiswanya yang berani memulai memiliki karya. Dalam bentuk apapun.</p>
<p>“Menurut saya tulisannya bagus. Tentu dengan kemampuan mereka sebagai mahasiswa. Tentu saya tidak bisa memakai tolok ukur diri saya sendiri. Produk mahasiswa dan dosen itu kan karya? Menulis buku salah satunya,” tegas Nurudin.</p>
<p>Karya terbaik menurutnya terbitan awal, yakni 2009.</p>
<p>“Merintisnya waktu itu susah sekali. Saya serahkan ke mahasiswa untuk diterbitkan. Nggak jalan. Akhirnya saya harus naik bis waktu itu ke Yogyakarta untuk mencari penerbit. Setelah diterbitkan akhirnya bisa dilaunching. Launching itu banyak diliput media. Setelah itu, memotivasi mahasiswa menulis buku lebih mudah karena sudah ada contohnya,” lanjutnya.</p>
<p>Lebih jauh, memotivasi mahasiswanya untuk menulis akan terus dilakukannya.</p>
<p>“Mungkin ini yang bisa saya lakukan. Minimal memaksimalkan kemampuan diri saya karena punya keahlian menulis. Sudah saatnya saya memberikan atmosfer menulis di tempat saya bekerja. Buku memang bukan pilihan satu-satunya. Tetapi sivitas akademika dituntut untuk punya karya, buku hanya salah satu pilihan,” tandasnya. (*)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/genjot-mahasiswa-menulis-ilmu-komunikasi-umm-rilis-sepuluh-buku-sekali-terbit/">Genjot Mahasiswa Menulis, Ilmu Komunikasi UMM Rilis Sepuluh Buku Sekali Terbit</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Revolusi Dunia Komunikasi Kala Pandemi Covid-19</title>
		<link>https://bontangpost.id/revolusi-dunia-komunikasi-kala-pandemi-covid-19/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M Zulfikar Akbar]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 May 2020 22:00:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[dunia komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[public relations]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=76068</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dunia komunikasi akan lebih banyak digunakan untuk mempercepat laju dunia bisnis dan mengantisipasi krisis di dunia pasca wabah Covid-19.</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/revolusi-dunia-komunikasi-kala-pandemi-covid-19/">Revolusi Dunia Komunikasi Kala Pandemi Covid-19</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>MALANG – Tatanan dunia berubah kala pandemi Covid-19. Tak hanya kewajiban memakai masker setiap saat, maupun pola berbelanja menggunakan gawai, dunia komunikasi pun ikut berevolusi. Hal ini disampaikan dalam <em>web seminar</em> (webinar) bertajuk masa depan <em>public relations</em> di tengah perubahan dunia akibat pandemi Covid-19, garapan Program Magister Ilmu Komunikasi, Jurusan Public Relations Angkatan 2019-2020, Universitas Brawijaya (UB) Malang, Minggu (10/5/2020) lalu.</p>
<p>Webinar tersebut menghadirkan pakar Ilmu Komunikasi Antoni, pakar Ilmu Komunikasi dan <em>Public Relations</em> (PR) Maulina Pia Wulandari, serta praktisi <em>Corporate Social Responsibility</em> (CSR) Aan Nurhadi. Dalam webinar tersebut, diikuti oleh lebih dari 100 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.</p>
<p>Menurut Maulina Pia Wulandari, sejak kemunculan pandemi Covid-19 akhir November 2019 hingga saat ini, banyak sekali perubahan tatanan kehidupan. Diprediksi kondisi masa setelah pandemi Covid-19, di antaranya kondisi ekonomi menjadi sulit, banyaknya perusahaan gulung tikar, pekerjaan di sektor informal banyak yang hilang, dan kondisi psikologi masyarakat yang menjadi depresi. Belum ada kejelasan terkait kapan pandemi virus ini berakhir hingga vaksin ditemukan. Dalam ranah dunia komunikasi, akan terjadi penggabungan yang terpadu.</p>
<p>“Penggabungan dalam bidang manajemen reputasi dan komunikasi pemasaran terpadu. Dunia komunikasi akan melebur kepada bidang-bidang industri kreatif dan PR akan menjadi <em>tools</em> utama,” pungkas Dosen Ilmu Komunikasi UB tersebut dalam rilisnya.</p>
<p>Pia menambahkan, profesi PR dan marketing akan menjadi alat utama di dunia bisnis. Dunia komunikasi akan lebih banyak digunakan untuk mempercepat laju dunia bisnis dan mengantisipasi krisis di dunia pasca wabah Covid-19. Dalam dunia bisnis, perusahaan dan organisasi akan mengalami tantangan baru dalam berkomunikasi dengan publik dan <em>stakeholder</em>-nya, khususnya kendala distorsi informasi karena penggunaan teknologi komunikasi.</p>
<p>“Ada hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk para praktisi Humas atau PR, yaitu kemampuan marketing yang melebur dengan kemampuan komunikasi, kemampuan analisis kritis untuk peka dalam memprediksi apa yang terjadi khususnya dalam mengatasi masa krisis. Kemampuan membangun pembicaraan dengan cara ‘telling story’ atau bercerita serta sikap mental yang proaktif serta familiar dengan komunikasi digital,” pungkas perempuan yang menempuh program doktoral di University of Newcastle, Australia.</p>
<p>Sementara itu, Aan Nurhadi menjelaskan, salah satu peran profesi PR saat pandemi Covid-19 adalah menjadi agen perubahan sosial yang dapat menggerakkan perusahan untuk bertindak lebih sebagai modal sosial masyarakat. Seperti dapat menjadi tenaga kesehatan dalam penanggulangan Covid-19 dan merubah perilaku masyarakat untuk <em>aware</em> dengan <em>coronavirus</em>. Ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan oleh PR dalam mempengaruhi perilaku masyarakat yaitu <em>public policy</em>, komunitas, organisasi, individual, dan pendekatan interpersonal (keluarga, teman dan media).</p>
<p>“Salah satu pendekatan yang efektif adalah dengan pendekatan interpersonal. Seperti melibatkan tokoh masyarakat, dalam memberikan informasi terkait virus dan menggerakan komunitas-komunitas yang ada di masyarakat,” papar pria asal Pelaihari, Kalimantan tersebut.</p>
<p>Di sisi lain, Antoni menilai dari sektor kajian Ilmu Komunikasi, selama pandemi Covid-19 banyak sekali penyebaran informasi hoaks. Berita bohong (<em>fake news</em>) telah mengacaukan pemahaman masyarakat tentang informasi Covid-19. Untuk itu peran ilmu komunikasi sangat dibutuhkan, terutama penyampaian informasi yang jelas melalui Pers.</p>
<p>“Peran profesi PR harus bisa memberi informasi yang tepat dengan beberepa pendekatan, seperti biologi komunikasi,<em> human communication,</em> <em>family communication, instructional communication, interpersonal communication, political communication, health communication, </em>dan<em> new media. </em>Dari semua pendekatan, pendekatan komunikasi interpersonal perlu dimaksimalkan untuk menginformasikan hal terkait Covid-19 dan pendekatan biologi komunikasi serta komunikasi kesehatan dengan fakta-fakta ilmiah,” ujar pria yang menjadi ketua Jurusan Ilmu Komunikasi UB.</p>
<p>Antoni berpesan, agar tak hanya fokus pada komunikasi saat terjadi pandemi Covid-19, namun juga masa <em>recovery </em>atau pemulihan nantinya. Sehingga masyarakat bisa benar-benar memahami tentang informasi Covid-19 secara utuh. Informasi media dengan model investigasi lebih dalam juga masih diperlukan, meskipun wartawan dibatasi pergerakannya untuk memenuhi peraturan <em>physical distancing</em> di tengah pendemi virus corona.</p>
<p>“Mari kita bersama dengan semangat solidaritas masyarakat dalam konteks lingkungan untuk mengembalikan kondisi seperti semula. Kecermatan dalam memilah informasi juga sangat diperlukan agar tidak terjadi disinformasi pemahaman terkait pandemi Covid-19,” tutup pakar Ilmu Komunikasi kelahiran Bukit Tinggi tersebut. (*)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/revolusi-dunia-komunikasi-kala-pandemi-covid-19/">Revolusi Dunia Komunikasi Kala Pandemi Covid-19</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
