<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kaliorang Arsip - Bontang Post</title>
	<atom:link href="https://bontangpost.id/tag/kaliorang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://bontangpost.id/tag/kaliorang/</link>
	<description>Mencerdaskan dan Menginspirasi</description>
	<lastBuildDate>Sat, 10 Feb 2024 02:46:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2018/04/bp-cropped-favicon-bpost1-2-32x32.png</url>
	<title>kaliorang Arsip - Bontang Post</title>
	<link>https://bontangpost.id/tag/kaliorang/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Akses Poros Kaliorang Masih Hancur</title>
		<link>https://bontangpost.id/akses-poros-kaliorang-masih-hancur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Bontang Post]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Feb 2024 06:00:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kaltim]]></category>
		<category><![CDATA[kaliorang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=123556</guid>

					<description><![CDATA[<p>bontangpost.id &#8211; Pembangunan jalan penghubung di Kecamatan Kaliorang sempat menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Dari Musrenbang Kaliorang yang dipusatkan di Desa Bumi Sejahtera, mencuat usulan prioritas yaitu peningkatan kantor desa dan kualitas jalan baik jalan poros menuju kecamatan maupun jalan antar-desa. “Kami terus melakukan jemput bola ke organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, untuk bagaimana merealisasikan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/akses-poros-kaliorang-masih-hancur/">Akses Poros Kaliorang Masih Hancur</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>bontangpost.id &#8211; </strong>Pembangunan jalan penghubung di Kecamatan Kaliorang sempat menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Dari Musrenbang Kaliorang yang dipusatkan di Desa Bumi Sejahtera, mencuat usulan prioritas yaitu peningkatan kantor desa dan kualitas jalan baik jalan poros menuju kecamatan maupun jalan antar-desa.</p>
<p>“Kami terus melakukan jemput bola ke organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, untuk bagaimana merealisasikan usulan-usulan yang kita sampaikan di tahun-tahun sebelumnya. Terkhusus infrastruktur jalan ada beberapa yang mengalami kerusakan parah,” ungkap Camat Kaliorang Rusmono.</p>
<p>Lanjutnya, infrastruktur jalan tersebut merupakan keluhan setiap tahunnya. Namun, untuk tahun ini dalam progres peningkatan jalan dari simpang empat menuju Desa Bangun Jaya sepanjang 7,2 kilometer.</p>
<p>“Itu ada yang terputus di Desa Citra Manunggal Jaya kurang lebih 1,4 kilometer, dan di Desa Bumi Harapan sekitar 800 meter, untuk jalan poros menuju kecamatan,” jelasnya.</p>
<p>Selanjutnya, Rusmono menambahkan untuk jalan antar-desa, beberapa rusak parah. Di antaranya, SP2 dan Selangkau karena sebelumnya mengalami kesalahan teknis.</p>
<p><center></center>“Seperti yang saya sampaikan tadi namanya Desa Bukit Harapan harusnya di Kecamatan Kaliorang. Namun terealisasi di Kecamatan Kaubun sehingga kita agak susah, itu kurang lebih 3 kilometer untuk menuju Selangkau,” ucapnya.</p>
<p>Sementara itu, untuk beberapa kantor desa masih bangunan semipermanen dan bangunan lama, sehingga menjadi salah satu program usulan prioritas.</p>
<p>“Dari tujuh desa ini, yang telah bagus itu di Desa Selangkau karena dibangun oleh PT Indexim, kemudian masih ada desa-desa lainnya yang masih memang bangunannya cukup lama dan itu kami harapkan ada pembangunan kantor baru misalnya di Desa Bumi Sejahtera, Desa Bangun Jaya,” harapnya.</p>
<p>Sementara itu, untuk peningkatan beberapa kantor desa masih bangunan semipermanen dan bangunan lama, sehingga menjadi salah satu program usulan prioritas. <strong>(*/kai/ind)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/akses-poros-kaliorang-masih-hancur/">Akses Poros Kaliorang Masih Hancur</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jelajah Hutan Kutim (1): Menikmati Karya Seni Nan Agung yang Terukir di Bebatuan</title>
		<link>https://bontangpost.id/jelajah-hutan-kutim-1-menikmati-karya-seni-nan-agung-yang-terukir-di-bebatuan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fitri Wahyuningsih]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2020 09:00:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bontang]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[batu lapis]]></category>
		<category><![CDATA[feature]]></category>
		<category><![CDATA[jelajah hutan kutim]]></category>
		<category><![CDATA[kaliorang]]></category>
		<category><![CDATA[kutim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=77855</guid>

					<description><![CDATA[<p>bontangpost.id &#8211; Saya ingat satu kutipan menarik dari film The Secret Life of Walter Mitty. &#8220;Beautiful things don&#8217;t ask for attention.&#8221; Dalam terjemahan bebas: hal-hal yang mempesona tak pernah cari perhatian. Alih-alih &#8220;gila&#8221; perhatian, sesuatu yang memukau itu diam saja. Tak pernah pamer. Tapi orang-orang yang memburunya. Dengan berbagai cara. Meski itu mahal. Meski itu [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/jelajah-hutan-kutim-1-menikmati-karya-seni-nan-agung-yang-terukir-di-bebatuan/">Jelajah Hutan Kutim (1): Menikmati Karya Seni Nan Agung yang Terukir di Bebatuan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>bontangpost.id</strong> &#8211; Saya ingat satu kutipan menarik dari film The Secret Life of Walter Mitty. &#8220;Beautiful things don&#8217;t ask for attention.&#8221; Dalam terjemahan bebas: hal-hal yang mempesona tak pernah cari perhatian. Alih-alih &#8220;gila&#8221; perhatian, sesuatu yang memukau itu diam saja. Tak pernah pamer. Tapi orang-orang yang memburunya. Dengan berbagai cara. Meski itu mahal. Meski itu melelahkan.</p>
<p>Kutipan ini agaknya cukup menggambarkan bagaimana perjuangan saya dan teman-teman jurnalis Bontang menuju Batu Lapis. Terletak di Desa Kaliorang, Kecamatan Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Adapun Batu Lapis sebuah kawasan di &#8220;permukaan&#8221; rimba borneo. Spot andalan bagi mereka yang suka atau ingin mencumbu alam dengan lebih mesra.</p>
<p>Jadi persoalan, sebab untuk menuju Batu Lapis butuh perjuangan. Setidaknya bagi kami. Dari Bontang menuju Kaliorang, dibutuhkan waktu sekitar 5 jam perjalanan darat. Mesti menyusuri jalan antarkota/kabupaten Kaltim yang &#8220;mulusnya&#8221; sungguh luar biasa itu. Sampai-sampai kami seolah lagi disko di atas mobil. Saking kuatnya getaran karena jalan berlubang atau patah atau amblas.</p>
<p>Setibanya di Kaliorang pun, kami tidak bisa langsung tiba di lokasi yang dituju. Sebab Batu Lapis tak bisa dijangkau dengan mobil. Kami harus berjalan kaki. Kata kawan dari <em>backpacker</em> Sangatta, yang kebetulan mendampingi. Setidaknya kami harus berjalan kaki sekitar 20 menit.</p>
<p>Kala itu mentari sedang terik-teriknya. Kulit kami terasa dibakar surya. Tapi kaki harus tetap melangkah. Enggan berjalan artinya tak akan tiba di Batu Lapis.</p>
<p>Medan yang dilalui menukik. Dengan jalan yang sepenuhnya masih tanah. Agak becek juga karena sebelumnya Kaliorang diguyur hujan.</p>
<p>Setidaknya bagi saya, jalan menurun tak terlalu berat. Yang bikin lelah karena ada <em>carrier</em> di punggung. Dan beberapa barang mesti ditenteng tangan. Sisanya, saya masih bisa menikmati perjalanan. Hijaunya pepohonan di kanan kiri jalan bikin hati rasanya damai.</p>
<p>Sekitar 20 menit jalan kaki, kami tiba di gerbang memasuki Batu Lapis. Bisa dibilang ini mirip gerbang rimba juga. Karena kami benar-benar membelah hutan. Sisanya, kami tenggelam di dalamnya.</p>
<p>Tiba di Batu Lapis, kami langsung disuguhkan aliran air yang mengadang tepat di depan mata. Sebab aliran itu pula yang mesti kami belah untuk kemudian sampai di <em>spot camping</em>.</p>
<p>Kalau lihat bentang alam di sekitar, tak sukar menerka mengapa tempat ini dinamai &#8220;Batu Lapis&#8221;. Karena seperti namanya, jejalan bebatuan membentang, sepanjang aliran sungai. Bebatuan tersebut terpahat alami, banyak guratan-guratan di badannya. Serupa betul dengan kue lapis yang setengahnya sudah digigit. Sementara di kanan kiri bebatuan, pohon-pohon menjulang tinggi.</p>
<p>Dengan kontur tanah tak rata, aliran air jatuh dalam tingkatan berbeda. Jadi terbentuk semacam air terjun mini di beberapa titik.</p>
<p>Kemudian <em>spot camping</em>. Lokasinya tepat di tepi aliran air. Melihat kontur tanah sekitar, lebih disarankan membawa <em>hammock</em> saja sebagai tempat istirahat. Bisa bawa <em>dome</em>, tapi terbatas. Paling banter cuma bisa berdiri dua <em>dome</em> masing-masing berukuran 2&#215;2 meter.</p>
<p>Batu Lapis bisa dikatakan masih alami. Kendati tak sedikit yang sudah menjamah tempat ini. Bukti masih terjaganya alam sekitar, bisa dilihat dari air yang mengalir. Airnya jernih. Benar-benar dari hujan yang mengguyur hutan. Bahkan bisa dikonsumsi langsung. Tak berbau. Tak ada limbahnya.</p>
<p>Bagi kalian yang ingin menghilangkan sedikit beban usai menjalani rutinitas sehari-hari, tempat ini bisa jadi rekomendasi. Meski perlu jalan kaki dulu, tapi tak sukar dijangkau. Pun lokasinya terbilang masih di sisi luarnya hutan. Belum jantungnya.</p>
<p>Tapi tidak disarankan membawa anak kecil. Beberapa titik bebatuan berlumut. Licin ketika dilalui. Salah-salah bisa tergelincir kalau tidak fokus. Pun ada aliran air yang berbentuk kubangan cukup dalam. Sementara tak ada pembatas antara lokasi <em>camp</em> dan kubangan itu.</p>
<p>Oh ya satu lagi. Tempat ini masih asri. Jadi ketika <em>camping</em> jangan meninggalkan apapun. Sampah sisa makanan baiknya dibakar atau dibawa ketika meninggalkan lokasi <em>camp</em>.</p>
<p>Di tempat ini, kami hanya tinggal semalam. Sebab ada destinasi lain yang kami tuju. Tak jauh dari Batu Lapis. Masih di Kaliorang juga. Tempat itu cukup tersohor. Ia dikenal dengan Air Terjun Batu Putih. (bersambung)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/jelajah-hutan-kutim-1-menikmati-karya-seni-nan-agung-yang-terukir-di-bebatuan/">Jelajah Hutan Kutim (1): Menikmati Karya Seni Nan Agung yang Terukir di Bebatuan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
