<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>karst sangkulirang Arsip - Bontang Post</title>
	<atom:link href="https://bontangpost.id/tag/karst-sangkulirang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://bontangpost.id/tag/karst-sangkulirang/</link>
	<description>Mencerdaskan dan Menginspirasi</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Jun 2025 05:45:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2018/04/bp-cropped-favicon-bpost1-2-32x32.png</url>
	<title>karst sangkulirang Arsip - Bontang Post</title>
	<link>https://bontangpost.id/tag/karst-sangkulirang/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Karst Sangkulirang Disorot Menteri Kebudayaan, Ini Penjelasan Pemkab Kutim</title>
		<link>https://bontangpost.id/karst-sangkulirang-disorot-menteri-kebudayaan-ini-penjelasan-pemkab-kutim/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2025 05:45:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[karst sangkulirang]]></category>
		<category><![CDATA[karst sangkulirang mangkalihat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=139483</guid>

					<description><![CDATA[<p>BONTANGPOST.ID, Sangatta- Kawasan Karst Sangkulirang–Mangkalihat, Kutai Timur (Kutim) kini tengah menjadi perhatian nasional. Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyoroti potensi kerusakan yang mengancam salah satu situs prasejarah tertua di dunia itu akibat keberadaan industri semen di sekitarnya. “Gua Sangkulirang itu ada sekitar 58 gua, ada 2.500 lukisan-lukisan purba yang umurnya sampai 40.000 tahun. Di sekitaran [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/karst-sangkulirang-disorot-menteri-kebudayaan-ini-penjelasan-pemkab-kutim/">Karst Sangkulirang Disorot Menteri Kebudayaan, Ini Penjelasan Pemkab Kutim</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BONTANGPOST.ID, Sangatta- </strong>Kawasan Karst Sangkulirang–Mangkalihat, Kutai Timur (Kutim) kini tengah menjadi perhatian nasional. Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyoroti potensi kerusakan yang mengancam salah satu situs prasejarah tertua di dunia itu akibat keberadaan industri semen di sekitarnya.</p>
<p>“Gua Sangkulirang itu ada sekitar 58 gua, ada 2.500 lukisan-lukisan purba yang umurnya sampai 40.000 tahun. Di sekitaran situ ada pabrik semen. Ini yang bisa mengancam,” ujar Fadli.</p>
<p>Menanggapi hal tersebut, Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman, mengaku temuan arkeolog di kawasan itu telah menjadi perhatian, sejak penelitian gabungan Prancis dan ITB pada era 1990-an. Ia menyebut kawasan itu memiliki nilai arkeologi luar biasa.</p>
<p>“Saya tidak ingin mengomentari langsung pernyataan menteri, tapi hasil penelitian dari Prancis dengan ITB menunjukkan bahwa karst Sangkulirang itu memang memiliki tanda-tanda arkeologi yang luar biasa,” ujar Ardiansyah, Jum&#8217;at (13/6).</p>
<p>Ia mengungkapkan bahwa hingga kini Kutim masih menunggu tindak lanjut atas usulan pengakuan kawasan itu sebagai geopark nasional, yang menurutnya sudah diajukan sejak 2005. Bahkan, menurutnya, situs Karst tersebut memiliki kekhasan yang hanya ada di tiga lokasi di dunia.</p>
<p>“Ini yang belum di respons secara nasional. Nah, mudah-mudahan kalau Menteri Kebudayaan memberikan rasa tanggung jawabnya, saya berharap untuk segera menindaklanjuti yang dulu kita usulkan,” tegasnya.</p>
<p>Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim, Padliyansyah, menyatakan bahwa Pemkab Kutim berkomitmen dalam pelestarian kawasan Karst Sangkulirang–Mangkalihat.</p>
<p>Ia menyebut upaya pelestarian dilakukan melalui berbagai langkah strategis, mulai dari pengusulan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, integrasi dalam dokumen perencanaan daerah, penetapan sebagai kawasan lindung geologis dalam RTRW, hingga program edukasi publik.</p>
<p>“Perlindungan Karst Sangkulirang–Mangkalihat bukan hanya soal pelestarian alam dan budaya, tapi juga tentang menjaga jati diri kita sebagai masyarakat Kutai Timur dan memperkuat posisi daerah dalam diplomasi budaya dunia,” tegas Padliyansyah.</p>
<p>Ia menambahkan, saat ini Pemkab Kutim juga tengah menyusun Peraturan Daerah (Perda) perlindungan karst, mendorong pengembangan ekowisata berbasis konservasi, serta membentuk Forum Pelestarian Karst Kutai Timur sebagai wadah kolaborasi berbagai pihak. <strong>(juf/kp)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/karst-sangkulirang-disorot-menteri-kebudayaan-ini-penjelasan-pemkab-kutim/">Karst Sangkulirang Disorot Menteri Kebudayaan, Ini Penjelasan Pemkab Kutim</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gua Purba di Sangkulirang Kaltim Terancam Pabrik Semen, Menteri Kebudayaan Colek Bahlil</title>
		<link>https://bontangpost.id/gua-purba-di-sangkulirang-kaltim-terancam-pabrik-semen-menteri-kebudayaan-colek-bahlil/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Bontang Post]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2025 08:24:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kaltim]]></category>
		<category><![CDATA[karst kutim]]></category>
		<category><![CDATA[karst sangkulirang]]></category>
		<category><![CDATA[karst sangkulirang mangkalihat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=139247</guid>

					<description><![CDATA[<p>BONTANGPOST.ID, Sangatta &#8211; Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut gua-gua purba yang tersebar di berbagai daerah Indonesia terancam aktivitas tambang di sekitar situs-situs bersejarah tersebut. Oleh karena itu, Fadli melanjutkan Kementerian Kebudayaan saat ini mengkaji sekaligus memetakan gua-gua purba yang kelestariannnya terancam oleh aktivitas tambang, termasuk yang ada di Sulawesi dan Kalimantan. “Di Kalimantan, ada penambangan-penambangan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/gua-purba-di-sangkulirang-kaltim-terancam-pabrik-semen-menteri-kebudayaan-colek-bahlil/">Gua Purba di Sangkulirang Kaltim Terancam Pabrik Semen, Menteri Kebudayaan Colek Bahlil</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BONTANGPOST.ID, Sangatta &#8211; </strong>Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut gua-gua purba yang tersebar di berbagai daerah Indonesia terancam aktivitas tambang di sekitar situs-situs bersejarah tersebut.</p>
<p>Oleh karena itu, Fadli melanjutkan Kementerian Kebudayaan saat ini mengkaji sekaligus memetakan gua-gua purba yang kelestariannnya terancam oleh aktivitas tambang, termasuk yang ada di Sulawesi dan Kalimantan.</p>
<p>“Di Kalimantan, ada penambangan-penambangan itu yang mengancam gua-gua purba yang di dalamnya ada lukisan-lukisan purba yang umurnya puluhan ribu tahun. (Tambang, red.) ini juga sangat membahayakan,” kata Fadli menjawab pertanyaan wartawan pada sela-sela kegiatannya saat dia ditemui di Jakarta, Jumat, dikutip dari <i>Antara</i>.</p>
<p>Di Kalimantan Timur, tepatnya di kawasan karst di Kutai Timur, Gua Sangkurilang menjadi salah satu situs bersejarah yang disoroti oleh Fadli karena dinilai kelestariannya terancam oleh aktivitas pabrik semen di sekitar situs.</p>
<p>“Gua Sangkurilang itu ada sekitar 58 gua, ada 2.500 lukisan-lukisan purba yang umurnya sampai 40.000 tahun. Di sekitaran situ ada pabrik semen. Ini yang bisa mengancam,” sambung Fadli.</p>
<p>Gua Sangkurilang merupakan bagian dari ekosistem karst Sangkurilang-Mangkalihat yang luasannya mencapai 1,8 juta hektare. Di dalam ekosistem karsts itu, sekitar 326.000 hektare merupakan kawasan lindung geologi.</p>
<p>Di Gua Sangkurilang, yang merupakan bagian dari ekosistem karst Sangkurilang-Mangkalihat, keberadaan lukisan telapak tangan pada dinding-dinding gua merupakan bukti peradaban purba yang ada di kawasan karst di Kutai Timur, Kalimantan Timur, pada puluhan ribu tahun yang lalu.</p>
<p>Analisis dari para ahli kemudian menunjukkan lukisan tangan itu berusia 10.000 tahun hingga 40.000 tahun, yang menjadikan lukisan purba di Gua Sangkurilang sebagai seni di batu cadas tertua dunia.</p>
<p>Bahkan, seni purba di Sangkurilang diyakini lebih tua daripada lukisan purba serupa di Gua El Castillo, Spanyol.<br data-reader-unique-id="17" /><br data-reader-unique-id="18" />Tidak hanya berbentuk telapak tangan, lukisan-lukisan purba di Gua Sangkurilang juga ada yang mirip hewan-hewan seperti rusa, babi hutan, dan ada pula pola-pola geometris.</p>
<p>Kawasan karsts yang terdiri atas batuan kapur yang berpori (gamping) kerap menjadi sasaran untuk tambang semen, sebagaimana yang terjadi di Pegunungan Kendeng Utara di Rembang dan Pati, Jawa Tengah.</p>
<p>Tidak hanya Gua Sangkurilang, Kementerian Kebudayaan, sebagaimana disampaikan Fadli Zon, juga mengkaji situs-situs bersejarah lainnya yang terancam aktivitas tambang.</p>
<p>Untuk tahap awal, Fadli menyebut dirinya telah menyampaikan kekhawatirannya secara lisan kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.</p>
<p>“Ya secara lisan sudah (bicara dengan Menteri ESDM Bahlil, red.), tetapi kami sedang membuat kajiannya, lokasi, tempat, terutama yang di Kalimantan,” kata Menteri Kebudayaan Fadli Zon. <strong>(*)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/gua-purba-di-sangkulirang-kaltim-terancam-pabrik-semen-menteri-kebudayaan-colek-bahlil/">Gua Purba di Sangkulirang Kaltim Terancam Pabrik Semen, Menteri Kebudayaan Colek Bahlil</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jelajah Hutan Kutim (3): Air Panas Alami dari Perut Karst Sangkulirang</title>
		<link>https://bontangpost.id/jelajah-hutan-kutim-3-air-panas-alami-dari-perut-karst-sangkulirang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fitri Wahyuningsih]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Aug 2020 11:00:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Kaltim]]></category>
		<category><![CDATA[air panas batu lepoq]]></category>
		<category><![CDATA[karst sangkulirang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=78383</guid>

					<description><![CDATA[<p>bontangpost.id &#8211; Saya ini pemula betul. Beberapa waktu lalu coba menyusuri hutan Kalimantan Timur. Tepatnya Karst Sangkulirang dan Kaliorang. Masih bagian luarnya. Belum jantungnya. Melelahkan memang. Tapi saya mau tegaskan: hutan Kaltim magis! Adapun perjalanan ini diikuti awak media lintas daerah Samarinda dan Bontang; baik koran, daring, dan televisi. Perjalanan ini dilakukan selama 3 hari. [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/jelajah-hutan-kutim-3-air-panas-alami-dari-perut-karst-sangkulirang/">Jelajah Hutan Kutim (3): Air Panas Alami dari Perut Karst Sangkulirang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>bontangpost.id</strong> &#8211; Saya ini pemula betul. Beberapa waktu lalu coba menyusuri hutan Kalimantan Timur. Tepatnya Karst Sangkulirang dan Kaliorang. Masih bagian luarnya. Belum jantungnya. Melelahkan memang. Tapi saya mau tegaskan: hutan Kaltim magis!</p>
<p>Adapun perjalanan ini diikuti awak media lintas daerah Samarinda dan Bontang; baik koran, daring, dan televisi. Perjalanan ini dilakukan selama 3 hari. Mulai 26-29 Juni 2020. Ini bukan sekadar jalan-jalan. Tapi perjalanan jurnalistik. Tujuannya jelas: mengeksplor potensi yang ada di sekitar Karst Sangkulirang. Potensi apapun itu. Dan melaporkannya secara gamblang.</p>
<p>Meski terkesan mendadak, sejatinya perjalanan ini disiapkan serius. Tapi memang, tidak panjang. Cuma dalam waktu sepekan. Dan rombongan ini langsung tancap gas. Oh iya, sponsor utama perjalanan ini ialah Polres Kutim dan Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dispopar) Kutim.</p>
<p>Titik mulai di Bontang. Rombongan berangkat Kamis (25/6/2020) malam menuju Sangatta. Kami tiba sekitar pukul 23.00 Wita. Numpang tidur semalam di Home Base Sangatta Backpacker. Esok harinya (Jumat) ke Polres Kutim, ambil mobil, dan segera perjalanan panjang ini dimulai.</p>
<p>Kami tiba di Sangkulirang sekitar pukul 21.20 Wita. Mampir makan malam sebentar, lantas perjalanan dilanjutkan.<br />
Lokasi pertama yang kami sambangi ialah Pemandian Air Panas Batu Lepoq. Berlokasi di Desa Batu Lepoq. Kami tiba sekitar pukul 22.10 Wita. Cukup larut memang, namun ini tak menyurutkan semangat teman-teman untuk melihat pemandian air panas alami yang berasal dari perut karst itu.</p>
<p>Di sana, kami sudah disambut Kepala Adat setempat, Minggu. Pria 54 tahun ini sangat ramah. Ia antar kami menuju pemandian. Sembari itu, ia bercerita banyak hal. Soal upaya melestarikan karst. Soal sumber air panas itu. Soal tantangan mengembangkan objek wisata itu. Hingga apa saja kekurangannya. Semuanya. Pelan-pelan dan detil.</p>
<p>Kata Minggu, dia tahu soal potensi air panas itu kala berusia 14 tahun. Orangtuanya yang memberi tahu. Dengan tujuan, Minggu dan warga setempat menjaga dan merawatnya. Sebagai bagian dari warisan leluhur mereka.</p>
<p>&#8220;Warisan tetua kami, leluhur kami. Orangtua minta saya menjaganya,&#8221; ujar Minggu.</p>
<p>Wisata air panas ini dibuka 2016 silam. Usai kolam-kolam tempat menampung air panas dibangun. Usai jalan menuju air panas dibangun pemerintah.</p>
<p>Pemandian Air Panas Batu Lepoq dikelola secara kolektif oleh warga setempat. Minggu, selaku Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Batu Lepoq yang mengkomando pengelolaan. Namun tetap di bawah naungan Dispopar Kutim.</p>
<p>Tempat ini dibuka saban hari. Mulai pukul 09.00-16.00 Wita. Hanya dengan Rp 5 ribu rupiah, warga sudah bisa menikmati nikmatnya berendam di air panas alami ini. Bahkan sepuasnya. Sampai capai. Sampai pemandain tutup.</p>
<p>Catatan sedikit. Bukan karena namanya air panas, lantas ketika berendam airnya akan sepanas itu. Tentu tidak. Justru nikmat. Penat seketika hilang kala berendam. Juga, ketika ke tempat ini mesti hati-hati. Sebelum menuju kolam, pengunjung bakal menaiki tangga berbahan keramik. Masalahnya keramik itu basah terkena aliran air. Jadi hati-hati, jangan sampai tergelincir.</p>
<p>Ada dua kolam disediakan. Kolam untuk orang dewasa dengan ketinggian 1,5 meter. Dengan luas sekitar 4&#215;5 meter. Ada kolam untuk anak-anak. Posisinya di bawah. Luasan kolam sekira 3&#215;4 dengan kedalaman 30-40 sentimeter.</p>
<p>Cuma untuk ganti pakaian yang agak ribet. Karena cuma ada 3 kamar ganti, jadi siap-siap menunggu giliran kalau mau ganti baju basah.</p>
<p>Lokasi pemandian yang berada tepat di pinggir jalan membuatnya mudah diakses warga. Itu sebabnya, terlebih di akhir pekan, pengunjung bisa membeludak. Bahkan sampai 1.000 orang. Mereka berasal dari daerah sekitar. Katakanlah Berau, Kaliorang, Kaubun, bahkan Sangatta dan Bontang.</p>
<p>Lepas berbincang dengan Minggu, rombongan kami juga tak sabar menikmati sensasi berendam di air hangat ini. Terlebih kami baru saja menjalani perjalanan nan panjang. Dan akan ada perjalanan lain yang membentang esok harinya. Tak butuh lama, langsung lepas baju dan jeans, teman-teman langsung cebur. Itu buat jurnalis pria, ya. Yang cewek, sedikit ribet. Ganti-ganti baju. Termasuk saya.</p>
<p>Cerita ini berlanjut. Air Panas Batu Lepoq memang menggoda. Bikin kami susah beranjak dari kolam. Tapi sekalinya, ada yang lebih menggoda, memanggil-manggil dari kejauhan. Tak lain: puncak Karst Sangkukirang. (bersambung).</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/jelajah-hutan-kutim-3-air-panas-alami-dari-perut-karst-sangkulirang/">Jelajah Hutan Kutim (3): Air Panas Alami dari Perut Karst Sangkulirang</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
